LANGIT7.ID, Jakarta - Presiden FIFA Gianni Infantino bertandang ke Indonesia bertemu Presiden Joko Widodo dan PSSI membahas transformasi sepak bola nasional. Transformasi yang dimaksud adalah perbaikan infrastruktur, manajemen pertandingan hingga masalah pendidikan sepak bola.
Presiden FIFA mengatakan, alasan utama ia datang ke Indonesia adalah karena
Tragedi Kanjuruhan. Insiden pada Sabtu (1/10/2022) yang menimbulkan 132 korban meninggal tercatat sebagai peristiwa terkelam dalam sejarah sepak bola Indonesia dan Asia.
"Saya datang ke Indonesia juga untuk menjanjikan kerja sama antara FIFA, AFC, dan pemerintah memastikan hal ini tidak akan terjadi lagi di masa depan, menganalisa segala hal untuk merancang apa yang perlu dilakukan untuk ke depannya dalam memperbaiki hal ini," ucap Gianni Infantino dilansir laman resmi PSSI, Rabu (19/10/2022).
Baca juga: Jokowi: FIFA akan Benahi Fasilitas Sepak Bola Indonesia Pada Kamis silam (13/10/2022), PSSI, FIFA, AFC, dan perwakilan pemerintah telah menggelar pertemuan di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta. Dari pertemuan itu, disepakati dibentuknya Satuan Tugas (Satgas) Transformasi Sepak Bola Indonesia.
Presiden Joko Widodo usai bertemu dengan Presiden FIFA pada Selasa (18/10/2022) kemarin mengatakan salah satu tujuan kerja sama dengan FIFA adalah standardisasi stadion, termasuk Stadion Kanjuruhan. Jokowi memastikan bahwa markas Arema FC itu bakal diruntuhkan.
"Tadi saya juga menyampaikan dan FIFA mengapresiasi untuk Stadion Kanjuruhan di Malang, juga akan kita runtuhkan dan kita bangun lagi sesuai dengan standar FIFA. Sebagai contoh stadion standar stadion dengan fasilitas-fasilitas yang baik, menjamin keselamatan penonton dan pemain dan juga untuk suporter," kata Jokowi kepada wartawan di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.
Fokus transformasi sepak bola pemerintah-FIFA terhadap fasilitas bertolak belakang dengan kesimpulan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dibentuk pemerintah sendiri.
Kesimpulan pertama TGIPF menyimpulkan bahwa Tragedi Kanjuruhan terjadi akibat PSSI dan para pemangku kepentingan liga sepak bola Indonesia tidak profesional. Mereka dinilai tidak memahami tugas dan peran masing-masing, cenderung mengabaikan berbagai peraturan dan standar yang sudah dibuat sebelumnya, serta saling melempar tanggungjawab pada pihak lain.
Baca juga: Jokowi: Stadion Kanjuruhan Bakal Diruntuhkan dan Dibangun Ulang “Sikap dan praktik seperti ini merupakan akar masalah yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun dalam penyelenggaraan kompetisi sepak bola kita,” dikutip dokumen TGIPF.
Hasil temuan Tim Evaluasi Teknis Keandalan Bangunan Gedung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat memang menyatakan Stadion Kanjuruhan Malang tidak layak. Namun, ketidaklayakan tersebut menjadi faktor sekian penyebab tewasnya 132 orang.
Menkopolhukam sekaligus Ketua TGIPF, Mahfud MD menegaskan, penyebab ratusan nyawa meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan, Malang pada 1 Oktobter 2022 adalah akibat gas air mata. Dalam cuplikan yang diambil dari CCTV, banyak suporter saling berdesakan di pintu keluar karena menghindari gas air mata yang ditembakkan aparat polisi.
"Jadi, itu lebih mengerikan dari sekadar semprot mati, semprot mati gitu. Ada yang saling gandengan untuk bisa keluar bersama, satu bisa keluar, yang satu tertinggal, yang di luar balik lagi untuk menolong temannya terinjak-injak mati,” kata Mahfud Jumat silam.
TGIPF sendiri meletakkan rekomendasi perbaikan stadion pada poin-poin terakhir yang diharapkan bisa dilaksanakan dengan baik oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pada poin pertama, TGIPF justru menyoroti tanggung jawab etik dan moral para pengurus PSSI, PT LIB, dan profesionalits panitia penyelenggara.
(sof)