LANGIT7.ID, Jakarta - Seorang pakar penyakit menular dari Amerika Serikat ternyata populer di Indonesia. Namanya dr Faheem Younus MD. Di biodatanya tertulis sebagai Kepala Penyakit Menular dan Universitas MD UCH (University of Maryland Medical Sysytem).
Dia juga menulis di bidatanya "Berbagi tips pandemi dan lainnya untuk meringankan penderitaan manusia". Berisik, diblokir. Uniknya, cuitan Faheem Younus MD ditanggapi netizen dari Indonesia. Siapa sebenarnya dokter yang gemar mentuit menggunakan bahasa Indonesia ini?
Sebelumnya, simak dulu cuitan-cuitannya dalam bahasa Indonesia berikut ini:
Mitos: Menggunakan Sambiloto, Echinacea, Kelapa, Vitamin C, air hangat, akan mencegah atau menyembuhkan Covid-19.Fakta: Zat-zat ini tidak terbukti mencegah atau menyembuhkan Covid-19.Tetap berpegang pada sains dan jangan tertipu oleh janji penyembuhan ajaib.Pada hari yang sama, 9 Juli 2021, Faheem juga menulis di Twitternya:
"Dalam praktik saya, kasus COVID aktif yang parah terjadi hampir secara eksklusif pada orang yang belum mendapat vaksin. Kamu bisa pilih u/ divaksin atau percaya teori konsporasi."
"Ini mungkin bagus. Tetapi jika tujuan Anda adalah pencegahan COVID, maka kenakan masker, hindari keramaian di dalam ruangan, dan dapatkan vaksinasi. Jangan tergoda dengan jalan pintas," cuitnya menanggapi sebuah gambar botol minuman bervitamin. Selanjutnya, dia juga menulis:
Garis Waktu COVID5 hari sebelum sakit: Virus terhirup2 hari sebelum sakit: Anda menular!Hari 0-5: Gejala pertama berkembangHari 5-10: Gejala memburukHari 11 dan seterusnya: Anda tidak menular. Akhiri isolasihttps://twitter.com/FaheemYounus/status/1413488223851003911?s=20
Masih banyak lagi cuitan dr Faheem dalam bahasa Indonesia. Di antara netizen Indonesia pun menanyakan, siapa sebenarnya dokter yang senang berbagi tips mengenai isu-isu yang populer di Indonesia ini?
Meski begitu, tak sedikit pula cuitannya yang berbahas Inggris tetap disambut netizen dan menjawab dengan bahasa Indonesia. Misalnya, dia menulis dalam bahasa Inggris yang artinya: Buruk! Setelah Anda menyesuaikan ukuran populasi, COVID di Malaysia menyebar hampir dua kali lipat kecepatan COVID di Indonesia.
https://twitter.com/FaheemYounus/status/1413667998917926913?s=20
Akun @Ohohmariobros menjawab, "Itu karena rakyat Indonesia sangat patuh protokol kesehatan dok, saya sangat salut dan bangga."
Sementara akub @taqikita menyambar dengan komentar: "Itu juga karena pemerintah di Indonesia juga sudah bekerja keras mementingkan aspek kesehatan terkait penanganan Covid timbang aspek lainnya, saya sangat salut dan bangga."
Akun @joh4nz membalas, "Malaysia, jumlah warga yang dites sekitar 460 ribu per sejuta orang (peringkat 89 dunia). Di Indonesia, yang dites hanya 77 ribu per sejuta orang (peringkat 158 dunia)."
Dari situs web University of Maryland Medical Sysytem umms.org, dr Faheem terdaftar sebagai spesialis penyakit menular dan penyakit dalam. Di situs tersebut tertulis, Faheem Younus adalah dokter pemenang penghargaan certified physician executive (CPE) yang memimpin program kualitas dan keamanan Universitas Maryland Upper Chesapeake Health.
Dia mengembangkan dan mempertahankan keselamatan pasien dan program kualitas di UM Harford Memorial dan UM Upper Chesapeake Hospitals. Dia juga memberikan pengawasan strategis untuk program pengalaman pasien.
Dia adalah ahli manajemen perubahan. Faheem Younus berulang kali dipilih oleh rekan-rekannya untuk menerima penghargaan Dokter Terbaik yang diberikan setiap tahun oleh Majalah Baltimore. Dia juga menerima Penghargaan Layanan Kepresidenan dari pemerintahan Obama pada tahun 2008 untuk layanan kemanusiaan.
Di dalam negeri,
CNN Indonesia mengangkat profil Faheem dalam sebuah laporan wawancara khusus. Dalam wawancara, dr Faheem ditanya secara singkat mengenai latar belakangnya.
"Saya adalah anggota Masyarakat Ilmuwan Penyakit Menular Amerika Serikat dan juga Kepala Bidang Penyakit Menular di Rumah Sakit Sekolah Kedokteran Upper Chesapeake Universitas Maryland. Selain itu, saya juga menjabat sebagai Wakil Presiden dan Manajer Kualitas Pelayanan di rumah sakit itu. Saya sudah 30 tahun berpengalaman menangani kasus penyakit infeksi," jawabnya dalam wawancara tersebut, dilansir
CNN Indonesia, Sabtu (10/07/2021).
Dalam wawancara terakhirnya, dr Faheem ditanya soal cuitannya dalam bahasa Indonesia. Katanya, "Sebenarnya saya tidak memahami bahasa Indonesia. Saya menggunakan perangkat Google Translate untuk membuat cuitan ke dalam bahasa Indonesia dan hasilnya baik," katanya.
(jak)