LANGIT7.ID - , Istanbul - Masjid Lala Hayrettin di Istanbul, Turki, yang baru saja dipugar,
memiliki sejarah yang sangat unik. Sebelum berfungsi sebagai rumah ibadah
umat Islam, Lala Hayrettin sebelumnya dijadikan sinagog hingga
gereja.
Belum lama ini, tepatnya Agustus 2022 silam, masjid yang baru direnovasi tersebut kembali dibuka untuk ibadah
salat Jumat.
Presiden Asosiasi Perlindungan Artefak dan Budaya Istanbul (ISTED) Erhan Sarışın mengatakan bangunan ini pertama kali berfungsi sebagai sinagog, rumah ibadah
umat Yahudi.
Baca juga: Sejarah Masjid Jami Matraman, Bekas Markas Pasukan MataramKemudian, beralih fungsi menjadi tempat ibadah umat
Kristen Ortodoks dan Katolik. Hingga akhirnya setelah tahun 1480, fungsi bangunan berubah menjadi masjid bagi umat Islam.
Sarışın mengungkapkan, tembok bata sisa-sisa masjid memiliki ciri periode Bizantium dan Utsmaniyah.
“Ada sebuah makam milik pendeta Kristen masa itu di
terowongan di bawah tempat ibadah. Ada tangga untuk turun ke sana. Sayangnya, makam ini juga dihancurkan oleh pemburu harta karun selama penggalian ilegal," kata Sarışın dikutip dari Daily Sabah, Rabu (2/11/2022).
"Sejarahnya berusia 1.600 tahun. Ada tanda Latin di batu bata persegi yang kami temukan di dalam gereja. Ketika kami menerjemahkannya, kami melihat bahwa ada prangko dari abad kelima. Ini adalah bukti bahwa struktur itu dibangun pada tahun 400-an. Juga, sumber-sumber Kristen mengatakan bahwa tempat ini didirikan sebagai gereja di tahun 400-an." kata Sarışın dikutip dari Daily Sabah, Rabu (2/11/2022).
Sarışın mengungkapkan bahwa bangunan gereja yang hancur diubah menjadi masjid pada 1480-an oleh Lala Hayrettin Pasha dan dioperasikan. Dia menekankan bahwa masjid memiliki fitur sejarah yang penting karena keberadaan beberapa manuskrip terpenting, Al-Qur'an.
Baca juga: Sejarah Masjid Luar Batang, Dibangun Sejak Tahun 1739Kemudian, Sarışın melanjutkan, Masjid Lala Hayrettin ditutup pada tahun 1935. Masa itu berlaku undang-undang tentang klasifikasi masjid dan penutupan yang diperlukan. Administrasi Yayasan periode 1937, lanjut Sarn, menjual menara, kayu, dan ubin di atapnya.
Mulai saat itu, masjid berubah menjadi reruntuhan, hingga akhirnya direnovasi dan kembali dibuka. Masjid itu semakin rusak dan menjadi reruntuhan karena penggalian ilegal.
“Ketika kami menemukannya pada tahun 2018, ada hampir 50 pohon di dalamnya dan 10 truk sampah keluar dari struktur ketika kami mencoba membersihkannya. Kemudian, Direktorat Yayasan Wilayah kami mengambil alih proyek tersebut. Kami menemukan seorang pengusaha amal untuk membiayai restorasi. Setelah satu tahun pekerjaan pembersihan, desain dan restorasi, masjid sekarang dalam kondisi sekarang," jelas Sarn.
Melih Bilgili, yang membantu membangun kembali masjid untuk menghormati ibunya mengatakan, saat ibunya meninggal dunia, dia berencana untuk membangun sebuah masjid.
Baca juga: Sejarah Masjid Tua Tempat Penyebaran Islam di Pandeglang"Ibuku Emine Bilgili meninggal dunia. Saya berencana untuk membangun sebuah masjid. Tapi kemudian saya memutuskan untuk mengembalikan masjid bersejarah sebagai gantinya. Bersama dengan saudara laki-laki saya Osman Bilgili, kami memutuskan untuk merestorasi masjid yang merupakan pusaka nenek moyang kita dan berperan dalam membukanya untuk beribadah. Dengan demikian, kita sekarang telah melindungi karya-karya nenek moyang kita.” kata Bilgili.
(est)