LANGIT7.ID, Jakarta - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendukung adanya revitalisasi Danau Maninjau di Sumatera Barat. Kawasan Danau Maninjau dinilai sangat penting karena sudah masuk dalam kawasan strategis pariwisata nasional sehingga dapat menunjang potensi pariwisata wilayah sekitar.
Menparekraf Sandiaga Uno, mengatakan bahwa revitalisasi dilakukan agar Danau Maninjau bisa menjadi destinasi pariwisata berkelanjutan dan berkualitas.
"Kami dapat tugas dari Kemenkomarves untuk menata Danau Maninjau seperti kita menata Danau Toba. Berangkat dari pengalaman itu, kita tentunya harus mengutamakan kearifan lokal, kita ajak tokoh-tokoh daerah, tokoh agama, Ketua DPRD, bupati dan wakil bupati, tokoh ulama besar, juga UMKM," kata Sandiaga saat meninjau revitalisasi Danau Maninjau di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, seperti dikutip Sabtu (28/8).
Baca juga:
Mau Mendaki Gunung Dempo di Pagaralam, Ini SyaratnyaNamun, yang menjadi persoalan adalah sedimentasi yang tinggi akibat banyaknya Keramba Jaring Apung (KJA) yang belum tertata sesuai dengan daya dukung dan daya tampung danau. Sandiaga mengatakan pihaknya akan melakukan pendekatan yang sesuai dengan kearifan lokal, dengan menghadirkan program yang berpihak berkeadilan kepada masyarakat.
"Ini yang akan kami lakukan dengan melakukan diskusi dan melibatkan masyarakat dengan memperhatikan kearifan lokal. Mudah-mudahan bisa segera menemukan solusi," ujarnya.
Lebih lanjut, Sandiaga meyakini jika revitalisasi nantinya dapat memulihkan sektor parekraf di wilayah Sumatera Barat. Omzet yang didapatkan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga dapat meningkat.
"Meningkatkan omset, jadi bukan balik lagi ke Rp300 ribu tapi mudah-mudahan sehari Rp1 juta. Dan tadi harapannya karena anak-anak sudah selesai sekolah, hasilnya ini dapat meningkatkan hasil usaha atau pun membantu anak-anak sekolah," jelasnya.
Program revitalisasi Danau Maninjau diperkirakan menelan biaya hingga Rp237 miliar, khusunya untuk pengerukan sedimen sisa pakan dan kotoran ikan yang selama berpuluh-puluh tahun mengendap di dasar danau.
(sof)