LANGIT7.ID, Jakarta - Bertepatan hari ini, 30 Maret 1432 M, lahir seorang bayi laki-laki yang dikenal sebagai sultan penakluk Ibu Kota Kerajaan Romawi saat itu, Konstantinopel. Dia adalah Mehmed II atau lebih dikenal Muhammad Al-Fatih.
Al-Fatih lahir di Edirne, saat itu merupakan Ibu Kota Kesultanan Utsmani. Dia lahir pada 30 Maret 1432 (sebagian riwayat menyebut Al-Fatih lahir pada 3 Maret 1432) dari pasangan Sultan Murad II (1404-1451) dan Valide Sultan huma Hatun.
Sejak belia, pria yang memiliki nama kecil Mehmed Celebi memiliki fasilitas pendidikan yang sangat tinggi. Banyak guru yang mendidiknya, namun yang paling dekat adalah Syaikh Ahmad bin Ismail Al-Kurani dan Syaikh Aaq Syamsuddin. Lewat tempat murabbinya, impian Al-Fatih memenuhi bisyarah Rasulullah terus terjaga dan kian merekah.
Baca juga: Gus Baha: Bahaya Bertasawuf Jika Tidak Dibarengi FikihSultan Murad II sebenarnya sudah berusaha menaklukkan Konstantinopel melanjutkan para pendahulunya. Dia mengepung kota itu pada 1422 namun gagal.
Mengutip laman
5 Minutes History, Sultan Al-Fatih sudah mempunyai cita-cita menaklukkan Konstantinopel sejak Belia. Saat berusia 21 tahun, dia mengepung kota itu pada 1453. Setelah pengepungan selama 53 hari, kota Konstantinopel akhirnya jatuh ke tangan Ottoman pada 29 Mei 1453.
Dalam seperempat abad berikutnya, Al-Fatih melakukan kampanye demi kampanye, mendirikan kerajaan terpusat di Rumelia dan Anatolia. Dia juga menaklukkan Kekaisaran Trebizond pada tahun 1461. Dia mendirikan kendali Utsmaniyah atas Serbia, Morea, Bosnia, Albania, dan sejumlah wilayah Anatolia.
Al-Fatih dianggap sebagai pendiri sejati Kekaisaran Ottoman. Dia mendirikan sebuah kerajaan di Eropa dan Asia dengan ibukotanya di Istanbul, yang akan tetap menjadi inti dari Kekaisaran Ottoman selama empat abad.
Baca juga: Kaukasus Hingga Volga: Gerbang Islam Masuk RusiaDia adalah seorang pejuang yang berjuang untuk menguasai dunia. Namun pada saat bersamaan, dia merupakan seorang muslim yang menjunjung tinggi toleransi dan menghargai budaya. Al-Fatih menguasai bahasa Persia, Arab, Yunani kuno, dan Italia.
Hal itu membuat Al-Fatih menjadi salah satu tokoh terpenting dalam sejarah Islam dan Utsmaniyah. Dia meninggalkan banyak warisan yang tak bisa dihapus dan tercatat dengan tinta emas dalam buku sejarah. Sampai saat ini, peninggalan Al-Fatih masih bisa disaksikan.
(jqf)