LANGIT7.ID- Zat as-Sawari, pesisir di timur Mediterania, menjadi saksi pertempuran laut pertama yang benar-benar mengubah arah kekuasaan dunia. Pada masa Kekhalifahan Utsman bin Affan, armada Muslim yang dipimpin Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh menantang armada Bizantium yang selama berabad-abad menguasai laut.
Muhammad Husain Haekal dalam
Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan (P.T. Pustaka Litera AntarNusa) menulis, para sejarawan menyebut peristiwa itu Perang as-Sawari. Nama ini dikaitkan dengan strategi pasukan Muslim yang mengikat kapal-kapal mereka agar tidak terpencar oleh gelombang atau mungkin karena lokasi bernama Zat as-Sawari.
Bizantium datang dengan pasukan laut lebih besar, dipimpin jenderal Konstantin. Kapal-kapal Muslim yang terikat satu sama lain itu justru membuat pertempuran berubah menjadi seakan medan darat di atas geladak. Pedang dan tombak lebih bersuara daripada panah. Dan dalam situasi itu, pasukan Muslim unggul.
Kemenangan itu membuat Konstantin mundur ke Sisilia. Nasibnya kelak tragis: dibunuh oleh rakyatnya yang ketakutan terhadap kedatangan Muslim (Haekal, merujuk pada catatan Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah).
Bahan KritikNamun kemenangan besar tak selalu memuaskan semua pihak. Abdullah bin Sa’d memilih bertahan beberapa hari di lokasi pertempuran ketimbang mengejar musuh sampai ke akar. Para penentang Utsman menjadikan keputusan itu sebagai bahan kritik. Mereka menuduh sang khalifah terlalu memanjakan saudara susuannya.
Haekal mencatat, kritik itu menumpuk bersama isu-isu politik lain yang menggerogoti otoritas pusat Madinah. Padahal, menurut sejarawan naval Hugh Kennedy dalam
The Great Arab Conquests (2007), langkah mempertahankan posisi untuk menguburkan syuhada dan memulihkan pasukan adalah keputusan militer yang rasional setelah kerugian besar.
Dari sudut geopolitik, perang itu adalah akhir dominasi Bizantium atas jalur laut selatan Mediterania. Setelah Sawari, armada Rum tidak lagi berani kembali ke perairan Mesir atau Syam. Pakar Bizantium Andrew Louth dalam The Cambridge History of the Byzantine Empire (2009) menilai kekalahan itu sebagai pukulan besar pada kemampuan kekaisaran mempertahankan daerah baratnya.
Perang Sawari menandai pergeseran kekuasaan yang selama ini dianggap mustahil: dari imperium Kristen Bizantium ke kekuatan maritim Islam. Bagi dunia Mediterania, itu bukan sekadar pertempuran kapal, melainkan tanda zaman baru.
Di balik gelombang laut yang mengantar kemenangan itu, riak politik di Madinah kian meninggi. Sejarah membuktikan: kemenangan di medan perang tidak selalu ampuh meredam pertempuran di dalam negeri.
(mif)