LANGIT7.ID-, Jakarta- - Di Buenos Aires, ibu kota Argentina terdapat
masjid yang sangat terkenal. Masjid yang terletak di Alberti St, tepat di tengah Kota Buenos Aires itu dibangun pada 1989. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang berdiri di berbagai kota di Argentina.
Bahkan, Argentina memiliki masjid terbesar di Amerika Latin bernama The King Fahd Islamic Cultural Center. Masjid itu selesai dibangun pada 1996 berkat bantuan dari pelayan Dua Masjid Suci, yakni raja Arab Saudi.
Luas masjid itu mencapai 20 ribu meter persegi. Luas tanah yang dihibahkan Pemerintah Argentina untuk pembangunan masjid itu mencapai 34 ribu meter persegi. Islamic Center bernilai 30 juta dolar itu terdiri atas masjid, perpustakaan, dua sekolah, dan sebuah taman. Masjid itu terletak di Palermo, Buenos Aires.
Selain itu sejumlah masjid juga tersebar di seluruh Argentina. Tiga masjid di antaranya di Kota Buenos Aires, yakni Masjid Al-Tauhid yang dibangun pada 1983 dengan bantuan dari Kedutaan Besar Iran di Argentina, dan Masjid Al-Ahmed dari CIRA yang didirikan pada 1986 dengan bantuan dari Arab Saudi dan Libya, serta King Fahd Islamic Cultural Center yang diresmikan pada 2000 atas inisiatif Kerajaan Arab Saudi untuk kaum Muslimin Argentina.
Baca juga:
Kehidupan Muslim di Argentina, Bebas Bangun Masjid dan BerdakwahMasjid yang ketiga inilah yang kemudian menjadi masjid terbesar, tak hanya di Argentina, tapi juga di Amerika Latin. The King Fahd Islamic Cultural Center merupakan masjid sekaligus pusat kebudayaan Islam yang berdiri atas hasil kunjungan kenegaraan Presiden Argentina, Carlos Menem, ke Arab Saudi pada 1995.
Pemerintah Argentina kemudian menghibahkan lahan seluas 34 ribu meter persegi untuk dibuat masjid dengan proyek dan dana dari Pemerintah Arab Saudi saat itu. Berkat bantuan dari raja Arab Saudi, masjid seluas 20 ribu meter persegi itu selesai dibangun pada 1996.
Dirancang oleh arsitek Saudi Zuhair Faiz. Tak hanya ruang ibadah, terdapat pula pusat budaya, perpustakaan, taman, sekolah Islam untuk tingkat dasar dan menengah, hingga asrama yang dapat menampung hingga 50 siswa. Sang arsitek berusaha membawa nuansa Masjid al-Haram di Makkah ke Buenos Aires.
Hal itu terasa dari penampakan dua menara masjid ini yang bentuknya persis menara-menara masjid di Tanah Suci. Di samping itu, gaya bangunan Ottoman (Turki) juga terlihat jelas, khususnya dari bentuk kubah utama yang memberi corak khas bangunan masjid ini.
Bangunan utama masjid ini dapat menampung hingga 1.600 orang jamaah. Selain tempat beribadah, Masjid ICC Buenos Aires juga dilengkapi dengan pelbagai fasilitas publik, antara lain sekolah, asrama untuk 50 murid, perpustakaan, taman dan kolam air mancur, pemancar radio komunitas, serta balai pertemuan.
Letak kompleks masjid ini sangat strategis. Tepat di seberangnya, terdapat stasiun kereta api. Sekitar 100 meter ke arah utara terdapat taman kota Paseo el Rosedal yang dipercantik dengan danau buatan. Selain itu, di sekitarnya ada pula Planetarium Galileo Galilei, Monumen de los Espanoles, dan kawasan apartemen.
Penampakan Masjid ICC Buenos Aires sekilas merupakan perpaduan tiga unsur budaya besar dalam peradaban Islam, yakni Andalusia (Spanyol), Hijaz, dan Turki. Tampilan bangunan utama masjid ini mirip benteng peninggalan zaman keemasan Islam di Spanyol, lengkap dengan tata ruang mezquita. Adapun kubah masjid ini menyerupai kubah masjid-masjid zaman Turki Ottoman.
Sementara, bentuk dua menara yang menjulang di kanan dan kiri kubah tersebut mengingatkan kita pada menara-menara Masjid al-Haram di Makkah. Secara keseluruhan, Masjid ICC Buenos Aires didominasi warna krem kecokelatan kecuali pada bagian depan atau arah kiblatnya, yang dilapisi kaca berwarna hijau.
Kompleks Masjid ICC Buenos Aires terdiri atas dua bagian, yakni bangunan utama untuk shalat dan mezquita atau tanah la pang yang dikelilingi tembok. Di tengah-tengah mezquita itu terdapat kolam air mancur.
Interior Masjid ICC Buenos Aires merupakan harmoni unsur-unsur Andalusia dan arsitektur modern. Pada lantai ruang utama shalat, terhampar permadani berwarna merah dan putih. Sementara itu, dinding ruangan tersebut berwarna krem tetapi sepi dari ornamen-ornamen.
Dengan begitu, kecenderungan gaya arsitektur modern tampak. Cahaya masuk melalui kaca jendela besar yang melapisi din ding bagian mihrab. Sinar matahari juga dapat menembus jendela-jendela kaca yang terdapat pada bagian bawah kubah utama.
Pada malam hari, sumber cahaya merupakan lampu-lampu listrik yang menempel pada langit-langit. Utamanya adalah lampu kristal besar yang menggantung tepat di bawah rongga kubah utama.
Corak ornamen geografis tampak menghiasi birai-birai jendela serta pintu-pintu masjid ini. Kebanyakan berbentuk bintang segi delapan yang tampak "teranyam" dengan pola-pola lain. Masjid ICC Buenos Aires terdiri atas dua lantai. Lantai dasar merupakan tempat jamaah pria melaksanakan shalat, sedangkan bagi jamaah perempuan disediakan tempat di bagian belakangnya atau lantai dua.
Pemerintah Argentina menjadikan Masjid ICC Buenos Aires bukan hanya rumah ibadah orang Islam, melainkan juga kawasan wisata bersejarah.
Maka itu, pihak masjid tersebut menyediakan jasa pemandu wisata bagi para pelancong yang ingin berkunjung. Namun, jam wisata masjid ini dibatasi hanya setiap Selasa dan Kamis. Para pengunjung pun diimbau mengenakan busana yang sepantasnya.

(ori)