LANGIT7.ID-,Surabaya- - Di
era digital seperti sekarang ini, orang secara instan bisa terkenal. Secepat kilat terkenal, semudah membalik telapan tangan pula kepopuleran hilang.
Menjadi terkenal bukan hanya hak orang-orang tertentu. Namun, orang alim sudah selayaknya juga harus terkenal. Apalagi saat ini masyarakat sangat mudah mengakses tayangan di internet.
“Jika kalian semua sebagai santri yang setiap hari acaranya ngaji, tapi tidak bisa populer karena ilmunya, atau karena merasa ilmunya tidak pantas, merasa kurang mumpuni, maka siapa yang akan mengerti tentang kebenaran, sementara hal-hal yang bersifat kebenaran itu berada di tangan kalian,” kata Pengasuh Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, KH Muhammad Abdurrahman al-Kautsar dalam tayangan
YouTube.
Baca juga:
Viral Sultan Bojong Berangkatkan Umrah Warga 2 RT, Netizen: Masya Allah, BerkahPria yang akrab disapa Gus Kautsar ini juga mendorong mereka yang memiliki kapasitas juga untuk terkenal. Apalagi kepopulerannya tidak semata aksesoris, melainkan dilandasi oleh ilmu pengetahuan yang mumpuni.
“Jika kamu tidak bisa populer karena ngalim, maka akan ada orang-orang yang tidak begitu ngalim harus viral, terpaksa viral atau disuruh viral oleh pihak-pihak tertentu,” tegasnya.
Putra KH Nurul Huda Djazuli ini menginginkan agar semua orang di Indonesia mengetahui adanya ulama dan fuqaha (ahli fiqih), yaitu orang yang dalam mengeluarkan seluruh hukum atau fatwa selalu berlandaskan catatan-catatan yang bersifat paten dari Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Baca juga:
Muhammadiyah Ormas Terkaya di Dunia yang Pengurusnya Hidup SederhanaMaka dari itu, sebagai seorang yang berilmu jangan ragu dan gamang dalam berdakwah menyampaikan kebenaran. Termasuk terlibat dalam keputusan penting di gedung parlemen.
“Mbah Moen Sarang (KH Maimoen Zubair) pernah bercerita bahwa dulu kiai-kiai kita biasa duduk di gedung DPR RI. Artinya pengabdian yang dilakukan oleh Romo Kiai An'im Falahuddin Mahrus, misalnya, untuk duduk di Senayan adalah bukan hal yang baru,” ungkapnya.
Dengan demikian, mereka yang sudah memiliki kapasitas keilmuan agama sudah selayaknya tampil dan tidak lagi berada di balik layar.
“Dulu kiai kita sudah biasa di situ. Tidak hanya sekadar ikut memecah kebuntuan yang ada, tetapi beliau lebih diharapkan untuk menjadi payung hukum yang bersifat kebangsaan atau tata negara,” terangnya.
Gus Kautsar juga berharap agar semua perundang-undangan yang diluncurkan oleh para anggota dewan di Senayan berlandaskan hukum yang diputuskan lewat bahtsul masail baik yang dilaksanakan lintas pesantren dan Nahdlatul Ulama.(NU Online Jatim)
(ori)