LANGIT7.ID, Jakarta - Baitul Maal Hidayatullah (BMH) aktif mendirikan sejumlah
Masjid Darurat di berbagai lokasi pengungsian para penyintas bencana. Terbaru, BMH mendirikan Masjid Darurat di Kampung Pasir Gombong, Desa Sukamulya, Cugenang, Cianjur. Pembangunan serupa juga dilakukan saat terjadi gempa di Lombok Nusa Tenggara Barat, Palu Sulawesi Tengah, hingga Mamuju Sulawesi Barat.
Direktur BMH, Supendi MM, mengungkapkan, masjid merupakan tempat kembali para korban bencana alam. Masjid memenuhi kebutuhan jiwa dan spiritual para penyintas bencana untuk menghadapi realitas dengan keimanan yang kuat.
“(Masjid Darurat) merupakan langkah penting agar masyarakat secara kebutuhan jiwa dan spiritual tetap dapat terlaksana dengan baik, sehingga mereka bisa menghadapi realitas atau trauma dengan nilai-nilai keyakinan yang kuat,” kata Supendi kepada
Langit7, Sabtu (31/12/2022).
Baca Juga: AQL Bangun Masjid Darurat, Penyintas Gempa Cianjur Bisa Sujud dengan Tenang
Supendi menjelaskan, pembangunan masjid darurat merupakan kebutuhan utama dan pertama bagi seluruh warga penyintas bencana alam. Sebab, secara psikologis, saat seseorang mendapati keadaan yang tidak diinginkan itu pasti menolak, menggugat, bahkan ada yang tidak mau menerima.
“Hadirnya masjid darurat itu akan memberikan solusi secara psikologi bagi masyarakat terdampak bencana dan pada akhirnya kebersamaan juga bisa dibangun dari masjid darurat itu sendiri yang satu sama lain bisa saling mengokohkan,” kata Supendi.
Kendati begitu, program Masjid Darurat dari BMH hanya bersifat sementara. Setelah kondisi kondusif, BMH akan membangun masjid permanen untuk para penyintas gempa. BMH juga memiliki program renovasi masjid untuk bangunan rumah ibadah yang roboh akibat bencana alam.
Baca Juga: Rumah Zakat Bangun Masjid Darurat untuk Penyintas Gempa Cianjur
“Karena bagaimanapun Masjid merupakan kebutuhan yang sangat hakiki pada setiap jiwa orang yang punya keyakinan,” kata Supendi.
Terkait mekanisme pembangunan, BMH selalu mengajak masyarakat bermusyawarah untuk memulai pembangunan. Kemudian, secara manajemen didesain sedemikian rupa agar masyarakat terlibat.
“Masyarakat luas dapat terlibat dalam program pembangunan selanjutnya terus secara berkelanjutan dilakukan upaya pembangunan secara simultan,” ujar Supendi.
(jqf)