LANGIT7.ID, Jakarta -
Kebakaran merupakan bencana yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Bagi umat Islam, dalam menghadapi situasi darurat seperti itu, penting untuk tetap tenang dan memohon perlindungan kepada Allah.
Umat muslim sebenarnya sudah diingatkan oleh Rasulullah agar berhati-hati dan waspada terhadap bahaya api dan kebakaran. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, api ini adalah musuh kalian, maka apabila kalian tidur, padamkanlah ia!" (HR Bukhari Muslim).
Mengutip buku
Sukses Dunia-Akhirat dengan Doa-Doa Harian karya Mahmud Asy-Syafrowi, Rasulullah SAW telah mengajarkan doa saat melihat dan ditimpa musibah kebakaran. Doa tersebut diriwayatkan Imam an-Nasa’i dalam
Sunan al-Nasa’i bi Syarh al-Hafidz Jalal al-Din al-Suyuthi wa Hasyiyah al-Imam al-Sindi, Beirut: Dar al-Ma’rifah, tt, juz 8, h.678.
Baca Juga: Erick Thohir Minta Pertamina segera Usut Terbakarnya Depo Plumpangاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ وَالْحَرِيقِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tertimpa reruntuhan. Aku berlindung kepada-Mu dari jatuh dari tempat yang tinggi. Aku berlindung kepada-Mu dari tenggelam dan kebakaran. Aku berlindung kepada-Mu dari bujuk rayu setan ketika (menjelang) kematian (sakaratul maut). Aku berlindung kepada-Mu dari mati di jalan-Mu dalam keadaan melarikan diri. Aku berlindung kepada-Mu dari mati karena sengatan binatang.”
Selain itu, umat muslim juga dianjurkan untuk membaca takbir saat melihat kebakaran. Bacaan takbir itu berulang-ulang dan tulus karena Allah Ta’ala. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا رَأَيْتُمُ الْحَرِيْقَ فَكَبِّرُوا فَإِنَّ التَّكْبِيْرَ يُطْفِئُهُ
Baca Juga: Kebakaran Depo Pertamina Plumpang: 17 Korban Tewas, 50 Alami Luka Bakar“Jika kalian melihat kebakaran, maka bertakbirlah. Sesungguhnya, takbir memadamkan kebakaran.” (Imam Ibnu Sunni, ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, Beirut: Syirkah Dar al-Arqam bin Abi al-Arqam, 1998, h 184-185)
(jqf)