LANGIT7.ID, Jakarta -
Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan salah pelopor pondok modern di Indonesia. Gontor kini jadi kiblat Pondok Modern di seluruh Indonesia.
Cikal bakal Gontor berawal dari berdirinya pondok pesantren bernama Pondok Tegalsari. Pondok Pesantren Tegalsari didirikan Kanjeng Kiai Hasan Bashari atau Kiai Kasan Besari sekitar abad ke-18.
Pondok Gontor berawal dari kiprah Sulaiman Djamaluddin, salah seorang santri Tegalsari yang dijadikan menantu oleh Kyai Besari. Dia mendirikan pesantren untuk meneruskan perjuangan Kyai Besar di Desa Gontor, yang kemudian dikenal dengan Pondok Gontor Lama.
Lalu, pada 1926, Trimurti yang terdiri dari tiga bersaudara yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi kembali ke Gontor untuk membangun kembali Pondok Gontor. Dari sentuhan tangan Trimurti, Pondok Gontor berkembang.
Baca Juga: Profil Pesantren Modern Gontor, Begini Sejarah SingkatnyaPimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, MA, menceritakan, sejak saat itu, Trimurti memperkenalkan sistem pendidikan modern di pondok pesantren. Mereka mereformasi pola pendidikan dengan menggabungkan sistem tradisional dan modern.
“Sejak 1926, dimulailah juga sistem pendidikan pondok pesantren modern. Dari segi apanya, modern dari sistem pendidikannya, bukan dari ajaran. Dari segi ajaran, Gontor adalah menganut mazhab ahlus sunnah wal jamaah, yang pengertiannya memadukan antara salaf dan khalaf,” kata Kiai Amal dalam webinar yang digelar Akademi Hikmah Channel, Jumat (30/9/2022).
Sistem pendidikan modern di Gontor memiliki wajah sendiri. Dalam artinya, kata KH Amal, seluruh buku-buku diajarkan secara madrasi, sistematik, terorganisir, dan terstruktur. Model pembelajaran pun demikian. Seperti dirasah islamiyah dengan memakai pola sistematik, referensif, dan efesien.
“Kita perlu ketahui bahwa di zaman dahulu seluruh pondok pesantren bersifat tradisional, salafiyah. Dalam artian, sekolah belajar agama adalah memakan waktu yang lama sekali. Karena dengan sistem pengajaran nahwu saraf harus hafal alfiah, imriti, dll. Itu Sudah memakan waktu lama. Belum belajar dari bahasa itu sendiri,” kata Kiai Amal.
Baca Juga: KH Imam Zarkasyi Modernis Pesantren Berdarah Ningrat Kerajaan
Di sisi lain, Pondok Modern Darussalam Gontor juga memadukan pendidikan ekstrakurikuler, intrakurikuler, dan kokurikuler. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Arab dan bahasa Inggris. Semua santri wajib menguasai dua bahasa ini.
Bahasa Arab diperlukan untuk membuka pintu-pintu ilmu agama. Sementara, bahasa Inggris diperlukan untuk mengetahui ilmu-ilmu umum. Lalu, ekstrakurikuler dan intrankurikuler maupun kokurikuler dirancang sedemikian rupa dengan berbagai aktivitas. Di antaranya olahraga, kesenian, hingga pendidikan keterampilan
“Yang ekstra ini juga diusahakan dalam artia apa, supaya para santri itu waktu belajar digunakan dengan maksimal mungkin, dan kita bekali semaksimal mungkin, yang mana bekal-bekal itu akan didapatkan nanti di masyarakat,” kata Kiai Amal.
Baca Juga: Yakini Kualitas Pendidikan PMDG, Kakek sampai Cucu Nyantri di Gontor
Pola pendidikan ini sangat membantu para santri saat menjadi alumni nanti. Ilmu yang sudah didapatkan bisa diterapkan saat terjun ke tengah masyarakat.
“Bekal-bekal itulah yang akan mengantarkan santri nanti kalau sudah terjun ke masyarakat,” ujar Kiai Amal.
(jqf)