LANGIT7.ID, Jakarta - Takmir masjid harus memiliki 5 karakter ini. Sebab bila dikelola dengan benar dan serius, masjid bukan hanya akan makmur, tapi juga memakmurkan masyarakat sekitar.
Ketua Departemen Dakwah PP Dewan Masjid Indonesia (DMI), Ahmad Yani mengatakan bahwa masjid hanyalah bangunan fisik. Kebermanfaatannya bergantung pada jamaah dan pengurus yang mengelola masjid.
Bila dikelola dengan benar, masjid akan makmur dan memakmurkan masyarakat di sekitarnya. Hanya saja, pengelolaan masjid harus benar-benar digarap serius dan diisi oleh orang-orang yang benar-benar mencintai masjid.
BACA JUGA: HUT ke-76 RI, DMI: Momen Gelorakan Cinta kepada Masjid“Mulailah dengan rasa cinta kepada masjid. Kalau sudah mencintai masjid kebangkitan umat akan mudah digapai. Ada lima tanda cinta yang harus kita tunjukkan,” katanya dalam seminar virtual bertajuk Semangat Hijrah Kebangkitan dari Bangsa dan Masjid, Rabu (18/8/2021) di yang disiarkan Sentramasjid Tv.
Lima karakter yang seseorang pengurus masjid bermula dari menanamkan rindu kepada masjid. Ahmad Yani mengilustrasikannya seperti ikan di dalam air. Ikan selalu asyik dan senang karena berada pada tempatnya.
Kedua, memiliki rasa tanggung jawab. Kalau sudah muncul rasa tanggung jawab, maka berkorban apapun demi kepentingan masjid akan mudah.
“Sekarang banyak orang tidak punya tanggung jawab bahkan pengurus masjid sekalipun. Saya suka bertanya ke takmir masjid. Kalau kita tanya struktur kepengurusannya 30 orang, tapi yang ngurusin masjid sehari-hari hanya tiga sampai lima orang,” tuturnya.
Kemudian yang ketiga mau berkorban untuk masjid. Baik berkorban dengan waktu, harta, tenaga, dan pikiran. Saat ini, katanya, banyak orang merasa tidak punya waktu mengurus masjid.
“Ngurus masjid jangan menunggu waktu pensiun, mengurus masjid meskipun sibuk. Tidak harus sepenuh waktu, tapi sepenuh jiwa. Kalau sudah sepenuh jiwa waktunya ada,” imbuhnya.
Keempat, senantiasa menghormati masjid. Karenanya Rasulullah menganjurkan shalat tahiyatul masjid bagi orang yang baru datang sebelum duduk di tempat shalat.
Kelima, tidak menyalahgunakan masjid untuk hal hal yang bertentangan dengan fungsi dan adab-adab masjid. Pada sisi lain, jangan suka melarang yang perlu dilarang, tapi jangan membiarkan apa apa yang seharusnya tidak boleh sehingga membuat jamaah betah.
“Misalnya ada masjid memasang tulisan, ‘Dilarang tidur-tiduran di masjid’. Ini baru tidur-tiduran sudah enggak boleh apalagi tidur beneran. Yang benar itu diatur dan diarahkan,” katanya.
(bal)