Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home sosok muslim detail berita

Gontor Tak Terafiliasi Ormas Apapun, tapi Alumninya Pimpin NU dan Muhammadiyah

Muhajirin Kamis, 08 September 2022 - 18:51 WIB
Gontor Tak Terafiliasi Ormas Apapun, tapi Alumninya Pimpin NU dan Muhammadiyah
Tiga alumni Pondok Modern Darussalam Gontor yang pernah memimpin Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah (foto: berbagai sumber)
LANGIT7.ID - Pondok Modern Darussalam Gontor adalah pesantren yang tidak terafiliasi ke ormas Islam atau golongan manapun di Indonesia. Artinya Gontor berdiri di atas dan untuk semua golongan.

Pilihan tidak berafiliasi ke partai, organisasi, dan golongan membuat Gontor bisa menjadi perekat umat, bebas dari tarik-menarik kepentingan, dan fokus pada aktivitas pendidikan.

Namun, bukan berarti Gontor melarang alumninya bergabung ke ormas Islam. Bahkan alumni Gontor telah berkiprah memimpin dua ormas Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

1. KH Idham Chalid (Ketum PBNU 1956-1984)

Gontor Tak Terafiliasi Ormas Apapun, tapi Alumninya Pimpin NU dan Muhammadiyah


KH Idham Chalid merupakan salah satu politisi yang berpengaruh pada masa orde lama dan orde baru. Dia lahir di Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1921.

Semasa kecil, dia bersekolah di SR lalu pada 1922 melanjutkan pendidikan di Ar-Rasyidiyah. Setelah tamat dari sekolah itu, dia meneruskan studi di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Baca Juga: 7 Pejabat Publik Alumni Gontor, dari Eksekutif hingga Yudikatif

Di Gontor, dia tidak hanya belajar dan mendalami ilmu agama, bahasa Arab, dan bahasa Inggris, tapi juga mendalami bahasa Jepang, Jerman, dan Prancis.

KH Idham Chalid lulus dari Gontor pada 1943 lalu melanjutkan pendidikan ke Jakarta. Kemampuan berbahasa Jepang membuat Idham menjadi penerjemah pemerintah Jepang saat menduduki Indonesia saat bertemu dengan alim ulama.

Dari beberapa pertemuan, dia akhirnya dekat dengan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Hingga pada 1952, dia memutuskan untuk bergabung dengan Partai NU dan langsung menjadi ketua PB Ma’arif, salah satu organisasi sayap NU yang bergerak di bidang pendidikan.

Pada tahun-tahun berikutnya, dia diamanahkan banyak jabatan di NU. Dia menjadi Ketua Lajnah Pemilihan Umum NU pada 1955, Anggota Majelis Pertimbangan Politik PBNU pada 1955, dan menjadi Ketua PBNU terlama yakni selama periode 1956-1984.

2. KH Hasyim Muzadi (Ketum PBNU 2000-2010)

Gontor Tak Terafiliasi Ormas Apapun, tapi Alumninya Pimpin NU dan Muhammadiyah


Setelah lulus SMP, Hasyim remaja dikirim oleh sang ayah ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Dia menjadi santri di Gontor selama enam tahun dari 1956-1962.

Baca Juga: Abdullah Azwar Anas, Anak Kiai Kampung Jadi MenPAN-RB

Setelah lulus dari Gontor, pemilik nama lengkap KH Ahmad Hasyim Muzadi itu aktif di Nahdlatul Ulama. Pria kelahiran 8 Agustus 1944 itu pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dia juga menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur.

Sederet aktivitas organisasi dia lakoni daerah basis NU. Dia pernah memimpin di Organisasi kepemudaan Gerakan Pemuda Ansor (GP-Ansor) dan organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Itu yang menjadi modal kuat Hasyim untuk terus berkiprah di NU.

kiprah organisasinya mulai dikenal pada 1992 saat terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur. Itu menjadi batu loncatan untuk menjadi ketua PBNU pada tahun 2000.

3. Prof Din Syamsuddin (Ketum PP Muhammadiyah 2005-2015)

Gontor Tak Terafiliasi Ormas Apapun, tapi Alumninya Pimpin NU dan Muhammadiyah


Prof KH Muhammad Sirajuddin Syamsuddin merupakan tokoh Muhammadiyah yang pernah mengenyam pendidikan di Nahdlatul Ulama. Dia menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015.

Kala Din Syamsuddin memimpikan Muhammadiyah, di saat yang sama rekan se-almamater dari Gontor yakni KH Hasyim Muzadi juga sedang memimpikan Nahdlatul Ulama.

Baca Juga: Mengabdi untuk NKRI, Alumni Ngruki Jadi AKBP, TNI hingga Profesor

Intelektual dan ilmu agama yang dimiliki pria asal Sumbawa ini mengantarkannya tampil di pentas nasional dan internasional. Din Syamsuddin lahir di Sumbawa, NTB pada 31 Agustus 1958.

Masa pendidikan dasar dan menengah diselesaikan di Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Nahdlatul Ulama (NU) Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Setelah itu, dia hijrah ke Jawa Timur. Dia mondok di Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur pada usia 17 tahun. Dia menyelesaikan pendidikan di pesantren tersebut pada 1975.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)