LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid Jami Matraman merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini pertama kali berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, yaitu pada tahun 1837 Masehi. Masjid ini menyimpan jejak sejarah yang panjang.
Selain sebagai tempat ibadah, pada tahun 1800-an masjid ini juga menjadi markas pasukan Mataram Islam untuk memantau pergerakan pasukan Belanda. Cerita diawali pada saat itu kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang akrab dipanggil Syekh Kuro.
"Syekh Kuro punya anak namanya Syekh Jafar, menurut cerita mulut ke mulut, Syekh Jafar dulu penguasa Jakarta," kata Takmir Masjid Jami Matraman, H Syamsudin saat ditemui
Langit7 di area Masjid di bilangan Matraman, Jakarta Timur, Senin (3/10/2022).
Singkat cerita, Syekh Jafar pergi Batavia ke daerah Jawa Tengah untuk mensyiarkan agama Islam. Namun saat Syekh Jafar berada di sana, Batavia diserang oleh pasukan Belanda.
Kemudian Syekh Jafar, kata H Syamsudin, meminta bantuan kepada kerajaan Mataram untuk mengirim pasukan ke Batavia. Tepatnya dikumpulkan di satu titik yang kini dikenal sebagai Masjid Jami Matraman. Kala itu, Masjid Jami Matraman merupakan tempat ibadah mungil sebesar musala.
Baca Juga: Ini 5 Daftar Masjid Berada di Kawasan Wisata"Akhirnya sama Syekh Jafar ditempatkan di sini untuk mengintai Belanda, karena posisinya di sini kalau melihat sungai Ciliwung bagus. Jadi kalau ada musuh datang dihajar," ujarnya.
Singkat cerita, bertahun-tahun berlalu, kemudian Masjid Jami Matraman direnovasi hingga menjadi tempat ibadah yang luas dari sebelumnya. Pengaruhnya pasukan Mataram ke Batavia membuat Masjid ini akhirnya dikenal sebagai Masjid Matraman.
H Syamsudin menjelaskan, penamaan Matraman pun terdapat dua versi. Keduanya karena pelafalan yang keliru yang kerap sulit diucapkan baik dari penduduk lokal maupun orang Belanda yang dulu pernah bermukim di Batavia.
"Bule-bule yang dulu di sini kan kangen kemari, mereka ingin ke sini masjid yang pinggir kali, jadi rata-rata mereka ngomongya 'Matraman' artinya orang-orang Mataram," kata H Syamsudin.
"Ada orang Betawi tidak bisa ngomong Mataram jadi Matraman," imbuhnya.
Masjid yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat ini menjadi masjid yang megah dan strategis. Bahkan ruang salatnya pun mampu menampung sekitar 1.000 jamaah.
(zhd)