LANGIT7.ID, Jakarta - Founder Al-Fahmu Institute
Ustaz Fahmi Salim membeberkan alasan banyaknya kalangan masyarakat golongan elite yang terjerat atau menggunakan narkoba. Selain gaya hidup, memahami agama hanya sebatas ritual semata menjadi salah satu faktor utama.
Orang yang memahami agama tidak komprehensif atau
kaffah cenderung merasa tidak perlu menghindari larangan-larangan Allah SWT yang termaktub dalam Al-Quran. Padahal, Islam mengatur semua sisi kehidupan manusia, guna mencapai kebahagiaan hakiki.
Beberapa penyebab masyarakat elite menggunakan narkotika antara lain:1. Menunjukkan Eksistensi DiriMasyarakat elite adalah orang-orang berpendidikan dan mapan secara ekonomi. Penyebab mereka menggunakan narkotika adalah ingin menunjukkan eksistensi diri. Semua ingin dicoba. Hendak mencari pengalaman baru, namun tidak sesuai dengan norma-norma agama.
"Mereka cari pegalaman-pengalaman baru yang tidak baik, karena mereka merasa memiliki strata sosial tinggi, semua sudah dicoba, lalu mereka coba-coba hal yang bertentangan dengan agama. Tidak sesuai dengan aturan agama," ucap Ustaz Fahmi Salim kepada
LANGIT7.ID, Kamis (8/7/2021).
2. Orang Tua Memberikan KebebasanUstadz Fahmi Salim berpandangan, pola pendidikan orang tua juga sangat berpengaruh. Kalangan elite biasanya membebaskan anak-anak mereka, tidak ada kontrol dari segi pemahaman dan pergaulan.
"Pola pendidikan dari orang tua yang membebaskan anak. Biasanya kalangan elit memiliki paham kebebasan individu. Paham itu cukup kental. Orang tua tidak bisa mengontrol atau tidak berhak memberika aturan yang ketat kepada anak-anaknya, serba demokratis, dan lain sebagainya," ucapnya.
3. Tidak Taat AgamaPenyebab selanjutnya adalah tidak taat kepada agama. Itu bisa menjadi bagian dari faktor yang menyebabkan anak memilih pergaulan yang salah.
4. Memahami Agama Secara Ritual SajaTidak bisa dipungkiri banyak anak yang menggunakan
narkoba justru dari keluarga yang kelihatan religius. Namun, kata Ustadz Fahmi Salim, religius dalam padangan mereka harus dilihat dulu. Rata-rata orang Indonesia religius atau beragam, tapi pemahaman tentang agama atau religi hanya pada ritual saja seperti salat, puasa, haji dan umrah.
"Ini di kalangan elit, dan kalangan bawah juga begitu. Mereka taunya religi itu salat, jumatan seminggu sekali, atau Idul Adha dan Idul Fitri. Nah, itu aja. Mereka kurang menghayati agama secara
kaffah atau secara komprehensif, seperti larangan-larangan," ujarnya.
Orang yang berpandangan seperti itu tidak menghiraukan larangan-larangan agama. Itu juga dipengaruhi paham kebebasan.
"Jangan melihat orang tuanya atau yang bersangkutan tampil dengan tampilan religius, tapi bisa jadi dia tidak memahami agama secara komprehensif, atau hanya kulit luar saja yakni hanya salat, puasa, salat jumat, haji umrah. Belum sampai pada karakter, pada pembentukan karakter, lalu ketakwaan yang kuat, takwa secara individu, takwa sosial, takwa profesional," ungkap beliau.
Beliau menjelaskan, ketakwaan dalam beragama tidak bisa dibatasi hanya dalam aspek individu saja. Ada ketakwaan sosial, publik, etika, dan ketakwaan profesi. Itu semua harus dipahami dan dipraktikkan secara baik. “Jadi, bukan hanya kesalehan individual saja,” tutur dia.
Cara Memilih Lingkungan yang BaikMemilih lingkungan kembali kepada karakter masing-masing. Dari keluarga dan pribadi. Jika seseorang memahami Islam secara komprehensif, meskipun berada di lingkungan yang tidak Islami, dia tidak akan terpengaruh. Kuncinya, ketakwaan yang kuat.
"Tapi juga harus hati-hati, kalau terlalu sering berinteraksi, kemudian sampai terpengaruhi, itu saya pikir lingkungan juga dapat mempengaruhi seseorang," tutur beliau.
(asf)