LANGIT7.ID, Jakarta - Pada Juli 2021 lalu, Muhammad Ainun Najib (Cak Nun) dan KH Ahmad Fuad Effendi (Cak Fuad) meluncurkan Mushaf Al-Qur’an
Tadabbur Maiyah Padhangmbulan. Mushaf tersebut merupakan
masterpiece terakhir Cak Fuad sebelum wafat pada Jumat (20/1/2023).
Cak Fuad sendiri merupakan ulama yang terkenal kepakarannya di bidang bahasa Arab dan diakui secara internasional.
Mushaf yang disertai narasi tadabbur setebal 860 halaman itu merupakan karya Cak Nun dan Cak Fuad sebagai marja’ (rujukan) untuk para jamaah Maiyah. Kata tadabbur merupakan pemilihan yang dinilai sesuai dengan kebutuhan jamaah Maiyah.
Baca Juga: Kakak Cak Nun, Ahmad Fuad Effendy Meninggal Dunia
“Mushaf Al-Qur’an, jadi kumpulan suhuf-suhuf Al-Qur’an. Terus ada halaman-halaman tadabbur dari Maiyah yang sudah dihimpun dari Cak Fuad hampir 30 tahun sampai sekarang,” kata Cak Nun saat berbincang-bincang dengan Cak Fuad di kanal caknun.com, dikutip Sabtu (21/1/2023).
Cak Fuad menjelaskan, kajian Al-Qur’an di Maiyah memang diarahkan kepada tadabbur. Jamaah Maiyah sangat heterogen, dan sebagian besar awam dalam ilmu-ilmu keagamaan.
Oleh karena itu, pengantar pemahaman yang diperlukan jamaah Maiyah bukan kajian ilmiah, tapi kajian imaniah amaliah. Jamaah Maiyah tidak terlalu membutuhkan pemahaman Al-Qur’an secara meluas dan mendalam, tapi cukup memahami makna ayat secara umum. Lalu, melakukan perenungan, penghayatan, dan mengamalkan di kehidupan nyata.
Kitab tafsir sudah banyak beredar di tengah masyarakat. Namun, kitab tafsir tidak menempati kebenaran absolut. Hanya Al-Qur’an yang memiliki kebenaran mutlak. Penafsiran-penafsiran dari ayat Al-Qur’an itu juga banyak menuai pro kontra. Tapi, bukan berarti tafsir tidak dibutuhkan.
Baca Juga: Mengenal Tadabbur Al-Quran dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari
Rasulullah juga menafsirkan Al-Qur’an. Begitu pun dengan para sahabat. Tafsir membantu umat Islam yang ingin mendalami makna-makna Al-Qur’an secara ilmiah. Tetapi, tidak semua jamaah Maiyah berasal dari kaum terpelajar. Ada tukang becak yang ingin memahami Al-Qur’an secara sederhana.
“Al-Qur’an diturunkan supaya ditadabburi. Berarti setiap orang yang baca Al-Qur’an mestinya bertadabbur. Berarti, tadabbur itu bisa dan boleh dilakukan oleh siapa saja, tentu saja pertama dia harus paham dulu ayatnya. Kalau tidak paham bagaimana mau tadabbur,” kata Cak Fuad.
Maka itu, Cak Fuad dan Cak Nun menerbitkan Mushaf Quran Tadabbur Maiyah Padhangmbulan untuk membantu jamaah Maiyah memahami Al-Qur’an. Hal terpenting, mereka bisa memetik hikmah dari satu ayat lalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Mengenang KH Ahmad Fuad Effendi, Pakar Bahasa Arab Rujukan Jamaah Maiyah
“Di zaman Rasulullah kan sederhana, hafal Al-Qur’an lalu diamalkan,” kata Cak Fuad. Maka, itu pilihan-pilihan ayat-ayat dalam mushaf itu pun disesuaikan dengan kebutuhan untuk pembangunan jiwa dan kehidupan.
Pada masa Rasulullah, para sahabat menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang turun langsung ditulis ke media-media tulis pada saat itu. kumpulan-kumpulan suhuf inilah yang mulai dikumpulkan pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq lalu dijadikan mushaf pada zaman Utsman bin Affan.
“Abu Bakar dan tim duduk menerima setoran hafalan dari sahabat yang pernah hafal Al-Qur’an. Tapi harus ada bukti, selain menghafalkan juga ada bukti tulisannya. Itu nanti yang dibandingkan dengan yang sudah tertulis di mushaf, lalu dikoreksi oleh penulis-penulis wahyu yang pernah ditunjuk oleh Rasulullah,” kata Cak Fuad.
(jqf)