Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 28 November 2023
home masjid detail berita

Ini Alasan Ada Orang Rela Mati Demi Membela Tanah Air

Muhajirin Selasa, 31 Oktober 2023 - 19:00 WIB
Ini Alasan Ada Orang Rela Mati Demi Membela Tanah Air
ilustrasi
skyscraper (Desktop - langit7.id)
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pimpinan Pondok Modern Tazakka Batang, KH Anang Rikza Masyhadi, menjelaskan, patriotisme merupakan sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya demi kejayaan dan kemakmuran Tanah Air.

Ada banyak patriotisme di seluruh dunia dengan sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran Tanah Airnya. Patriotisme ini akan bertemu dengan konsep nasionalism.

Nasionalisme adalah suatu pemahaman yang menciptakan dan mempertahankan kepemilikan negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

Dengan kata lain, rasa nasionalisme bisa muncul saat solidaritas dibutuhkan, seperti saat saudara sebangsa dan senegara tertimpa musibah atau hal yang kurang beruntung. Maka, ketika bangsa ini diusik kedaulatan dan kehormatannya, nasionalisme akan bangkit secara kolektif untuk melawan.

“Untuk melakukan perlawanan itu dibutuhkan sikap patriotisme dalam diri masing-masing orang,” tutur KH Anang saat menyampaikan khutbah di Masjid Istiqlal Jakarta, dikutip Selasa (31/10/2023).

Baca juga:Gus Idham-Neng Umi, Dua DaI Muda Yang Sedang Naik Daun

Islam memandang penting patriotisme dan nasionalisme sebagai bagian dari fitrah setiap orang. Menurut pandangan Islam, seseorang yang mencintai keluarga, dan tanah kelahiran, maka itu adalah merupakan fitrah yang timbul dari kesucian hati setiap orang. Hal ini disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 66.

Dalam ayat tersebut, rasa cinta kepada kampung halam digambarkan mengakar pada setiap orang. Maka, setiap orang akan melakukan apapun untuk mempertahankan Tanah Air, bahkan jika harus mempertaruhkan yawa.

Bahkan, Nabi SAW pernah secara tegas mengatakan, andaikata kaumnya di Makkah tak mengusir, maka beliau tak akan keluar dari Makkah. Ketika di Madinah, Rasulullah SAW mengatakan: “ketika Nabi Ibrahim AS menyucikan dan mendoakan untuk kebaikan Makkah, maka aku pun akan menyucikan Madinah sebagaimana Ibrahim melakukannya untuk Makkah” (HR. Muttafaq Alaih).

Dalam konteks nasionalisme, dalam surat Al-Mumtahanah ayat 9, Allah melarang berkawan dengan orang-orang yang jelas-jelas memusuhi agama dan mengusir dari kampung halaman, juga dengan orang-orang yang membantu mereka.

Nasionalisme mengharuskan persaudaraan yang tulus tanpa membeda-bedakan suku, ras dan warna kulit. Maka itu, beberapa sahabat tetap menyandang gelar suku dan asal daerahnya, seperti Salman Al-Farisi (karena ia berasal dari Persia), Bilal Al Habasyi (berasal dari Habasyah / Etiopia), Shuhaib Al-Rumy (ia berasal dari Iraq, namun karena desanya pernah diserang sama tentara Romawi dan dia dijadikan budak selama kurang lebih 20 tahun di Romawi); dan lain sebagainya.

“Artinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghargai perbedaan-perbedaan itu dan membiarkannya hidup dalam harmoni,” ujar KH Anang.

Menurut KH Anang, jiwa patriotisme dan nasionalisme penting dimiliki oleh setiap orang di negeri ini, sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mengajarkannya demikian. Maka itu, setiap orang harus menumbuhkan sikap persaudaraan antar sesama anak bangsa tanpa membedakan warna kulit, suku, ras dan adat-istiadat.

”Saatnya kita bersatu padu untuk kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan bangsa ini. Sebagaimana para pahlawan dulu dengan jiwa patriotismenya mengusir penjajah dari negeri ini dengan segenap jiwa, raga dan hartanya, maka saatnya kini kita rawat dan kita isi negeri ini dengan semangat patriotisme yang sama untuk mewujudkan kedamaian, kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan,” ujar KH Anang.

(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
right-1 (Desktop - langit7.id)
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 28 November 2023
Imsak
03:56
Shubuh
04:06
Dhuhur
11:44
Ashar
15:08
Maghrib
17:57
Isya
19:11
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan