LANGIT7.ID, Jakarta - Ada 5
tips untuk pebisnis muda. Kiat-kiat ini mesti diterapkan agar usaha bisa berkembang, dan jangan selalu mementingkan ego dalam mengambil keputusan.
Bisnis harus tetap berjalan sesuai jalurnya. Tapi terkadang
pebisnis muda kerap mengambil keputisan fatal yang malah mengganggu usaha tersebut.
Ego tinggi pebisnis membuat mereka kerap menyalahkan orang-orang di sekitar. Padahal hal ini justru akan membuat profesionalitas kerja para pegawai tersendat.
Keputusan yang diambil dalam bisnis tidak boleh dilakukan berdasarkan ego semata. Namun juga perlu melalui perhitungan dan pertimbangan matang.
Baca Juga: Cara Berhitung ala Pebisnis, Jusuf Hamka: Jangan 1+1=2Melansir
entrepreneur.com, berikut 5 tips bisnis agar Sahabat tidak salah langkah dalam mengambil keputusan.
1. Jangan asal pecat karyawan Sahabat tidak bisa asal memutuskan untuk memecat karyawan, sekalipun memang terbukti kinerja mereka cukup buruk. Pasalnya, kinerja buruk terkadang menjadi penilai subjektif dari para pemilik bisnis.
Jadi biasakan Sahabat bisa menjadi pendengar yang baik akan tantangan kerja yang mereka hadapi. Kemudian, cobalah beri mereka solusi untuk menyelesaikannya.
2. Sumber masalah bisa berasal dari pemilik bisnisMasih melanjutkan poin pertama di atas, alasan Sahabat tidak boleh asal memecat karyawan karena bisa jadi masalah yang timbul berasal dari Sahabat sendiri sebagai pemilik bisnis.
Seperti pepatah mengatakan, bila terjadi masalah, masa solusi pertama yang harus ditemui adalah cermin. Artinya sebelum menilai kinerja buruk orang lain, Sahabat harus lebih dulu bercermin dan menilai diri sendiri.
3. Kurangi kata "ya" dan "tidak"Sebagai pemilik bisnis, Sahabat harus bisa mengurangi untuk mengucapkan kata "ya" dan "tidak". Sebab, kedua kata ini seringkali menjebak dan menjerumuskan.
Untuk itu, Sahabat harus sebisa mungkin variatif dalam menyampaikan pendapat. Belajarlah untuk mengatakan banyak hal, juga fokus dan tegaslah untuk memperjelas apa yang menjadi tujuan bisnis Sahabat kepada para karyawan.
4. Dengarkan pelangganMungkin karyawan akan takut bila harus memberikan penilaian, tapi cobalah dengan para pelanggan Sahabat. Mereka akan dengan sukarela dan jujur menyampaikan apa yang dirasakan, baik pada pelayanan, kualitas produk, dan pengalaman mereka.
5. Pahami transparansiSahabat harus tahu kapan harus memberikan transparansi dan kapan Sahabat tidak harus transparan. Sebab, terkadang transparansi hanya akan memunculkan persepsi ketidakadilan di mata para karyawan.
Jadi, jangan sampai transparansi justru akan mengganggu ritme kerja dan produktivitas para karyawan. Untuk itu, Sahabat harus tahu tahu kapan dan dengan siapa melakukannya.
(bal)