LANGIT7.ID - Rumah bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah semesta mikro tempat aktivitas manusia dan keluarganya bermula. Keamanan, kenyamanan, kebersihan dan kesehatan harus hadir di sana.
Terlebih ketika pandemi, rumah menjadi tempat berlindung terakhir manusia. "Saat orang dipaksa untuk lebih lama tinggal di rumah dari biasanya, itu menunjukkan, sebenarnya rumah itu adalah sanctuary," kata Sekjen Ikatan Arsitektur Indonesia, cabang DKI Jakarta, Ariko Andikabina kepada
Langit7.id pekan lalu.
Berfungsi sebagai suaka terakhir, imbuhnya, sudah seharusnya rumah dibangun untuk memenuhi syarat tersebut. "KIta (para arsitek-red) sejak dari bangku kuliah belajar bahwa salah satu yang utama dari rumah yakni penghawaan yang baik, dan itu harus alami," ujarnya.
"Rumah mesti didesain memiliki ventilasi silang. Aturan bahwa udara yang masuk harus bisa keluar itu baku. Udara sebisa mungkin tidak macet di dalam," tutur arsitek profesional yang berpraktik hampir 20 tahun itu. Bila dirancang seksama, rumah di lahan terbatas pun mampu memiliki sirkulasi udara sehat.
(Rumah di Batam rancangan Ariko Andikabina. Foto Worldarchitecture)"Kita mesti menyadari sirkulasi udara secara alami lebih menyehatkan. Udara yang masuk diseleksi lalu dikeluargan lagi, justru penggunaan AC yang harus dibatasi," ujarnya. Apalagi kala pandemi disebabkan virus korona yang menyerang sistem pernafasan, yakni paru-paru.
Ia menyoroti penggunaan AC yang sudah menjadi budaya di masyarakat perkotaan Ariko juga menyayangkan perilaku menghabiskan lahan untuk bangunan rumah dan malah menggantungkan sirkulasi udara pada mesin pendingin udara.
Rumah besar namun hanya memiliki satu pintu dan beberapa jendela, tak sedikit dijumpai di kota besar. "Akhirnya karena pandemi pula, orang dipaksa untuk mengurangi pemakaian AC. Ini sulit bagi yang terbiasa, tapi harus dilakukan," ujarnya. Ketika salah satu anggota keluarga harus menjalani isolasi mandiri, tetap menyalakan AC sama dengan menyebarkan virus lebih merata ke seluruh rumah.
Desain yang sehat yakni ketika rumah menjalankan fungsi sebagai pendingin pasif dari sirkulasi udara yang terencana. Lebih baik lagi ketika semua ruang memiliki akses untuk memasukkan udara.
![Jangan Sepelekan Sirkulasi Rumah, Suaka Akhir Kala Pandemi]()
(
: LangitFoto7.id/Istock)Rancangan yang tepat justru jauh lebih ramah di kantong. Biaya selesai di awal, tak perlu lagi keluar uang untuk ongkos beli AC dan listrik bulanan.
Rumah juga sebisa mungkin mesti menghindari ruang negatif. Apa itu? Ruang kosong yang tidak dimanfaatkan.
Memang, kata Ariko, tantangan terbesar muncul dari perumahan padat dengan lahan terbatas. "Tapi itu bukan tidak mungkin," ujarnya. Meski diakui sebagian besar rumah-rumah kecil yang akrab disebut rumah petak, kerap hanya memiliki pintu sebagi satu-satunya akses udara masuk.
"Perlu kerja keras dari semua pihak, tidak hanya para arsitek, melainkan juga pelaku kebijakan, hingga developer untuk menyediakan rumah sehat bagi masyarakat," ujarnya.
(arp)