LANGIT7.ID-, Jakarta- - Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, menilai kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan internet (Internet of things) berpengaruh pada manusia sebagai pemimpin.
Dia menjelaskan, masa depan akan ditandai perkembangan kecerdasan buatan yang luar biasa dan internet segala rupa. Tidak sulit mempercayai hal tersebut, karena hari ini masyarakat sudah menjadi saksi perkembangannya.
“Korbannya pun sudah berjatuhan, termasuk tergerusnya beberapa lapangan pekerjaan,” kata Fathul saat menyampaikan pidato wisuda UII, dikutip Kamis (5/10/2023). Menurut Fathul, perkembangan itu bisa mengancam keberadaan manusia sebagai pemimpin. Tetapi, bisa pula tidak mengancam keberadaan manusia sebagai pemimpin.
“Atau, pertanyaan yang lebih tepat dan optimistik adalah: kualitas diri seperti apa yang harus dikembangkan untuk menjadi pemimpin masa depan? Banyak teori atau konsep yang dikembangkan dan beredar,” ucap Fathul.
Maka itu, seorang pemimpin memiliki setidaknya dua hal untuk mengimbangi perkembangan tersebut, yakni kreativitas (creativity) dan kasih sayang (compassion). Kreativitas berarti tentang cara melihat sesuatu dari perspektif baru.
Baca juga:
Masjid Rani Sipri di India, Tempat Ibadah Muslim yang Dibangun Ratu HinduManusia dituntut mempunyai kapasitas menghubungkan titik-titik yang bahkan dalam pandangan pertama tidak relevan. Titik-titik tersebut dapat berupa pengetahuan, pengalaman, teknologi, konsep, komponen, atau aktor masa lampau yang sudah kita ketahui atau pelajari.
“Kreativitas sejatinya tidak berada dalam ruang kosong yang bebas dari masa lalu,” ujar Fathul.
Manusia hari ini merupakan dampak dari pilihan-pilihan kita di masa lampau. Kreativitas yang berujung pada inovasi yang dapat diterima oleh banyak orang akan mempercepat perubahan yang inginkan di masa depan.
“Inilah tugas utama pemimpin: membuat perubahan menuju ke arah yang lebih baik,” ungkap Fathul.
Perubahan yang permanen tidak mungkin dijalankan seorang diri. Pemimpin harus menggerakkan orang lain. Maka diperlukan kemampuan untuk menunjukkan kasih sayang. Pemimpin dituntut mengajak orang lain bergerak bersama.
Gerak bersama yang paling indah adalah yang dapat dinikmati oleh sebanyak mungkin warga organisasi. Itu tampaknya sulit tanpa atmosfer kasih sayang yang kuat yakni saling percaya, saling memahami, saling menghormati, dan saling mengapresiasi.
“Di sinilah diperlukannya memimpin dengan hati,” ucap Fathul.
Jonathan Raymond (2026) dalam bukunya yang berjudul Good Authority, menuliskan, tantangan terbesar dalam memimpin adalah menunjukkan bahwa diri warga organisasi, termasuk pimpinan, berharga dan kredibel di mata orang lain.
“Untuk itu dibutuhkan penciptaan ruang yang membuat setiap warga organisasi dapat melihat nilai yang dia dapat kontribusikan,” tutur Fathul.
Bagi Raymond, otoritas yang baik, yang dimiliki oleh pemimpin, bukan yang memberikan tekanan berlebihan, tapi justru yang memberikan ruang kepada warga organisasi untuk menemukan arti kehadiran dirinya di organisasi. Jika ini terjadi, maka semua warga organisasi akan menjadi makhluk dewasa yang bergerak bersama dengan sepenuh hati, yang dilingkupi dengan kasih sayang, antar sesamanya.
“Pemimpin menunjukkan rasa sayang kepada yang dipimpin, dan sebaliknya. Hal ini akan membentuk iklim organisasi yang sehat. Kolaborasi, misalnya, tidak mungkin tanpa ini,” ungkap Fathul.
Dalam konteks relasi, setiap dari ini akan bertindak sebagai pemimpin (leader) atau pengikut (follower). Seorang pengikut dalam konteks lain juga menjadi pemimpin. Maka itu, setiap orang harus sadar peran.
Kesadaran ini juga mewujud dengan perasaan suka cita menerima penugasan yang diberikan oleh organisasi. Pemimpin dalam mengambil keputusan tak jarang mempertimbangkan lebih banyak variabel dibandingkan dengan yang digunakan oleh setiap individu atau kelompok dalam organisasi.
K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus), dalam pengajian Jumat pagi beberapa tahun silam di Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang memberikan metafora terkait hubungan pemimpin-pengikut, yang kira-kira terjemahan dari aslinya yang dalam bahasa Jawa sebagai berikut:
“Jadi orang itu harus sadar peran. Kalau jadi imam, ya paham jemaahnya. Kalau milih bacaan jangan panjang-panjang, karena mungkin ada yang sudah sepuh atau mempunyai tugas lain yang menunggu ditunaikan. Begitu juga ketika jadi makmum. Hormati dan ikuti imam. Kalau imam sudah rukuk ya ikut rukuk, jika bangun dari sujud ya ikut. Jangan imam sudah bangun, malah baru mulai sujud.”
“Lagi-lagi, tanpa rasa sayang yang memungkinkan kita tergerak memahami orang lain, tampaknya mustahil pemahaman ini akan muncul. Kreativitas dan kasih sayang, merupakan dua hal yang sampai hari ini, manusia masih menjadi juaranya,” Ujar Fathul.
(ori)