LANGIT7.ID-Di tepi selat yang memisahkan Eropa dan Asia itu, sejarah pernah bergemuruh. Konstantinopel—kini bernama Istanbul—menyimpan lebih dari sekadar kisah kekaisaran Bizantium dan pasukan Sultan Mehmed II.
Dalam khazanah hadis, kota ini menjadi salah satu tanda besar menjelang Hari Kiamat: penaklukan oleh kaum muslimin tanpa setetes darah pun tertumpah, tanpa pedang terhunus atau panah meluncur, senjata mereka hanyalah takbir dan tahlil.
Riwayat itu datang dari Abu Hurairah, disimpan dalam Shahih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan tiba Hari Kiamat hingga 70 ribu dari Bani Ishaq menyerang kota yang satu sisinya di darat dan satu sisinya di laut. Mereka tidak bertempur, hanya mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar,’ lalu satu sisinya runtuh… hingga mereka masuk ke dalamnya dan membagi ghanimah, tiba-tiba datang teriakan bahwa Dajjal telah keluar.”
Di sinilah muncul teka-teki. Mengapa Bani Ishaq—yang dalam silsilah merupakan nenek moyang bangsa Romawi—justru disebut sebagai penakluk Konstantinopel?
Al-Qadhi ‘Iyadh, ulama besar Maghribi abad ke-6 H, mencatat bahwa naskah-naskah Shahih Muslim memuat lafaz itu. Tapi, kata dia, sebagian ulama memahami yang dimaksud adalah “Bani Ismail”—yakni bangsa Arab. “Inilah makna yang sesuai konteks hadis,” tulisnya dalam Syarh an-Nawawi (XVIII/43-44).
Baca juga: Muhammad al-Fatih dan Hari Ketika Langit Bosporus Bergema Takbir Tafsir lain datang dari Ibnu Katsir, sejarawan dan mufasir abad ke-8 H. Menurutnya, hadis ini memberi isyarat bahwa di akhir zaman bangsa Romawi akan memeluk Islam. Maka, sebagian dari mereka—keturunan Ishaq—bergabung dengan kaum muslimin menaklukkan kota itu. Argumentasinya diperkuat hadis al-Mustaurid al-Qurasy dalam Shahih Muslim (XVIII/22), yang menyebut lima keutamaan bangsa Romawi, termasuk ketenangan saat fitnah dan sikap melindungi yang lemah.
Ada pula riwayat yang menggambarkan situasi pasca-perang besar kaum muslimin melawan Romawi. Dalam satu momen, pasukan Romawi meminta mengembalikan tawanan mereka yang telah memeluk Islam. Jawaban kaum muslimin tegas: “Kami tidak akan menyerahkan saudara-saudara kami.”
Imam an-Nawawi mencatat bahwa fenomena “tawanan yang menjadi penawan” ini sudah terjadi di zamannya—tentara muslim di Syam dan Mesir banyak berasal dari bekas tawanan kafir (Syarah an-Nawawi, XVIII/21).
Penaklukan damai yang dimaksud hadis, tegas Yusuf bin Abdullah al-Wabil dalam Asyraathus Saa’ah (Pustaka Ibnu Katsir, 1995), belum pernah terjadi. Ekspedisi Yazid bin Mu’awiyah yang membawa Abu Ayyub al-Anshari hanya berakhir pada perjanjian. Pengepungan Maslamah bin Abdul Malik pun gagal. Adapun penaklukan oleh Sultan Mehmed II pada 1453 M—meski monumental—tetap melalui peperangan sengit.
Baca juga: 30 Maret, Hari Kelahiran Sultan Muhammad Al-Fatih Konstantinopel hari ini berada di bawah pemerintahan sekuler Turki modern. Ahmad Syakir, ulama abad ke-20, meyakini penaklukan yang dimaksud Rasulullah SAW adalah yang “terakhir dan terbesar,” terjadi ketika kaum muslimin kembali pada agamanya. “Penaklukan ini akan datang, cepat atau lambat. Adapun penaklukan bangsa Turk hanyalah pembuka,” tulisnya dalam Hasyiyah ‘Umdatut Tafsiir (II/256).
Di antara potongan sejarah, tafsir, dan nubuwat itu, satu hal menjadi benang merah: skenario akhir zaman yang digambarkan hadis bukan sekadar tentang geopolitik, tetapi juga transformasi iman. Kota yang pernah menjadi simbol kebesaran Romawi Timur itu—menurut hadis riwayat Anas bin Malik dalam Jami’ at-Tirmidzi (VI/498)—akan kembali menjadi titik gemetar dunia, di ambang terbitnya fitnah terbesar bernama Dajjal.
Apakah takbir di gerbang Konstantinopel akan benar-benar terdengar tanpa dentum meriam? Jawabannya, kata para ulama, hanya Allah yang tahu. Yang pasti, nubuwat itu menggantung di langit sejarah, menanti waktunya untuk jatuh ke bumi.
(mif)