LANGIT7.ID-, Jakarta- - Kedudukan
wudhu dalam Islam sangat penting. Itu karena bersuci merupakan salah satu syarat sah shalat. Namun terkadang didapati orang berbicara saat saat sedang berwuddhu.
"Kembali kepada hadits, jika berbicara tidak membatalkan wudhu, namun kehilangan kesempatan diampuni dosa-dosa," kata UAH sambil mengutip Hadits Muslim no.33 dalam kajian daring, dikutip Kamis (31/8/2023).
UAH menegaskan, jika ingin menyempurnakan shalat, maka harus menyempurnakan wudhu terlebih dahulu. Dia lalu menjelaskan tata cara berwudhu yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Pertama, kata dia, basuh wajah yakni mengambil air di telapak tangan lalu ditumpahkan ke wajah. Kemudian membasuh tangan sampai siku. Untuk tangan, UAH mengingatkan, perintahnya adalah dari tangan sampai siku.
Baca juga:
Alhamdulillah, Adzan Bebas Berkumandang Tanpa Izin di New York"Dari tangan sampai siku, itu yang paling benar. Ambil airnya, dari tangan basuh sampai ke situ. Ini sederhana, namun maknanya luar biasa. Tajam maknanya, ini yang menafsirkan nabi, ini hadits muslim no 33," ucap UAH.
Wudhu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menggugurkan dosa-dosa. "Dosa kecil, sepanjang bukan dosa besar. Kapan shalat akan menggugurkan dosa, dimulai dari wudhu. Oleh karenanya wudhu sangat penting," kata UAH.

Rasulullah SAW sudah mengabarkan, orang yang berwudhu dengan benar akan menggugurkan dosa-dosa. Setiap basuhan air akan menggugurkan dosa.
Selanjutnya mengusap kepala. Banyak orang salah paham sehingga yang dibasuh hanya rambut. "Yang diusah kepala bukan rambut, saat kita wudhu kita mengusap kepala," ucap UAH. Setelah itu, wudhu diakhiri dengan membasuh kaki sampai mata kaki.
Proses ini harus dilakukan dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW agar bisa mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Perintah wudhu ini tercantum dalam Al-Qur'an Surah Al-Maidah ayat 6. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur." (QS Al-Maidah: 6)
UAH menjelaskan, orang-orang yang berwudhu akan mendapatkan cahaya terang dari Allah SWT. Cahaya berarti akan memiliki perbuatan yang baik, tutur kata yang baik, dan ahlak yang baik.
"Secara bahasa, wudhu itu berasa dari kata wadho'ah, yang berarti cahaya yang terang, sinar yang terang atau aura kebaikan yang tampak," kata UAH.
(ori)