LANGIT7.ID, Jakarta -
Demand akan
angkutan perkotaan terus anjlok seiring waktu. Kebiasaan masyarakat yang kian bergantung pada penggunaan kendaraan pribadi menjadi salah satu alasannya.
Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno mengatakan, ketergantungan masyarakat menggunakan kendaraan pribadi membuat angkutan perkotaan terancam punah. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya angkutan perkotaan di beberapa wilayah Indonesia yang sudah tidak lagi memadai.
"Kalaupun ada, hanya tinggal sisa armada yang masih mampu beroperasi apa adanya. Tapi sudah tidak bisa lagi melakukan peremajaan," kata dia dalam keterangan yang diterima
Langit7, Jumat (3/2/2023).
Baca Juga: Aturan Subsidi 7 Juta Motor Listrik Diumumkan Awal Februari 2023Untuk itu, dia berharap agar pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan prioritas sebagai upaya penyelamatan angkutan perkotaan. Termasuk intervensi pemerintah dalam meremajakan kembali dan mengembalikan daya saing angkutan perkotaan.
"Skema
Buy The Service mampu merealisasikan hal tersebut. Dalam penerapannya, pemerintah melakukan intervensi terhadap angkutan perkotaan," ujar Djoko.
Belum lagi, lanjut Djoko, manajemen transportasi skema
buy the service tidak menggunakan sistem setoran (pengemudi mendapat gaji bulanan). Namun, operator hanya berkonsentrasi pada pelayanan, dan pembayarannya sesuai dengan jarak (kilometer) layanan, dan mempunyai standar pelayanan tertentu.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata itu menambahkan, bukan hal yang mudah bagi pemerintah untuk mendorong peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi dan kendaraan umum.
"Karena itu, sudah sewajarnya layanan transportasi umum dipandang sebagai layanan dasar yang memang harus tersedia dan bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat," tambahnya.
Baca Juga:
19 Juta Orang Telah Gunakan Layanan MRT Sepanjang Tahun 2022
Pemprov DKI Jakarta Bakal Terapkan Jalan Berbayar, Ini Daftarnya
(gar)