LANGIT7.ID, Jakarta - Imam Besar Masjid Istiqlal mengungkap alasan tak ada klaster baru akibat ibadah berjamaah. Setelah sepekan masjid dibuka, belum ada kasus Covid-19 yang muncul dari lingkungan jamaah.
Imam masjid, KH Nasaruddin Umar mengatakan, baru-baru ini Masjid Istiqlal menjalani pengecekan Covid-19. Setelah melakukan pemeriksaan, tak ada kandungan virus dari sampel-sampel yang diujikan.
"Padahal ini kan sudah mulai terbuka. Mereka juga sangat terkagum-kagum. Lalu dites sekali lagi apa benar ternyata temuannya juga belum ada," kata Nasarudin, Senin (30/8/2021).
Baca Juga: Kuatkan Kampanye Islam Moderat, Masjid Istiqlal Latih Pengurus Berbahasa InggrisMenurut dia, masjid bersih dari kontaminasi virus karena arsitektur masjid ramah lingkungan. Lubang ventilasi sangat banyak, tak ada pintu dan jendela membuat sirkulasi udara di ruang ibadah sangat aktif.
"Jadi angin bebas keluar masuk, biar pun tidak ada AC tapi dingin terasa. Nah itu juga bisa menjadi penghemat listrik. Udara juga segar, serta pencahayaan terang jadi kita tak perlu penerangan di siang hari," ujarnya.
Kemudian, tempat kerumunan masyarakat sangat strategis karena ruang udaranya sangat tinggi. Ruang shalat utama berada pada lantai pertama dan sangat terbuka. Jaraknya yang sangat jauh dari langit-langit membuat udara terus bersirkulasi.
"Dome itu sangat besar di atas, sehingga sirkulasi udaranya berputar sangat leluasa karena langit-langit sangat tinggi."
Mengutip WHO, sistem ventilasi yang baik akan memaksimalkan pergantian udara jenuh ke udara bersih untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas udara. Ventilasi dapat dicapai secara alami atau dengan memasang sistem mekanis.
Penyebaran Covid-19 paling sering terjadi ketika orang yang terinfeksi berada dalam kontak dekat. Risiko penyebaran virus lebih tinggi di ruang yang ramai dan berventilasi buruk di mana orang menghabiskan waktu lama bersama di dekatnya.
Ventilasi dalam ruangan dapat mengurangi risiko penyebaran virus di dalam ruangan. Namun, efektifitas ventilasi mencegah penyebaran Covid-19 tidak berdiri sendiri. Penerapan protokol kesehatan harus dilakukan sebagai bagian dari paket pencegahan.
(bal)