LANGIT7.ID, Jakarta - Peneliti Senior Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr Henri Shalahuddin, mengungkapkan, kiprah
Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) tak bisa diragukan lagi untuk umat dan bangsa.
Henri merupakan lulusan
Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor dan lulus pada 1995. Dia lalu menyelesaikan gelar sarjana Ushuluddin di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor pada 1999.
Bisa dibilang, Henri berasal dari keluarga lulusan Gontor. Ayah Henri juga merupakan lulusan Gontor yang lulus pada 1960. Merasa yakin dengan kualitas pendidikan KMI, saudara-saudara Henri juga nyantri di Gontor. Dua kakaknya lulus pada 1989 dan satunya lagi pada 1990.
Baca Juga: 7 Pejabat Publik Alumni Gontor, dari Eksekutif hingga Yudikatif
“Saya baru meninggalkan PMDG pada 2000 setelah menamatkan S1 ISID Gontor (sekarang UNIDA) dan mengemban tugas mengajar selama 5 tahun (totalnya 11 tahun di PMDG). Di samping mendapatkan ilmu dan pendidikan, alhamdulillah dianugerahi rizki jodoh lulusan PMDG Putri Mantingan,” kata Henri melalui keterangan tertulis, Jumat (9/9/2022).
Tradisi itu rupanya dilanjutkan Henri dan saudaranya. Putra sulung Henri yang kala itu duduk di kelas 10 di International Islamic School di Istanbul, dia pindahkan ke Gontor.
“Demikian juga putra kakak saya saat ini juga nyantri di PMDG. Jadi di keluarga besar kami saat ini yang nyantri di PMDG adalah generasi ketiga, yakni anak dan keponakan saya,” ujar Henri.
Gontor memang dikenal dengan sejumlah keunggulan seperti kedisiplinan, keikhlasan, dan keberkahan. Itu tak terlepas dari falsafah kuat yang dipegang Trimurti yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi.
Lalu, pada 1958, ketiga pendiri tersebut mewakafkan Gontor untuk umat Islam. Artinya, para pendiri dan keturunannya tidak bisa mengklaim Gontor sebagai hak kekayaan mereka.
Baca Juga: Gontor Tak Terafiliasi Ormas Apapun, tapi Alumninya Pimpin NU dan Muhammadiyah
Di sisi lain, terdapat tiga lembaga pendidikan dunia yang menjadi dasar acuan Gontor dalam mendidik para santri. Salah satunya Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.
Selain keikhlasan, Gontor memiliki lima panca jiwa yakni kesederhanaan, kemandirian, persatuan, dan kebebasan. Falsafah tersebut yang membuat Gontor menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka di Tanah Air.
“Dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, termasuk ujian yang sedang dihadapinya saat ini, kami masih tetap yakin bahwa PMDG merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam terbaik di Dunia Islam saat ini dan mampu terus berproses menuju kebaikan dan perbaikan,” tutur Henri.
(jqf)