Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 10 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Fenomena Father Hunger Picu Kematangan Semu pada Anak

Fifiyanti Abdurahman Sabtu, 17 Desember 2022 - 10:00 WIB
Fenomena Father Hunger Picu Kematangan Semu pada Anak
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
LANGIT7.ID - , Jakarta - Urusan mendidik anak sering dikaitkan dengan peran seorang ibu. Sementara ayah diposisikan sebagai pencari nafkah dan tulang punggung keluarga. Padahal dalam dunia parenting, kedua orang tua memiliki peran yang sama pentingnya.

Penulis buku "The Model", Ustaz Nopriadi Hermani mengatakan ayah yang hanya berperan sebagai pencari nafkah dan tidak terlibat dalam mendidik juga mengasuh anak, sehingga minim kedekatan emosional dan fisik pada kehidupan buah hati disebut dengan fenomena Father Hunger.

Baca juga: 6 Tips Jadi Ayah Baru, Istri Butuh Support Menjaga si Kecil

Douglas Wilson dalam buku Father Hunger menjelaskan fenomena ini menggambarkan kerinduan anak pada sosok ayah. Menurut Wilson, Father Hunger menunjukkan kebusukan yang menggerogoti jiwa modern.

"Ini problem dunia modern, ada anak-anak yang haus akan sosok bapak di mana mereka tidak hadir sebagai ayah. Ini adalah fenomena umum," ujar Ustaz Nopriadi dalam kajian bertajuk Menjadi Ayah yang Dirindukan Keluarga, Sabtu (17/12/2022).

Perlu dicatat bahwa jika ayah tidak hadir misal karena meninggal, maka itu sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Namun, jika bercerai dan anak kehilangan sosok ayah maka hal ini jangan sampai terjadi.

Hari ini banyak terjadi hubungan ayah dan anak yang berjarak, terutama anak laki-laki. Father Hunger pada anak perempuan, biasanya mereka akan mencari orang lain untuk menggantikan kehadiran seorang ayah. Kondisi ini justru sangat berbahaya.

"Fenomena ini penting kita pahami dan penting pula kita tindaklanjuti. Jangan sampai di rumah kita, anak merasakan lapar dengan sosok ayah. Kita mungkin merasa sensitif ketika anak lapar secara fisik, mereka lapar terus perutnya sakit mereka menangis. Nah, kita bisa melihatnya dan bisa langsung memenuhinya," kata Ustaz Nopriadi.

Baca juga: Seperti Ibu, Sosok Ayah Punya Perasaan yang Bisa Luluh karena Anak

Namun, kondisi tersebut berbalik saat anak lapar akan kehadiran sosok ayah. Di mana banyak orang tua yang tidak sensitif dan tak mengetahui kebutuhan tersebut.

"Kita tidak tahu bahwa mereka tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah atau si Ayah tidak sadar bahwa dia tidak memenuhi kebutuhan psikologis anak karena saking sibuknya dengan kerja," katanya.

Ustaz Nopriadi mengatakan untuk menjadi ayah memang tidak ada sekolahnya, namun jika sudah menjadi ayah maka harus dilengkapi dengan kompetensi yang cukup.

"Kalau ayah tidak memiliki kompetensi dalam mendidik anak dan tidak memiliki kompetensi sebagai pemimpin dalam keluarga, maka bisa dibayangkan bagaimana kondisi anaknya dan rumah mereka," tuturnya.

Menurut dia, tidak adanya kompetensi ini yang menjadi cikal bakal terjadinya malpraktek yang dilakukan oleh para ayah kepada anak.

"Di rumah sakit ada dokter yang merawat pasien tidak sesuai dengan kompetensinya sama dengan malpraktek, maka itu juga terjadi di rumah. Jadi ayah itu bisa juga melakukan malpraktek jika ia tidak menjalankan perannya sesuai dengan kompetensi yang cukup," jelas Ustaz Nopriadi.

Baca juga: Calon Ayah Wajib Mencari Ibu yang Baik untuk Anaknya Kelak

Ustaz Nopriadi menyebut ayah yang melakukan malpraktek adalah toxic father, ayah yang meracuni kehidupan anak-anaknya. Tipe ayah seperti ini, lanjut Ustaz Nopriadi, dapat membuat anak mengalami kematangan semu.

Matang semu berarti hanya fisiknya saja yang tumbuh secara sempurna, akan tetapi secara pemikiran, emosional, bahkan secara ideologi masih seperti anak-anak.

Gejala ini sudah terlihat saat ini, di mana semakin banyak anak-anak yang matang semu dengan adanya gadget.

"Menurut penelitian dari Korea Selatan, gadget adalah salah satu penyebab anak-anak mengalami fenomena matang semu. Karena ada aplikasi dalam gadget yang bisa merusak korteks anak, sehingga anak itu tidak mampu atau tidak punya kemampuan untuk hidup memegang nilai-nilai. Mereka menjadi sangat emosional dalam hidupnya. Nah ini fenomena matang semu yang diakibatkan oleh Father Hunger yakni laparnya anak dengan sosok ayah," imbuh Ustaz Nopriadi.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 10 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)