LANGIT7.ID-, Jakarta- - Ketua Kelompok Riset Ekonomi Sirkular dalam Simbiosis Sumberdaya Alam Pusat Ruset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup (PR SPBPDH), Tri Martini, menilai perlu memikirkan kembali model ekonomi untuk menghindari dampak buruk dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem, serta kelangkaan sumber daya.
Menurut Tri, model ekonomi berdasarkan konsumsi sumber daya hayati untuk produksi pangan dan pakan, produk, dan energi mendapatkan momentum sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjawab isu-isu keberlanjutan.
"Dalam bioekonomi sirkular, sumber daya hayati dapat diperbarui, dikelola secara berkelanjutan, dipulihkan, dan digunakan kembali sebanyak mungkin," terang Tri dalam Webinar "Striving for Net Zero Emissions in Indonesia: Challenges and Opportunity", dikutip Rabu (9/8/2023).
Baca juga:
Dampak El Nino, 6 Provinsi Diprediksi Alami KekeringanPada kesempatan yang sama, Andrianto Ansari, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan, pengertian dari Net Zero Emission adalah mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebanyak mungkin, mengikuti hierarki karbon dan sejalan dengan lParis Agreement.
Hal tersebut mencakup seluruh rantai nilai untuk mengurangi karbon dan melibatkan berbagai pihak yang mencakup transportasi, produk dan layanan, juga limbah. Terdapat empat Strategi Net-Zero dalam pertanian yang disarankan.
Pertama, adaptasi yaitu dengan cara mengintegrasikan pepohonan ke dalam lanskap pertanian. Konversi penggunaan lahan dari padang penggembalaan menjadi perkebunan, hutan asli menjadi tanaman pangan, dan padang rumput menjadi tanaman pangan secara signifikan menurunkan stok karbon organik tanah.
Kedua, mengurangi emisi karbon. Ketiga, meningkatkan penyerapan karbon. Keempat, bioekonomi sirkular yaitu suatu model ekonomi dengan pendekatan sistem dalam kegiatan produksi hingga konsumsi. Hal itu dengan meminimalisir penggunaan sumber daya dan timbulan limbah (hasil samping), mempertahankan daya guna material, dan bersifat regeneratif.
"Sistem ekonomi kita saat ini didasarkan pada rantai nilai linier yang bergantung pada ekstraksi bahan mentah yang terus menerus dan meningkat. Saat ini hanya 8,6% dari total bahan yang diekstraksi yang didaur ulang ke ekonomi," ujar Andrianto
Emisi gas rumah kaca saat ini terus tinggi dengan tingkat emisi gas rumah kaca yang dapat menimbulkan kenaikan temperatur bumi rata-rata hingga 1oC. Semakin cepat adanya upaya pengurangan emisi CO2, maka kemungkinan untuk menjaga kenaikan temperatur bumi rata-rata untuk tidak melebihi 1,5oC akan lebih tinggi, dibandingkan apabila upaya pengurangan emisi tersebut tidak dilakukan secepat mungkin.

(ori)