LANGIT7.ID-, Jakarta- - Inggris dipenuhi dengan aksi kekerasan dan kerusuhan selama seminggu terakhir, ketika massa yang meneriakkan slogan-slogan anti-imigran dan Islamofobia bentrok dengan polisi. Sejumlah masjid pun dilempari batu.
Kerusuhan ini dipicu oleh aktivis sayap kanan yang menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi yang salah tentang serangan pisau yang menewaskan tiga gadis saat acara dansa bertema Taylor Swift.
Masyarakat di seluruh Inggris terkejut dengan apa yang digambarkan polisi sebagai “serangan pisau ganas” yang menewaskan tiga gadis berusia antara 6 dan 9 tahun pada tanggal 29 Juli di Southport, sebuah kota tepi laut di utara Liverpool. Delapan anak-anak lainnya dan dua orang dewasa terluka.
Baca juga:
Penyebab Kerusuhan Anti-Islam & Anti-Imigran Terjadi di InggrisPolisi menahan tersangka berusia 17 tahun. Desas-desus, yang kemudian dibantah, dengan cepat beredar di media sosial bahwa tersangka adalah seorang pencari suaka, atau seorang imigran Muslim. Melansir abcnews.go.com, Selasa (6/8/2024).
Keesokan harinya, ketika orang-orang berkumpul untuk saling menghibur dan meletakkan bunga di lokasi penusukan sebagai ungkapan bela sungkawa, ratusan pengunjuk rasa menyerang sebuah masjid setempat dengan batu bata, botol, dan batu.
Polisi mengatakan para perusuh “diyakini sebagai pendukung Liga Pertahanan Inggris,” sebuah kelompok sayap kanan yang mengorganisir protes anti-Muslim sejak 2009.
Tidak hanya di Southport, sejumlah kota lain di Inggris seperti London, Liverpool, Manchester, Sunderland, Belfast dan Hull juga terjadi kerusuhan. Serangan Islamofobia turut menjalar ke masjid wilayah lain di Sunderland, timur laut Inggris yang terkena lemparan kaleng bir dan batu bata. Massa juga meneriakkan seruan Islamofobia.
Menteri Dalam Negeri Inggris, Yvette Cooper mengatakan, pemerintah menyiapkan Skema Keamanan Perlindungan Masjid untuk menyikapi kerusuhan yang diterima di masjid-masjid Inggris. Di samping itu, pihaknya mengatakan pelaku kekerasan dalam bentuk apapun akan menerima hukuman berat.
“Mengingat ancaman dan serangan memalukan yang juga dialami masjid-masjid setempat di banyak komunitas, pemerintah menyediakan bantuan tambahan yang cepat melalui Skema Keamanan Perlindungan Masjid, di samping dukungan dari kepolisian setempat dan kami ulangi bahwa siapa pun yang terlibat dalam kekacauan dan kekerasan ini akan menghadapi kekuatan hukum penuh,” ujarnya.
“Sebagai sebuah bangsa, kita tidak akan menoleransi perilaku kriminal, ekstremisme berbahaya, dan serangan rasis yang bertentangan dengan semua yang diperjuangkan negara kita,” tegas Yvette Cooper.
(ori)