LANGIT7.ID-, Jakarta- - Dalam sebuah kajian Ustadz Adi Hidayat, diungkapkan rahasia melipatgandakan pahala dalam membaca Al-Quran melalui pemahaman ilmu arudh. Ilmu ini, yang merupakan salah satu cabang ilmu bahasa Arab, memberikan wawasan baru tentang cara menghitung pahala berdasarkan huruf yang diucapkan, bukan sekadar yang tertulis.
Ustadz Adi menjelaskan bahwa dalam ilmu arudh, yang dihitung bukanlah simbol yang tertulis, melainkan bunyi yang terdengar saat dibaca. Hal ini membuka perspektif baru dalam memahami hadits Nabi tentang pahala membaca Al-Quran.
"Jangan antum menghitung apa yang tertulis, tapi hitung bagaimana itu dibaca lewat bunyi yang terdengar," ujar Ustadz Adi Hidayat, menekankan pentingnya memahami konsep ini, dikutip Selasa (30/7/2024).
Sebagai contoh, kata "alif" yang biasanya dianggap satu huruf, sebenarnya terdiri dari empat huruf saat diucapkan: hamzah, alif, lam, dan fa. Dengan pemahaman ini, jumlah pahala yang didapat bisa jauh lebih besar dari yang umumnya diperhitungkan.
Lebih lanjut, Ustadz Adi mengaitkan konsep ini dengan ayat Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 261 yang berbicara tentang pelipatgandaan pahala. Ayat ini sering digunakan sebagai rujukan dalam hal sedekah, namun prinsipnya dapat diterapkan dalam berbagai bentuk amal, termasuk membaca Al-Quran.
Ustadz Adi juga menyoroti keutamaan menghafal Al-Quran dibandingkan sekadar membacanya. Mengutip surah Al-Qamar ayat 17, 22, 32, dan 40 yang berulang kali menyebutkan kemudahan Al-Quran untuk diingat, ia menyimpulkan bahwa pahala menghafal bisa mencapai empat kali lipat dibandingkan hanya membaca.
"Sungguh telah kami mudahkan Al-Quran untuk dihafalkan, diingat 4 kali disebutkan. Maka ada yang menyebutkan menghafal Quran itu keutamaannya 4 kali dibandingkan dengan sekedar membaca," jelasnya.
Untuk memaksimalkan pahala, Ustadz Adi menyarankan untuk membuat agenda harian yang mencakup membaca dan menghafal Al-Quran. Ia mengusulkan target minimal membaca satu halaman dan menghafal satu ayat setiap hari.
"Kalau antum sudah punya kebiasaan begitu, demi Allah saya katakan, Allah akan merubah keadaan hidup Anda jadi lebih nyaman," tegasnya, meyakinkan para jemaah tentang manfaat konsistensi dalam berinteraksi dengan Al-Quran.
Selain itu, Ustadz Adi juga membahas keutamaan lain bagi para penghafal Al-Quran, termasuk terjaganya jasad di alam kubur, pemberian mahkota di akhirat, dan kesempatan memberikan syafaat kepada anggota keluarga. Ia merujuk pada Quran surah Fathir ayat 33 dan Ar-Ra'd ayat 23-24 yang menggambarkan kemuliaan yang akan diterima oleh ahli Quran di surga.
Sebagai inspirasi, Ustadz Adi menceritakan tentang Utsman bin Affan, sahabat Nabi yang terkenal kaya namun juga sangat tekun dalam ibadah dan menghafal Al-Quran. Utsman dilaporkan memiliki kebiasaan mengkhatamkan Al-Quran dalam shalat tahajudnya.
"Uthman itu di antara sahabat yang disebutkan oleh Imam An-Nawawi, bersama Abdul Rahman bin Auf, bersama Tamim Ad-Dadi, yang diikuti kemudian oleh Imam Ash-Shafi'i generasi setelahnya. Jauh setelahnya, itu punya amalan. Kalau malam, terbiasa menghatamkan Al-Quran dalam tahajudnya," papar dia.
Ustadz Adi juga menyinggung hadits yang menyebutkan keutamaan bagi mereka yang masih terbata-bata dalam membaca Al-Quran. Menurut hadits tersebut, mereka yang kesulitan justru mendapatkan dua kali lipat pahala dibandingkan yang sudah lancar, sebagai apresiasi atas usaha dan perjuangan mereka.
Dengan pemahaman dan praktik yang diuraikan dalam kajian ini, diharapkan umat Islam dapat lebih termotivasi untuk meningkatkan interaksi mereka dengan Al-Quran. Baik melalui membaca maupun menghafal, setiap usaha untuk mendekatkan diri dengan kitab suci ini dijanjikan memiliki nilai dan pahala yang berlipat ganda di sisi Allah SWT.
(lam)