LANGIT7.ID-Jakarta; Penyusunan peta jalan jangka panjang menjadi sorotan dalam rapat internal Nahdlatul Ulama yang digelar di Jakarta. Fokus utama yang ditekankan adalah pentingnya strategi yang jelas agar arah organisasi tetap terjaga dalam 25 tahun ke depan.
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menilai roadmap tidak cukup hanya berisi target dan rencana program. Menurutnya, organisasi sebesar NU membutuhkan fondasi strategi yang matang agar mampu menghadapi tantangan jangka panjang secara terstruktur.
Dalam Rapat Harian Tanfidziyah di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (22/4), ia menegaskan pentingnya pembenahan dari sisi internal organisasi terlebih dahulu. "Maka kalau kita berbicara soal transformasi, maka pertama-tama dari hal itu adalah konsolidasi struktur organisasi. Dan ini saya minta dirinci dengan elemen-elemennya, terutama soal desain tata kelola, desain soal kaderisasi," katanya, dilansir dari situs NU, Kamis (23/4/2026).
Ia juga menekankan bahwa pendekatan strategis harus menjadi inti dari penyusunan roadmap tersebut, bukan sekadar daftar keinginan organisasi ke depan. "Yang sangat mendasar dan saya minta dimasukkan di dalam peta jalan ini, yaitu soal pendekatan strategis. Jadi, bukan soal nanti bagaimana dan kita mau apa, bukan hanya sampai ke situ, tapi kita membangun strategi macam apa untuk bisa menangani tantangan terkait road map 25 tahun ini," katanya.
Gus Yahya menggambarkan luasnya cakupan NU yang mencakup berbagai lapisan, mulai dari struktur organisasi hingga jaringan layanan seperti pesantren, madrasah, rumah sakit, perguruan tinggi, dan unit usaha di tingkat cabang. Kondisi ini membuat penyusunan roadmap harus mempertimbangkan keseluruhan ekosistem organisasi.
Ia mengingatkan bahwa tanpa arah yang terkoordinasi, organisasi berisiko kehilangan identitas di tengah masyarakat. "Kalau tidak, NU-nya akan terdistorsi ke dalam masyarakat tanpa ada kejelasan lagi sebenarnya apa makna kehadirannya," katanya.
Selain itu, sistem kaderisasi juga dinilai perlu terus dikembangkan agar tetap relevan dengan kebutuhan masa depan. Menurutnya, pembahasan roadmap tidak boleh berhenti pada program-program tertentu saja, melainkan harus mencakup seluruh lanskap organisasi. "Bukan hanya soal program terkait ini atau program itu, tapi keseluruhan lanskap NU yang ada," terangnya.
(lam)