Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 Juli 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Perkuat Diplomasi Budaya Turki-Indonesia, Institut Yunus Emre Buka Kantor di UIN Jakarta

Muhajirin Selasa, 13 Desember 2022 - 19:04 WIB
Perkuat Diplomasi Budaya Turki-Indonesia, Institut Yunus Emre Buka Kantor di UIN Jakarta
Peresmian Institut Yunus Emre di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tangerang Selatan, Selasa (13/12/2022) (foto: LANGIT7.ID/Muhajirin)
LANGIT7.ID, Jakarta - Institut Yunus Emre Turki secara resmi membuka kantor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kerja sama yang terjalin antara Institut Yunus Emre dengan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam rangka memperkuat hubungan Indonesia-Turki melalui diplomasi bahasa dan budaya.

Hal tersebut dipertegas dalam acara International Symposium dengan tema Strengthening Indonesia-Turkiye Relations through language and cultural diplomacy di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (13/12/2022).

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Amany Lubis, menyambut baik bentuk kerjasama tersebut. Dia mengatakan, hubungan Indonesia dan Turki bukan hal baru. Hubungan dua negara tersebut sudah terjalin sejak abad ke-16 di era Kesultanan Utsmani dan kesultanan yang ada di Nusantara.

“Dalam sejarah, sudah lama terbangun kerjasama Turki dengan Indonesia, baik di bidang ekonomi, maupun di bidang pelayaran, juga di bidang politik dan keamanan, karena kesultanan di Indonesia sejak 500-600-an tahun lalu pernah minta bantuan kekuatan militer dari Turki Utsmani,” kata Amany saat memberikan sambutan.

Baca Juga: Sejarah Unik Lala Hayrettin Istanbul: Dari Sinagog, Gereja, hingga Jadi Masjid

Bahkan, kata dia, bukti hubungan Turki Utsmani dengan kesultanan di Nusantara masih tersimpan di Keraton Yogyakarta. Amany menyebut dokumen itu masih tersimpan sampai saat ini. Siapa saja bisa melihat saat mengunjungi Kraton Yogyakarta.

“Bahkan, di Keraton Jogja masih ada dokumen dari Kerajaan Turki Usmani yang menandakan ada kolaborasi antara Kesultanan Jogja dengan Turki Utsmani. Itu contoh paling dekat,” katanya.

Presiden Institut Yunus Emre, Prof. Dr. Seref Ates, menjelaskan, kerjasama tersebut merupakan salah satu program Institut Yunus Emre untuk mengembangkan bidang bahasa dan budaya di seluruh dunia.

“Bidang yang menjadi fokus kami adalah bidang bahasa dan budaya. Konsep politik, agama, dan budaya seringkali membingungkan satu sama lain. Ketiga konsep ini sangat penting dalam kehidupan sosial dan hubungan internasional. Bidang bahasa dan budaya yang menjadi fokus kami adalah ibu dari semua bidang,” kata Seref.

Seref percaya, kantor cabang Institut Yunus Emre di Indonesia yang dibuka di UIN Syarif Hidayatullah bisa membantu program tersebut berjalan lancar. Kantor menjadi pengikat dua kampus untuk mengembangkan bahasa dan budaya.

Baca Juga: Kisah Imam Masjid di Turki, Tunjukkan Indahnya Islam Lewat Bahasa Cinta

“Saya percaya, kantor yang kami telah buka atas izin dan pengawasan pihak UIN Syarif Hidayatullah akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam mempererat pengenalan dua bangsa dan hubungan Indonesia-TUrki yang sudah terjalin,” ujarnya.

Institut Yunus Emre akan menjadi pusat komunikasi bagi semua orang yang tertarik dan ingin mengenal Turki. Institute ini akan akan bekerjasama di berbagai bidang, mulai dari kegiatan budaya, seni, hingga pengajaran bahasa, hingga projek bersama.

“Hubungan kami dengan Indonesia sudah ada sejak abad ke-16. Saat ini kami menjadi tuan rumah bagi 7.000 mahasiswa Indonesia yang ada di Turki. Untuk menghilangkan jarak ribuan kilometer yang ada, 3.000 orang perlu belajar lagi bahasa Turki tahun ini. dengan demikian, kami akan menjalin 10.000 ikatan baru antara Turki dan Indonesia,” ungkap Seref.

Seref mengatakan, Institut Yunus Emre berani membuka program di Indonesia karena negara ini memiliki kesamaan dengan Turki. Masyarakat Indonesia cepat berorganisasi dan beradaptasi dengan cepat. Paling penting, masyarakat Indonesia dan Turki terbuka untuk dialog dan berkenalan satu sama lain.

“Dengan begitu, tujuan kami membuka ikatan baru 10.000 orang antara Turki dan Indonesia di Institut Yunus Emre harus memberikan pelayanan ini,” ujar Seref.

Baca Juga: Kemegahan Masjid Sultan Ahmed, Simbol Ikonik Kota Istanbul

Menurut Seref, kerjasama di bidang budaya dan bahasa itu sangat penting. Itu karena ketika bidang bahasa dan budaya berkembang, fungsi kehidupan sosial yang baik memastikan pemahaman yang benar tentang politik dan agama. Bahasa dan budaya memiliki tempat penting dalam perkembangan setiap bidang, seperti politik, ekonomi, dan agama antarnegara.

“Mungkin ada hampir ribuan definisi dari budaya. Budaya adalah cara kalian melakukan sesuatu, bahkan setiap pekerjaan apapun. Kedua, budaya membantu untuk mengerti, menjelaskan, dan memahami kehidupan yang kalian jalani dengan cara yang baik,” ungkapnya.

Mengenal Institut Yunus Emre

Seref menjelaskan, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mendirikan Institut Yunus Emre dengan tujuan membangun dan menjalin ikatan antarmanusia. Itu sebabnya, Institut Yunus Emre dalam 12 tahun terakhir sudah mendirikan lebih 80 pusat budaya dan perwakilan di seluruh dunia.

“Kami mencoba membangun ikatan berbasis kepercayaan kepada orang-orang di negara tempat kami berada,” kata Seref.

Selain mengajarkan bahasa Turki, Yunus Emre juga menyelenggarakan acara pertunjukan seni seperti cerita rakyat. Terkadang pula simbol dan aktivitas sedikit lebih kompleks yang berkaitan dengan geometri, sains, ataupun arsitektur.

Baca Juga: Begini Cara Imam di Turki Dekatkan Anak-Anak dengan Masjid

“2023 adalah peringatan 100 tahun berdirinya Republik Turki, oleh karena itu, pada tahun ke-100 nanti kami bertujuan mendirikan 100 pusat budaya di seluruh dunia,” ungkap Seref.

Budaya Turki memiliki tiga pilar yang berbeda. Pertama, budaya Turki yang melestarikan dan membawa dari Asia Tengah ke Anatolia. Kedua, agama Islam yang mereka pilih dengan preferensi mereka sendiri. Ketiga, warisan peradaban Anatolia yang mereka warisi setelah mereka warisi setelah bermigrasi ke Anatolia.

Institut Yunus Emre mengadopsi pemikiran Yunus Emre, seorang tokoh sufi Turki terkenal. Orang-orang terdahulu Anatolia dan Yunus Emre memiliki andil besar dalam pendirian Kesultanan Ottoman. Sebuah negara maju melampaui zaman, ketika orang Turki tinggal di Anatolia dan dalam pengembangan struktur yang banyak bisa diambil dan dicontoh bagi umat manusia.

Yunus Emre (tokoh sufi Turki) melihat semua jiwa sebagai satu. Dia tidak hanya berinteraksi manusia, tetapi juga dengan tumbuhan seperti bunga, mendengarkan suara putaran kincir air di atas air, dan menyebut mendapatkan hati adalah tujuan terpenting.

Yunus Emre menilai ada aliran dan persatuan di antara jiwa. Dia mengatakan, Syariat dan Tarekat adalah pintu masuk ke Islam, sedangkan kecerdasan dan kebenaran adalah tujuan yang ingin dicapai. Persatuan dapat dicapai dengan mengalahkan ego dan melihat sang pencipta dalam setiap makhluk yang diciptakan.

Baca Juga: Mengenal Kejayaan Islam dari Kemegahan Masjid Hagia Shopia

Dengan tingkat pemahaman seperti itu, Yunus Emre mencapai kedamaian yang abadi. Menurut budaya Turki, seseorang dilahirkan dari Rahim ibunya, mencoba mengenali dirinya sendiri selama bertahun-tahun. Ketika dia mengenali dirinya sendiri, maka dia lahir dari dirinya sendiri, dan menjadi manusia.

“Orang yang lahir sendiri mencoba mencapai kecerdasan dan kebenaran. Cara untuk mencapai kecerdasan dan kebenaran yaitu menjadi satu dengan semua jiwa, adalah dengan menjalin ikatan,” ujar Seref.

Bagi Yunus Emre, Sultan Muhammad Al-Fatih, ketika menaklukkan Istanbul pada 1453 membawa dua kebebasan dan aliran yang belum diterapkan di manapun hingga saat itu. Pertama, membebaskan aliran pemikiran. Kedua, membebaskan aliran uang.

Itu karena budaya dan bahasa adalah makhluk hidup. Seseorang yang mencapai tingkat kecerdasan dan kebenaran tidak takut pada pemikiran dan materi. Mereka percaya akan pentingnya perkembangan umat manusia.

“Kata-katanya itulah yang paling menggambarkan Institut kami, yang terkandung dalam Yunus Emre karena sifatnya mewakili nilai-nilai kemanusiaan, cinta sesama, dan perdamaian sosial. Datanglah saling berkenalan, mari kita permudah pekerjaan, mari mencintai dan dicintai, dunia tidak tersisa untuk siapapun,” ujar Seref.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan