LANGIT7.ID- Di sebuah pagi yang berdebu di dataran Naqyus, sejarah Mesir Islam berubah arah oleh keberanian seorang prajurit yang namanya tak tercatat dalam banyak kitab besar. Haumal—seorang lelaki sederhana dari barisan Muslim—melangkah maju menjawab tantangan duel panglima Romawi berperisai emas. Pertarungan itu, sebagaimana dicatat Muhammad Husain Haekal dalam
Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan, berlangsung lama, indah, dan mematikan. Dua tombak patah, dua pedang beradu, dua pasukan berhenti bernapas menyaksikan.
Dalam duel itu, ketika panglima Romawi menerkam untuk mengakhiri duel, Haumal menyambutnya dengan satu tebasan yang menentukan. Musuh roboh. Haumal sendiri luka parah—luka yang membawanya pada kematian beberapa hari kemudian. Tapi pengorbanannya menyulut sesuatu yang lebih besar daripada kemenangan personal.
Dari kejauhan, barisan Muslim bergerak seperti gelombang yang tiba-tiba menemukan anginnya. Semangat yang tadinya terkurung oleh ketatnya benteng Romawi meledak. Sejarawan Philip K. Hitti dalam
History of the Arabs (1951) menyebut bahwa dalam banyak pertempuran awal Islam, duel penentu seperti itu kerap menjadi katalis psikologis yang mengubah arah perang. Haumal menjadi katalis Naqyus.
Setelah panglima Romawi rebah, moral pasukan Bizantium runtuh. Mereka berbalik lari ke Iskandariah, meninggalkan jembatan dan jalan yang mereka rusak sendiri. Pasukan Muslim mengejar tanpa ragu, merasa kemenangan telah digariskan. Hugh Kennedy dalam
The Great Arab Conquests (2007) menjelaskan bahwa di Mesir, barisan Arab sering didukung penduduk setempat—orang-orang Kopti yang selama ratusan tahun mengalami tekanan administratif dan religius di bawah Romawi. Di Naqyus, dukungan itu datang dalam bentuk perbaikan jalur, makanan, dan sambutan hangat.
Orang-orang Kopti, tulis Haekal, menyambut pasukan Muslim dengan kegembiraan. Mereka tahu betul bagaimana pasukan Romawi memperlakukan desa-desa: merampok ternak, merusak ladang, memaksa persembunyian para pemuka gereja. Penindasan itu meninggalkan jejak yang panjang sejak masa pra-penaklukan.
Sejarawan J. W. Barker dalam
Empire of Byzantium (1966) mencatat bahwa Mesir pada abad ketujuh merupakan wilayah paling tegang dalam orbit Bizantium karena perpecahan internal gereja dan beban pajak yang menyesakkan. Kembalinya Romawi ke Iskandariah menyalakan kembali ingatan pahit itu.
Di sisi lain, Amr bin As—komandan penakluk Mesir—mengejar pasukan Romawi hingga tembok Iskandariah. Ia menyesal, tulis Haekal, pernah membiarkan benteng itu tetap berdiri ketika pertama kali menaklukkan kota. Kini, benteng kukuh itu berdiri seperti pengingat kelalaian administratif. Pasukan Romawi menutup rapat pintu kota, memasang manjaniq di menara, dan menembakkan batu ke siapa pun yang mendekat.
Pengepungan berlangsung dalam kabut sejarah. Sumber-sumber Arab dan Bizantium tidak sepakat. Ada yang menyebut seorang penjaga membelot, ada yang menuliskan penerobosan paksa. Yang jelas, catatan sejarawan seperti al-Maqrizi dan Haekal sepakat: pasukan Muslim akhirnya menerobos Iskandariah dengan paksa, membunuh sebagian pasukan yang bertahan, dan mengamankan kota setelah pertempuran yang membakar sebagian wilayah.
Amr kemudian membangun Masjid ar-Rahmah di tempat dihentikannya pertumpahan darah. Sebuah simbol bahwa kota yang sejak Ptolemaios dikenal sebagai ruang kosmopolitan kini memasuki babak pemerintahan baru. Ketika suasana mereda, Uskup Benyamin—tokoh besar Gereja Koptik—kembali setelah sebelumnya melarikan diri dari penindasan Romawi. Ia meminta Amr menjaga penduduknya dan menghindari perjanjian damai dengan Romawi yang dianggap telah menyalahi kesepakatan sebelumnya.
Amr, menurut Haekal, memenuhi permintaan itu. Bahkan lebih jauh: ia mengembalikan harta penduduk desa yang dirampas pasukan Romawi. Ternak, peralatan, barang pribadi—semua dikembalikan setelah masing-masing pemilik membuktikan klaim mereka. Kebijakan itu mengukuhkan kembali kepercayaan penduduk Mesir terhadap pemerintahan Muslim, seperti dicatat Ira M. Lapidus dalam
A History of Islamic Societies (2014), yang menyebut model administrasi awal Islam sebagai kombinasi militer, hukum, dan pragmatisme sosial yang efektif.
Dan Haumal? Ia tak menyaksikan kemenangan itu. Jenazahnya diangkat dari medan perang beberapa hari setelah duel, dibawa ke Fustat dalam upacara kehormatan. Al-Maqrizi menuliskan bahwa Amr sendiri mengusung keranda pahlawan itu hingga pemakaman di Muqattam.
Syahid yang tidak sia-sia.
Di belakangnya, kemenangan bergerak seperti gelombang—gelombang yang ia bangunkan sendiri dengan satu tebasan pedang.
(mif)