LANGIT7.ID, Jakarta - Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali, mengatakan, Indonesia harus mencontoh Qatar dalam penyelenggaraan
Piala Dunia U-20 pada 2023 mendatang. Nilai-nilai Islam dan nilai-nilai budaya Indonesia bisa dimunculkan dalam kompetisi akbar tersebut.
“Jadi apa yang sudah dilakukan oleh pendahulu kita Qatar, dalam keislaman di
Piala Dunia 2022 bisa dipertahankan Indonesia pada Piala Dunia U-20 2023 nanti. Ini bisa menjadi harapan baru bagi sepakbola Indonesia. Tunjukkan sepakbola kita ke jalan yang lurus,” kata Akmal dalam Gelora Talks, Rabu sore (30/11/2022).
Tugas tersebut tentu bertumpu pada PSSI sebagai penanggungjawab sepakbola di Tanah Air. Hanya saja, Akmal mengaku belum menyaksikan langkah PSSI dalam mempersiapkan Piala U-20. Tidak ada rencana nilai-nilai yang akan ditonjolkan, baik sebelum dan sesudah kejadian Kanjuruhan beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Dubes RI untuk Qatar: Piala Dunia 2022 Perlihatkan Wajah Islam Sebagai Rahmatan Lil-alamin
“Kalau Qatar dan jauh-jauh hari menolak segala aktivitas LGBT di Piala Dunia, di sini tidak ada sama sekali,” katanya.
PSSI harus meniru diplomasi Islam yang dilakukan Qatar dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2022. Ada banyak nilai yang bisa ditiru, seperti larangan minuman alkohol di tempat terbuka, kumpul kebo, hingga LGBT.
“Diplomasi agama yang dilakukan Qatar bisa di-
copy paste untuk mengelola pelaksanaan kegiatan Piala Dunia U020. Selain bisa berhasil dalam pelaksanaannya, juga bisa meningkatkan prestasi sepakbola Tanah Air, sehingga mudah-mudahan Piala Dunia U-20 bisa berlanjut dan terlaksana dengan baik,” kata Akmal.
Sementara, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Anis Matta,mengatakan, Piala Dunia 2022 di Qatar pertama kali diselenggarakan di dunia Islam. Tidak hanya mewakili dunia Arab, tetapi juga mewakili dua milyar populasi muslim di seluruh dunia.
Baca Juga: Sepak Bola Bisa Sebarkan Nilai-Nilai Ajaran Islam
“Ini memberikan pencitraan baru tentang Islam kepada seluruh dunia melalui perhelatan sepakbola,” kata Anis.
Sepakbola menyatukan seluruh umat manusia. Tidak memandang latar belakang agama dan ras. Ini bisa dilihat dari Piala Dunia Qatar saat ini, agama terbukti tidak memecah-belah.
“Bagi kita di sini, di Indonesia, di tengah polarisasi saat ini juga sangat penting. Kita bisa melakukan seperti apa yang dilakukan Qatar. Polarisasi terjadi karena agama dijadikan tembok, bukan jembatan,” tutur Anis.
Di sisi lain, menurut Anis Matta, status tuan rumah Piala Dunia U-20 harus bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk mengakhiri polarisasi politik dan identitas menjelang Pemilu 2024.
Baca Juga: Kunci Sukses Qatar Berhasil Syiarkan Islam di Piala Dunia 2022
“Ini kan kita mendapat kesempatan jadi tuan rumah Piala Dunia tahun depan, meskipun untuk kelompok umur U-20. Harus bisa dimanfaatkan maksimal untuk mengakhiri polarisasi, bola dan agama bisa bersatu, bisa bercampur,” katanya.
Ada banyak hal yang bisa dicontoh dari Qatar dalam mensyiarkan Islam kepada seluruh dunia. Pengamat sepakbola, Sigit Nugroho, mengatakan, Qatar ingin mencitrakan Islam sebagai agama rahmatan lil-alamin. Maka itu, sejak dipilih menjadi tuan rumah pada 2010, Qatar membangun fasilitas mewah serta menyediakan konsep yang memadukan olahraga dan syiar Islam.
Cara dakwah seperti ini yang harus dilakukan umat Islam sekarang. Seperti juga yang dilakukan Mohamed Salah, pesepakbola asal Mesir yang bermain untuk Liverpool, kerap melakukan selebrasi sujud usai mencetak gol. Selebrasi itu berhasil mengubah pemikiran rakyat Inggris terhadap Islam.
Baca Juga: Sigit Nugroho, Kenal Islam dan Jadi Mualaf Lewat Sepak Bola
“Perilaku Salah ini bisa menginspirasi orang-orang yang tadinya melihat Islam secara buruk, tiba-tiba bisa menjadi ‘oh ternyata Islam indah’, bukan sebagai agama yang keras dan mengajarkan terorisme. Apa yang dilakukan Salah itu, juga bagian dari dakwah, dan melihat Islam sebagai agama penuh damai,” kata Sigit.
(jqf)