LANGIT7.ID - , Jakarta - Menang sebagai "Best Actor in a Supporting Role" lewat film Moonlight di ajang
Oscar 89th Academy tahun 2017 silam, membawa
Mahershala Ali sebagai aktor muslim pertama yang menerima penghargaan bergengsi tersebut.
Di samping itu, film yang dibintangi Mahershala ini mendapat pujian kritis dari para penikmatnya. Sebab, Moonlight termasuk film bergenre dewasa, yang mengangkat tema toxic
maskulinitas,
seksualitas dari seorang pria berkulit hitam.
Saat menyampaikan pidato kemenangan, Mahershala menekankan pentingnya empati pada penganiayaan yang menjadi fokus dalam filmnya itu. Karakter Juan, perannya dalam Moonlight, digambarkan sebagai pria muda yang tak berdaya pada dirinya sendiri akibat penganiayaan dari komunitasnya.
Baca juga: Gaya Fesyen Lima Aktor Saat Berperan sebagai SantriMahershala mengaku mengambil peran itu untuk mengangkat isu dasarnya dan memberitahukan bahwa sosok seperti Juan juga sangat penting. Dalam pidatonya, Mahershala berharap empati harus dilakukan lebih baik di masa mendatang.
“Ada kesempatan untuk melihat tekstur yang dimiliki seseorang, yaitu sebuah karakteristik yang membuat mereka unik,” ucap Mahershala.
Namun di sisi lain, menurut Mahershala, ada kesempatan di mana kita bisa memperjuangkan isu tersebut – serta dapat mengatakan kepada orang-orang yang berbeda dengan kita, bahwa kita tidak menyukainya.
Dia pun mengaitkan masalah perbedaan tersebut dengan kisahnya sendiri. Sang ibu adalah seorang pendeta, sementara Mahershala adalah seorang mualaf. Dia mengaku ibunya sangat tidak setuju saat dirinya memilih menjadi seorang muslim.
“Tetapi saya mengatakan kepada kalian, bahwa kami berdua telah menyampingkan hal itu, dan sekarang kami saling mencintai satu sama lain” ucap Mahershala.
Kemenangan Mahershala di ajang Oscar sangatlah penting. Di samping dia menjadi satu-satunya aktor berkulit hitam yang dinominasikan di ajang tersebut, setelah dua tahun lamanya tidak ada aktor berkulit hitam.
Baca juga: Cerita Sukses Youtuber Muslim Inggris-Somalia, Chunkz: Langit Adalah BataskuNamun, kemenangan itu sekaligus menunjukan sebuah fakta, bahwa interseksionalitas sangat penting. Karena acara penghargaan tidak akan benar-benar inklusif sampai mereka menghormati orang-orang dari semua identitas, termasuk ras, jenis kelamin, seksualitas, dan agama.
Representasi tidak hanya terbatas pada satu identitas saja seperti orang berkulit hitam dan muslim. Mereka juga berhak terwakili baik di layar maupun di atas panggung.
Bagaimanapun, tahun 2017 merupakan tahun yang kurang baik bagi iklim politik Amerika. Sebab tahun itu dipenuhi dengan retorika terbuka dari presiden baru mengenai Islamphobia. Serta tindakan-tindakan eksklusif menghalangi tujuh negara dengan mayoritas muslim memasuki negara Amerika.
Meskipun kemenangan Oscar jelas bukan merupakan obat untuk semua isu yang sedang terjadi, namun penghargaan tersebut merupakan salah satu wujud representasi pada malam ajang terbesar di Hollywood.
Baca juga: Kisah Ramla Ali dari Pengungsi Somalia, Korban Bullying, hingga Atlet Tinju(est)