LANGIT.ID, Jakarta -
Blue Monday dikatakan sebagai hari paling suram dalam setahun. Hari itu adalah hari Senin di pekan ketiga
Januari, tepatnya hari ini, 16 Januari 2023.
Konon, hari ini merupakan hari suram atau dianggap hari terburuk yang paling menyedihkan. Adapun kesuraman itu mencakup cuaca buruk,
kendala keuangan, hingga kegagalan resolusi di tahun baru.
Lantas benarkah demikian? Jawabannya adalah tidak!
Istilah Blue Monday atau Senin Kelabu pertama kali diciptakan pada tahun 2004 oleh seorang psikolog sekaligus
motivator, Cliff Arnall.
Saat itu ia ingin mencari formula ilmiah yang bisa menjelaskan fenomena Senin Kelabu setelah diminta oleh sebuah perusahaan travel.
Arnall mengaitkannya dengan gaji, motivasi, hutang, hingga cuaca menjadi rumus perhitungan matematika untuk membuktikan tingkat stres pada Blue Monday.
"Kesedihan di musim dingin adalah respons alami terhadap berakhirnya libur akhir tahun, sehingga mengaitkannya dengan patologi seperti 'depresi akut' yang diistilahkan sebagai Blue Monday adalah salah," kata kata profesor psikologi kesehatan di Birmingham City University di Inggris, Craig Jackson dilansir
Live Science, Senin (16/1/2023).
Menurutnya kaitan antara kesedihan dengan Blue Monday bermasalah secara etika. Pasalnya, tidak ada bukti penelitian kredibel yang menunjukkan bahwa Senin Kelabu lebih menyedihkan daripada hari lainnya.
"Bahkan hal itu juga bertentangan ketika disebut sebagai hari paling menyedihkan dalam setahun," katanya.
Jackson menyebutkan, adanya anggapan bahwa Blue Monday cukup heboh diperbincangkan di tengah masyarakat adalah karena pengaruh media.
"Hal yang lebih menyedihkan adalah karena media sebagai arus utama informasi memberi tahu orang-orang bahwa ini adalah Senin Kelabu."
"Sehingga berdampak pada ramalan yang seolah-olah benar-benar terjadi, yaitu menjadi hari paling suram. Padahal, orang-orang perlu tahu bahwa ini bukan fakta ilmiah," kata Jackson.
Blue Monday, lanjut dia, tidak lebih dari sebuah kampanye atau aksi kehumasan yang menjadi liar. Di mana orang-orang mulai melakukan cocoklogi terkait Blue Monday dengan kejadian suram seperti bunuh diri, krisis keuangan, penyakit, dan lainnya.
Depresi Tak Berkaitan dengan Blue MondayNamun, Jackson tak menampik bahwa musim dingin akhir tahun juga turut berperan dalam mengkatalisasi atau meningkatkan perasaan depresi dan kecemasan.
Gangguan afektif musiman, disebut juga sebagai "depresi musim dingin" adalah fenomena yang memengaruhi 1 - 10 persen orang.
"Sederhananya, gangguan ini adalah bentuk depresi dengan gejala mulai dari ringan hingga besar yang terjadi sebagian besar selama bulan-bulan musim dingin," ujarnya.
Hal itu didukung dengan berkurangnya kemunculan cahaya alami matahari yang mengakibatkan menurunnya aktivitas sosial.
Sehingga sangat mungkin fenomena musiman itu berkontribusi pada tingkat depresi seseorang. Bahkan tak menutup kemungkinan meningkatnya serangan penyakit seperti flu dan lainnya.
Apalagi dalam sebuah jurnal di tahun 2022 yang diterbitkan dalam The Journal of Allergy and Clinical Immunology, menemukan bahwa cuaca dingin dapat menurunkan kekebalan dan membuat orang lebih rentan terhadap virus.
"Namun hal itu tidak ada hubungannya dengan Blue Monday," kata Jackson.
Di sisi lain, organisasi nirlaba di Inggris, Foundation, mengungkapkan istilah Blue Monday berpotensi merusak kesejahteraan masyarakat.
Pasalnya istilah itu berpotensi menjadi tipu muslihat terhadap populasi untuk mempercayai bahwa mereka tak bisa memiliki kebahagiaan di hari ini.
"Parahnya istilah Senin Kelabu ini dapat menyesatkan orang-orang sehingga menyebabkan masalah kesehatan mental mereka," ujarnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 280 juta orang di dunia saat ini mengalami depresi yang merupakan masalah kesehatan yang kompleks.
Depresi dapat menyebabkan berbagai gejala variatif dari ringan hingga berat. Penyebabnya termasuk reaksi kimiawi, sosial, keadaan sulit, peristiwa masa lalu yang merugikan atau pengalaman traumatis sebelumnya.
"Membodohi pemahaman kita tentang depresi dan suasana hati yang buruk tidak akan menguntungkan siapa pun dan Blue Monday tidak relevan dalam hal ini," katanya.
(bal)