Dalam beberapa bulan belakangan ini marak terjadi kasus-kasus kekerasan dan bunuh diri akibat terliling hutang khususnya pinjaman online.
Tekanan terjadi ketika perusahaan pinjol melakukan “psy war” kepada nasabahnya dengan cara mengancam dan menakut-nakuti orang yang tidak mau bayar bahkan dengan memberitahu khalayak dan kerabatnya agar ia membayar hutang
Bahkan akibat tekanan pinjol banyak pula masyarakat yang akhirnya melakukan kejahatan dengan menipu, terlibat perjudian, kekerasan bahkan membunuh orang lain demi mendapatkan uang atau bahkan membunuh diri sendiri karena malu tak mampu membayar dan tentu saja fenomena ini bisa merusakan kehidupan keluarga
Menurut data OJK tahun 2023 profesi masyarakat yang paling banyak terjerat pinjol adalah berprofesi sebagai guru sebesar 42%, korban PHK 21%, ibu rumah tangga 18%, karyawan 9%, pedagang 4%, pelajar 3%, tukang pangkas rambut 2%, pengemudi ojek online 1%
Baca juga:
Menjaga Marwah MasjidSecara teori ilmu psikologi dan ekonomi mengkaji faktor yang menyebabkan perilaku gemar berhutang adalah “ the pain of paying”. Seseorang tentu merasa bahagia saat mampu membeli mobil, rumah, handphone terbaru, atau barang-barang yang diidamkan namun konsekuensinya harus menjalani sulitnya membayar. Jadi berhutang demi kebahagaiaan sesaat
Namun, dengan adanya pinjaman dan kesulitan membayar ini secara psikologis berkurang dan seakan menjadi pilihan yang “memudahkan” hal ini karena kepuasan pembelian akan meningkat jika kesan “pain of paying” berkurang (Shin et al., 2020)
Namun yang menarik adalah kenapa seseorang gemar berhutang? Menurut Yosephine (2021) pada dasarnya seseorang yang gemar berhutang disebabkan karena dua hal, yaitu produktif dan konsumtif. Apabila seseorang berhutang karena produktif, maka hutang tersebut dipergunakan untuk membeli barang-barang yang nilainya bisa naik, artinya berhutang adalah strategi mendapatkan modal untuk kepentingan bisnis, dan ini banyak dilakukan para pelaku usaha
Namun seseorang yang berhutang karena konsumtif, maka hutang tersebut dipergunakan untuk membeli barang yang dikonsumsi, yang mana nilai barang tersebut dapat menurun seiring berjalannya waktu, sehingga berhutang karena konsumtif inilah yang berbahaya ketika sudah menjadi budaya
Menariknya riset terbaru Sari (2020) menemukan bahwa, faktor budaya adalah penentu dari semakin banyaknya orang gemar berhutang terutama pinjaman online, artinya pinjaman online bagi masyarakat saat ini bukanlah sebuah “opsi” atau pilihan tetapi sudah menjadi budaya yang dicontohkan dari satu orang ke orang lainnya.?
Demikian juga dengan guru yang terlilit hutang, fenomena ini tentu saja memprihatinkan, karena guru adalah profesi yang paling mulia dan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.
Faktor minimnya gaji guru bisa menjadi faktor utama, menurut data dari Kemendikbud rata-rata gaji guru honorer (Non-PNS) 50.000-350.000 per bulan, tergantung kemampuan sekolah masing-masing. jika diangkat PPPK, mereka dijanjikan gaji sebesar Rp. 2,9 juta per bulan, ditambah tunjangan dan sertifikasi.
Sedangkan pada guru PNS terdapat beberapa golongan. Saat ini untuk golongan I dibayar 480 ribu sampai dengan 2,5 juta per bulan. Sedangkan untuk golongan tertinggi atau golongan IV dibayar 2,8 juta sampai dengan 5,6 juta per bulan. Yang ini tentu saja akan berdampak kepada kualitas pendidikan di Indonesia
Ketika guru terlilit dan berurusan dengan pinjol, tentu saja akan berdampak kepada psikisnya dan dia akan menghadapi tekanan psikologis yang berat tentunya akan berdampak kepada kualitas mengajarnya
Namun menurut Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi keuangan oleh OJK 2022 juga menunjukkan adanya kesenjangan, meskipun tingkat inklusi sudah mencapai di atas 80% namun tingkat literasi masih di bawah 50%. Artinya jumlah masyarakat yang sudah dapat terjangkau layanan keuangan sudah relatif tinggi namun tingkat kecerdasan keuangan masih belum tinggi secepat pertumbuhan inklusi keuangan.
Fenomena gaya hidup
Kadangkala tidak semua orang berhutang karena kekurangan, namun ada juga soal gaya hidup
konsumerisme, gaya hidup berorientasi kebendaan, di satu sisi. Namun ada pada sisi lain ada hubungan juga dengan pertumbuhan e-commerce dan kemudahan untuk berbelanja bayar kemudian (buy now pay later), sehingga kecenderungan orang berhutang menjadi lebih besar karena ada faktor penarik dan kemudahan
Fenomena media sosial, gaya hidup pamer kekayaan (flexing). Semua variabel tersebut dapat berpengaruh signifikan bagi kelompok masyarakat yang memiliki tingkat kecerdasan keuangan rendah untuk terjerat ke dalam perangkap pinjol, baik yang legal maupun ilegal.
Untuk itu, pemerintah melalui OJK, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama dan lembaga pendidikan dapat memiliki peran untuk melakukan edukasi keuangan, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki tingkat literasi keuangan yang masih rendah.
Ketika seseorang terlibat dengan pinjaman online, maka ia pun melakukan perbuatan riba yang tentunya dilarang agama. Berhutang terus menerus bisa jadi ibarat “candu” dan orang yang berhutang tentu saja hidupnya tidak merdeka, karena ia akan terus dikejar penagih hutang dan tentu saja hidupnya tidak akan tenang
Namun sebuah syair lagu minang yang berjudul “ amak manyuruah pulang” dalam syair lagunya mengatakan yang intinya “kalau berhutang tenang saja, karena negara pun berhutang”
Negara ternyata juga menjadi rujukan rakyat, ketika Negara “terlilit hutang” tentu saja menjadi rujukan bagi rakyat, apalagi hutang digunakan hanya untuk projek yang menguntungkan segelintir orang saja dan dampaknya tidak langsung dirasakan rakyat kecil
Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada triwulan II 2023 sebesar USD396,3 miliar atau sekitar Rp6.079 triliun
Di hari kemerdekaan ini, marilah kita bertekad untuk bisa merdeka dari gaya hidup dan perilaku yang gemar berhutang, khususnya hutang karena gaya hidup dan perilaku konsumtif, hiduplah pada level kita, jangan sampai memaksakan diri demi harga diri
Pelawak haji bolot ketika ditanya kenapa hidupnya bisa usia panjang dengan simpel dia jawab “ kalau gak punya uang, jangan beli, hidup apa ada nya jangan iri dengan kesuksesan orang”
Muhammad Iqbal, Ph.D Psikolog
Assoc Prof Universitas Paramadina
(ori)