LANGIT7.ID-Jakarta; Mengonsumsi makanan atau minuman manis, kadar gula darah akan melonjak dan tubuh memproduksi insulin guna membantu gula masuk ke sel-sel tubuh sebagai energi.
Namun, jika konsumsi gula terlalu sering dan berlebihan, tubuh bisa menjadi resisten terhadap insulin. Kondisi ini disebut insulin resistensi dan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan pada fungsi otak.
Melansir dari Healthline berikut beberapa efek negatif gula pada otak:
1. Gangguan Kognitif
Konsumsi gula berlebih dapat secara signifikan mengganggu fungsi kognitif kita. Otak kita sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Namun, lonjakan gula darah yang drastis dan terus-menerus akibat konsumsi gula berlebihan dapat mengganggu keseimbangan ini.
Akibatnya, kemampuan kita untuk berpikir jernih, mengingat informasi, dan berkonsentrasi bisa terganggu. Penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi gula dikaitkan dengan penurunan volume otak, terutama di area yang terkait dengan memori dan pembelajaran. Selain itu, gula juga dapat merusak ujung-ujung saraf (neuron) yang berperan dalam transmisi sinyal di otak, sehingga memperlambat proses berpikir dan membuat kita merasa foggy.
2. Peradangan
Gula tidak hanya menyebabkan lonjakan gula darah, tetapi juga memicu respons inflamasi dalam tubuh. Peradangan kronis yang disebabkan oleh konsumsi gula berlebih dapat merusak jaringan otak dan mengganggu fungsi normalnya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gula dapat meningkatkan produksi protein yang disebut advanced glycation end products (AGEs), yang dapat menempel pada protein lain di otak dan menyebabkan kerusakan. Peradangan kronis di otak juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.
3. Depresi dan Gangguan Mood
Hubungan antara gula dan mood mungkin terdengar mengejutkan, namun penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi yang kuat antara keduanya. Ketika kita mengonsumsi makanan manis, kadar gula darah kita akan melonjak, diikuti oleh penurunan yang drastis.
Fluktuasi gula darah yang ekstrem ini dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh, termasuk hormon serotonin yang berperan dalam mengatur suasana hati. Serotonin yang rendah dikaitkan dengan depresi dan kecemasan. Selain itu, gula juga dapat memengaruhi produksi hormon stres seperti kortisol, yang dapat memperburuk gejala depresi.
Untuk menjaga kesehatan otak yang optimal, sangat penting untuk membatasi konsumsi gula dan mengadopsi pola makan yang sehat.
Dengan membaca label makanan, memilih makanan alami, dan mengurangi konsumsi minuman manis, kita dapat mengurangi asupan gula secara bertahap. Selain itu, memasak di rumah dan memilih camilan sehat juga merupakan langkah penting dalam mengurangi konsumsi gula.(*)
(lam)