LANGIT7.ID, Semarang - Cerita pintu Masjid Agung Demak yang konon mampu menahan petir diyakini sebagian masyarakat. Kisah itu dituturkan ulang warga turun temurun hingga sekarang.
Masjid Agung Demak memiliki pintu yang dikenal Pintu Bledeg. Pintu itu terbuat dari kayu jati berukiran tumbuhan, suluran, jambangan, mahkota dan kepala naga.
Menurut cerita, kepala naga tersebut menggambarkan petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo di zaman Wali Songo dulu. Tokoh itu merupakan seorang ulama sekaligus leluhur raja-raja Kesultanan Mataram.
Ki Ageng Selo juga guru dari Sultan Adiwijaya pendiri Kesultanan Pajang. Dia pun merupakan kakek Panembahan Senapati pendiri Kesultanan Mataram.
Dikisahkan, pada suatu hari Ki Ageng Selo pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar-benar hujan lebat turun.
Tetapi Ki Ageng Sela tetap asyik menyangkul. Lalu tiba-tiba petir menyambar. Dengan kesaktiannya, ulama tersebut menangkap petir yang berwujud naga kemudian mengikatnya di pohon Gandrik.
Selesai dari sawah, Ki Ageng Selo membawa bledeg atau petir tangkapannya kepada Sultan. Petir tersebut lalu berubah wujud menjadi kakek-kakek.
Sultan kemudian menaruh petir berwujud kakek-kakek ke dalam jeruji besi dan ditaruh di tengah alun-alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat wujudnya.
Ketika itu datanglah seorang nenek-nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek 'bledeg' atau petir dan diminumnya.
Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek jelamaah petir tersebut, sedangkab jeruji besi tempat mengurung kakek tersebut hancur berantakan.
(bal)