LANGIT7.ID, Jakarta - Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) menilai UMKM memiliki potensi yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Sehingga mendorong sektor UMKM untuk meningkatkan penjualan, termasuk menjangkau pasar ekspor dan menopang rantai pasok industri.
Ketua Umum PP Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama), yang juga Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyebutkan, posisi UMKM dalam perekonomian nasional memiliki jumlah unit usaha yang besar. Selain itu, UMKM mampu berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja dan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
“Bayangkan jika tidak ada UMKM, maka tidak mungkin saat ini pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan untuk penduduk kita, maka UMKM menjadi hal yang sangat penting. Kontribusi lain UMKM adalah telah terbukti dapat menjadi katup pengaman pada saat terjadi krisis ekonomi di Indonesia. UMKM termasuk bidang ternyata mampu bertahan untuk tetap berjalan dan bisa menggulirkan perekonomian,” jelasnya dalam Webinar Perempuan dan Pengelolaan UMKM, Minggu (22/8).
Baca juga: Live Shopping UKM, Program Pemerintah Dorong Pertumbuhan UMKM di Era DigitalProduk UMKM dinilai memiliki kualitas yang cukup baik dan mampu bersaing di pasaran. Namun, belum meratanya penggunaan tren digital di kalangan UMKM menjadi kendala tersendiri untuk meningkatkan penjualan.
Saat situasi pandemi Covid-19 ini, merupakan momentum yang perlu dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk bisa bertansformasi menggunakan pemasaran online. Sehingga, akan menciptakan ruang dan peluang yang lebih luas.
“Tahun 2020, kami mencatat kurang lebih 750 UMKM di Jawa Tengah mendapatkan pukulan keras akibat pandemi Covid-19. Sampai dengan hari ini, sekarang sudah sekitar 35 ribuan, lebih keras lagi pukulannya. Ternyata kendala tertinggi sebesar 47,79 persen ada pada persoalan pemasaran. Kedua, adalah soal pembiayaan sebesar 25,7 persen, dan ketiga, sebesar 17 persen mengatakan terkendala akan produksi,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, pihaknya merasa perlu memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM untuk bisa menyelesaikan tantangan yang ada. Selain itu, usaha kecil karena kapasitas usaha dan keterbatasan SDM-nya menjadikan mereka membutuhkan bantuan sosial.
Apalagi, selama PPKM pelaku UMKM tidak dapat beroperasi secara optimal sehingga membutuhkan uluran tangan. Di samping itu, bantuan sosial ini juga perlu dibarengi dengan pelatihan penjualan online yang mau tidak mau harus dilakukan oleh pelaku UMKM untuk tetap bertahan di situasi pandemi.
“Kita sudah undang marketplace yang sudah menyandang gelar unicorn, mereka melakukan pendampingan dan pelatihan. Secara mengejutkan, ada pelaku usaha yang begitu on board selama dua jam setelah itu laku keras. Konseling ini penting karena mereka harus adaptif dan mau beralih kepada digitalisasi,” ujarnya.
Baca juga: Dukung Pemerintah, Grab Kerja Sama dengan UMKM Pengadaan Barang dan JasaSementara itu, Rektor Universitas Gadjah Mada, Panut Mulyono menyebutkan pandemi Covid-19 yang cukup dirasakan UMKM, perlu ada strategi yang dilakukan pemerintah untuk pemulihan ekonomi nasional dan menyelamatkan UMKM.
Ia menilai, UMKM dengan produk unggulan ekspor harus bisa difasilitasi agar dapat berkembang. Sehingga mampu membuat produk rantai pasok industri untuk memberi ruang agar bisa berperan lebih aktif sesuai dengan kompetensi masing-masing.
“Saat ini di era revolusi industri 4.0, digitalisasi menjadi sesuatu yang sangat marak, penggunaan IT juga dirasa cukup baik untuk UMKM. Digitalisasi menjadi hal penting untuk media promosi, pemasaran, dan rantai pasok,” jelasnya.
Dalam kondisi normal nanti, lanjut Panut, gerai produk UMKM tetap menjadi penting untuk sarana pemasaran produk. Sehingga, selain mengandalkan dari IT, dukungan terhadap gerai atau pun pusat UMKM juga masih perlu diberikan.
“Harapan kita UMKM Indonesia mampu menyediakan produk yang dapat menjawab kebutuhan dan keinginan pasar, meliputi kualitas, kuantitas, dan harga. Itu harapan kita semua, agar UMKM Indonesia semakin maju,” imbuhnya.
(zul)