LANGIT7.ID, Jakarta - Dubes RI untuk
Qatar, HE Ridwan Hassan, mengatakan,
Piala Dunia 2022 hanya salah satu instrumen yang disiapkan Qatar untuk menampilkan wajah Islam
rahmatan lil-alamin ke seluruh dunia.
Pemerintah Qatar sudah merencanakan Ibu Kota Doha sebagai ibu kota olahraga dunia. Mereka tidak ingin menjadi tuan rumah Piala Dunia saja. Hal itu didukung dengan karakter masyarakat Qatar yang terbuka. Mereka tidak anti dengan warga asing dan bisa hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang.
Secara geografis, Qatar sangat kecil, hanya 11.571 km² dengan jumlah penduduk sekitar 2,7 juta jiwa. Masyarakat asli Qatar hanya berada di angka sekira 400 ribu jiwa. Selebihnya, warga asing dengan berbagai latar belakang budaya hingga keyakinan.
Baca Juga: Lantunan Al-Quran Buka Piala Dunia 2022 Qatar, Ghanim Al Muftah Baca Surat Al-Hujurat
“Interaksi masyarakat Qatar dengan warga asing yang berlatar belakang keyakinan sudah terjadi dari masa ke masa. Sehingga, kalau kita berbicara diplomasi Islam. Diplomasi suatu negara itu diwarnai karakteristik suatu negeri. Karakteristik Qatar adalah Arab-Islam, sehingga faktor itu menonjol,” kata Ridwan dalam Gelora Talks, Rabu sore (30/11/2022).
Nilai-nilai Islam sudah membungkus keseharian masyarakat Qatar. Islam di Qatar dibuktikan bisa berjalan seiring dengan kemajuan. Karakteristik Qatar sebagai negara Islam sangat melekat. Itu yang membuat penggemar sepakbola yang datang ke negara itu melihat Islam dari sudut pandang yang berbeda, bukan seperti imajinasinya dimana agama mengajarkan kekerasan.
“Satu hal yang menjadi dasar atau benang merah yang harus diperhatikan, mereka menyadari bahwasanya budaya Arab dan budaya Islam adalah budaya yang menghargai tamu. Tapi, pada sisi lain, tamu juga tentunya harus mengetahui adat-istiadat setempat. Jadi, harus ada saling menghormati dan saling menjaga,” ujar Ridwan.
Baca Juga: Masjid Katara, Tempat Fans Piala Dunia 2022 Mengenal Islam
Dia mencontohkan larangan minum minuman keras di tempat umum. Penggemar sepakbola menghargai itu. Meski begitu, Qatar sadar bahwa tidak semua penggemar sepakbola adalah muslim, sehingga disediakan tempat khusus untuk mengonsumsi minuman keras.
“Pada sisi lain ketika Qatar mencoba melakukan syiar Islam, karena memang itu karakter Qatar yang harus diangkat, bagus sekali. Ada ayat Al-Qur’an saat pembukaan, di stadion-stadion kita bisa melihat tempat salat,” ujar Ridwan.
Sesuatu yang sebenarnya wajar tapi dianggap luar biasa bagi masyarakat nonmuslim. Misalnya pembangunan musala di setiap stadion. Itu hal wajar yang dilakukan Qatar. Tapi dari situ, masyarakat nonmuslim melihat sisi lain agama Islam.
Baca Juga: Lewat Musala Transparan, Qatar Dakwahkan Islam ke Fans Piala Dunia
“Satu hal yang sebenarnya wajar untuk disediakan, karena memang orang butuh musala. Tapi ternyata orang-orang yang beragama Islam dan nonmuslim, tetap bisa menjalankan kewajiban keagamaan pada satu sisi, tapi juga Islam tidak konservatif yang dimaknai secara sempit, di mana tidak bisa menikmati kehidupan,” kata Ridwan.
Belum lagi sifat masyarakat Qatar yang terbuka. Mereka tidak menutup diri dari warga nonmuslim. Mereka semua dianggap sebagai tamu, dan diperlakukan senyaman mungkin.
“Itu yang membuat orang-orang yang datang dari berbagai belahan dunia melihat Islam berbeda, mereka melihat satu kenyataan,” ujar Ridwan.
Baca Juga: Piala Dunia 2022: 558 Orang Mualaf Berkat Syiar Islam di Qatar(jqf)