LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah terus berupaya memperkuat industri furnitur rotan sebagai bahan baku dalam negeri yang memiliki nilai tambah dalam kontribusi perekonomian nasional.
Industri furnitur rotan tergolong ke dalam sektor esensial yang berorientasi ekspor sehingga menghasilkan devisa. Indonesia disebut memiliki potensi besar dalam pengembangan industri rotan yang berdaya saing global.
"Itu karena Indonesia memiliki ketersediaan sumber daya alam yang kaya dan sumber daya manusia yang terampil,” kata Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, dikutip dari keterangan resminya, Kamis (26/8).
Baca juga: Realisasi Belanja APBN Rp1.368 Triliun, Ini Rinciannya Saat ini, lanjut Putu, sejumlah industri esensial sedang melakukan tahap uji coba penerapan protokol kesehatan (prokes), dengan beroperasi dalam kapasitas 100 persen. Dalam penerapannya, pekerja atau pun karyawan akan dibagi jam kerja minimal menjadi dua shift.
Untuk memastikan uji coba tersebut berjalan baik, pihaknya mengaku akan secara aktif melakukan monitoring dan evaluasi.
“Misalnya, kami melakukan kunjungan kerja untuk memantau pedoman atau fasilitas yang dimiliki perusahaan dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19. Selain itu juga melihat langsung penggunaan aplikasi PeduliLindungi yang lebih memudahkan dan efektif,” ungkapnya.
Kemenperin mengapresiasi kinerja PT. Aida Rattan Industry, Cirebon, karena telah beroperasi secara penuh dan tetap mengedepankan prokes di tengah pandemi. Hal tersebut disampaikan Putu dalam kunjungan kerja Kemenperin pada hari ini, Kamis, 26 Agustus 2021.
Bahkan, pabrik yang memiliki total tenaga kerja 144 orang ini, 85 persen atau sebanyak 122 karyawannya telah divaksin. Selain itu, setiap fasilitas produksi di sektor industri juga mengedepankan penerapan prokes bagi para karyawannya, seperti penggunaan masker.
“Jadi sebenarnya tinggal diperketat lagi, mulai dari masuk, istirahat, hingga karyawan keluar dari pabrik. Prokes tetap harus dijaga sehingga menjamin semua sehat dan produksi berjalan baik,” ujarnya.
Putu mengaku optimistis, dengan tetap menjaga aktivitas produksi industri, akan memacu investasi dan penyerapan tenaga kerja. Hal ini dapat mengakselerasi upaya pemulihan ekonomi nasional, apalagi 100 persen produk yang dihasilkan oleh PT Aida Rattan Industry berorientasi ekspor.
“Pada Januari-Mei 2021, ekspor furnitur berbasis rotan menembus USD67,67 juta atau naik 31 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD51,62 juta,” ungkapnya.
Baca juga: Sistem Perdagangan Berubah, Pemerintah Harus Antisipasi Penerapan UU E-CommerceAdapun negara tujuan utama ekspor furnitur nasional, di antaranya Amerika Serikat, Italia, Jerman, Jepang, Belanda, Inggris, dan Perancis. Secara kumulatif, ekspor yang dikontribusikan oleh industri furnitur mencapai USD1,91 miliar sepanjang tahun 2020.
Terdapat 1.114 perusahaan di sektor ini yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dengan jumlah kapasitas produksi sebesar 2,9 juta ton per tahun dan total tenaga kerja yang terserap sebanyak 143.119 orang.
Kemenperin juga telah menginisiasi berbagai program dan kebijakan dalam meningkatkan daya saing industri furnitur tanah air. Seperti, menjaga ketersediaan bahan baku, memberikan insentif fiskal dan nonfiskal.
“Kami juga mengapresiasi PT. Aida Rattan Industry yang mempunyai program penanaman kembali rotan, sehingga kesinambungan bahan bakunya terjaga. Termasuk, upaya meningkatkan ekspornya yang memberikan kontribusi besar terhadap devisa,” terangnya.
(zul)