Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 24 Januari 2026
home masjid detail berita

Perang Sawari: Titik Balik Kekuasaan Maritim Islam di Era Khalifah Utsman bin Affan

miftah yusufpati Rabu, 26 November 2025 - 04:15 WIB
Perang Sawari: Titik Balik Kekuasaan Maritim Islam di Era Khalifah Utsman bin Affan
Sejarah membuktikan: kemenangan di medan perang tidak selalu ampuh meredam pertempuran di dalam negeri. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Zat as-Sawari, pesisir di timur Mediterania, menjadi saksi pertempuran laut pertama yang benar-benar mengubah arah kekuasaan dunia. Pada masa Kekhalifahan Utsman bin Affan, armada Muslim yang dipimpin Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh menantang armada Bizantium yang selama berabad-abad menguasai laut.

Muhammad Husain Haekal dalam Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan (P.T. Pustaka Litera AntarNusa) menulis, para sejarawan menyebut peristiwa itu Perang as-Sawari. Nama ini dikaitkan dengan strategi pasukan Muslim yang mengikat kapal-kapal mereka agar tidak terpencar oleh gelombang atau mungkin karena lokasi bernama Zat as-Sawari.

Bizantium datang dengan pasukan laut lebih besar, dipimpin jenderal Konstantin. Kapal-kapal Muslim yang terikat satu sama lain itu justru membuat pertempuran berubah menjadi seakan medan darat di atas geladak. Pedang dan tombak lebih bersuara daripada panah. Dan dalam situasi itu, pasukan Muslim unggul.

Kemenangan itu membuat Konstantin mundur ke Sisilia. Nasibnya kelak tragis: dibunuh oleh rakyatnya yang ketakutan terhadap kedatangan Muslim (Haekal, merujuk pada catatan Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah).

Bahan Kritik

Namun kemenangan besar tak selalu memuaskan semua pihak. Abdullah bin Sa’d memilih bertahan beberapa hari di lokasi pertempuran ketimbang mengejar musuh sampai ke akar. Para penentang Utsman menjadikan keputusan itu sebagai bahan kritik. Mereka menuduh sang khalifah terlalu memanjakan saudara susuannya.

Haekal mencatat, kritik itu menumpuk bersama isu-isu politik lain yang menggerogoti otoritas pusat Madinah. Padahal, menurut sejarawan naval Hugh Kennedy dalam The Great Arab Conquests (2007), langkah mempertahankan posisi untuk menguburkan syuhada dan memulihkan pasukan adalah keputusan militer yang rasional setelah kerugian besar.

Dari sudut geopolitik, perang itu adalah akhir dominasi Bizantium atas jalur laut selatan Mediterania. Setelah Sawari, armada Rum tidak lagi berani kembali ke perairan Mesir atau Syam. Pakar Bizantium Andrew Louth dalam The Cambridge History of the Byzantine Empire (2009) menilai kekalahan itu sebagai pukulan besar pada kemampuan kekaisaran mempertahankan daerah baratnya.

Perang Sawari menandai pergeseran kekuasaan yang selama ini dianggap mustahil: dari imperium Kristen Bizantium ke kekuatan maritim Islam. Bagi dunia Mediterania, itu bukan sekadar pertempuran kapal, melainkan tanda zaman baru.

Di balik gelombang laut yang mengantar kemenangan itu, riak politik di Madinah kian meninggi. Sejarah membuktikan: kemenangan di medan perang tidak selalu ampuh meredam pertempuran di dalam negeri.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 24 Januari 2026
Imsak
04:22
Shubuh
04:32
Dhuhur
12:08
Ashar
15:30
Maghrib
18:20
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan