LANGIT7.ID - , Jakarta -
Sustainable fashion atau
fesyen berkelanjutan memiliki tujuan selain mengurangi pencemaran lingkungan hidup juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam memperjuangkannya banyak hal yang bisa dilakukan, salah satunya dengan membangun sebuah bisnis fesyen berkelanjutan. Seperti yang dilakukan wanita asal Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur Melie Indarto.
Berawal dari keresahan akan bumi ke depan, membuat Melie memutuskan membangun
jenama fesyen Kain Indonesia (KaIND). Berdiri di tahun 2014,
brand lokal ini mempunyai visi untuk menghadirkan pembaharuan tampilan Batik Pasuruan sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.
Baca juga: Mengenal Ecoprint, Teknik Cetak Kain dengan Hasil Unik dan OtentikMelie mengaku keindahan alam Kota Pasuruan menjadi inspirasinya dalam mendesain bisnis fesyennya.
"Pasuruan itu kaya akan kekayaan alam seperti Gunung Bromo, Pasir Berbisik, Chrysanthemum, Aglaonema, Asoka dan Sedap Malam. Kita dapat banyak inspirasi dari keindahan kota Pasuruan. Jadi alam Pasuruan inilah yang kita coba translate-kan ke dunia batik," ujar Meile dalam sebuah acara UMKM di Jakarta, Rabu (14/12/2022).
Berbeda dengan merek fesyen lain, Melie mengaku tidak mengikuti tren dalam pembuatan produknya. Menurutnya dengan kekayaan alam Pasuruan yang luar biasa sudah cukup untuk dijadikan inspirasi.
"Kita gilir entah scarf, baju, dan lainnya, tidak mengikuti trend. Tapi sesuai dengan timeline produksi kita sendiri. Kita menciptakan koleksinya seperti itu dan untuk panduannya setiap 3 bulan sekali kita mengeluarkan koleksi baru," ujar Melie.
Selain memanfaatkan kekayaan alam untuk setiap desain produknya, bisnis fesyen yang dirintis Melie ini pun memberdayakan para petani dan anak muda di lingkungan sekitar.
Baca juga: Indonesia Modest Fashion Week 2022 Usung Tema In Love With Nature"Proses pembuatan produk dari awal sampai akhir di Pasuruan. Petaninya tergabung dalam sebuah koperasi, yang bukan under-nya KaIND. Tapi kita juga membina mereka sejak awal sutra yang dihasilkan seratnya masih kotor, sekarang sudah putih bersih dan bisa masuk mesin pintal fabrikasi. Ini bentuk kita turut memberdayakan petani sutra eri lokal," ucapnya.
Kemudian, setelah melalui proses tadi kain sutra tersebut ditenun oleh anak-anak muda yang sudah mendapat pembinaan dari KaIND.
"Semua prosesnya dari hulu ke hilir hingga menjadi sebuah produk itu semua dibina melalui workshop-nya KaIND," tutur wanita yang memulai usaha dengan modal Rp50 juta.
Fashion zero waste
Melie mengklaim bahwa KaIND merupakan satu-satunya brand sustainable fashion di Indonesia yang sudah bisa memproduksi serat eri menjadi benang fabrikasi. Sehingga produk yang dihasilkan dapat dijual dengan murah.
"Satu lembar benang dari serat sutra itu sudah bisa kita olah menjadi benang fabrikasi bukan benang pintal lagi. Kalau benang pintal kita pintal satu-satu benangnya, itu kan sangat lama dan mahal juga per meter bisa sampai 2 jutaan. Tapi dengan benang fabrikasi kita bisa cut cost dan kita juga bisa menyerap hasil panen para petani sutra dengan lebih banyak lagi," jelas dia.
Baca juga: Ternyata Gampang Terapkan Fesyen Berkelanjutan di RumahUntuk proses produksi KaIND, Melie mengaku untuk setiap bahannya tidak tersisa. Ketika terdapat bahan yang tersisa, mereka lantas mengupcycle menjadi produk baru dengan nilai jual yang sama dengan harga utama.
"Sisanya kita bikin jadi sandal, winter scarf itu juga salah satu dari sisa kain dari produk yang dibuat. Kita melatih anak-anak baru otomatis mereka tidak bisa langsung bagus pasti ada device-nya. Nah, dari itu tidak akan kita jual murah tapi kita olah lagi menjadi upcycling produk dan kita jual harga satu jutaan dan masih laku," katanya.
Hanya saja untuk kain sutra Meile belum berani menjadikan jadi limbah, produk itu digunakan sebagai cuttingan fashion yang zero waste atau menjadi scarf.
Dari proses pembuatan produk KaIND yang cukup panjang, Meile lantas mematok harga dari Rp100.000 hingga Rp2 juta. Dan dari awal berdiri hingga saat ini, pembeli produk KaIND didominasi oleh negera luar seperti Singapura, Hawai, Amerika, Jepang, Kanada, dan Australia.
(est)