Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 10 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Profil Ponpes Tegalrejo Magelang, Awalnya Tak Memiliki Nama

haris budiman Selasa, 14 Januari 2025 - 15:06 WIB
Profil Ponpes Tegalrejo Magelang, Awalnya Tak Memiliki Nama
Aktivitas di Ponpes API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. (kredit foto: syubbanulwathon)
LANGIT7.ID-Salah satu pondok pesantren terkenal di wilayah Jawa Tengah adalah Ponpes Tegalrejo atau dikenal Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo.

Berdiri pada 15 September 1944, usia pondok kini sudah 81 tahun. API Tegalrejo didirikan KH. Chudlori, seorang ulama yang juga berasal dari Desa Tegalrejo.

Beliau adalah menantu dari Mbah Dalhar (KH. Nahrowi), pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Watucongol, Muntilan, Magelang.

Saat awal-awal berdirinya, KH Chudlori sama sekali tak memberikan nama pesantren, sebagaimana ponpes lain.

Baru setelah berkali-kali mendapatkan saran dan usulan dari rekan seperjuangannya pada tahun 1947, ditetapkanlah nama Asrama Perguruan Islam (API).

Nama ini ditentukannya sendiri yang tentunya merupakan hasil dari shalat istikharah. Dengan lahirnya nama Asrama Perguruan Islam, beliau berharap agar para santrinya kelak di masyarakat mampu dan mau menjadi guru yang mengajarkan danmengembangkan syariat-syariat Islam.

Awalnya mendapat pertentangan

Dikutip dari magelangkab.go.id, berdirinya Asrama Perguruan Islam adalah adanya semangat jihad menegakkan agama Allah yang mengkristal dalam jiwa sang pendiri itu sendiri. Di mana kondisi masyarakat Tegalrejo pada waktu itu masih banyak yang melakukan perbuatan-perbuatan syirik dan anti pati dengan tata nilai sosial yang Islami.

Respons masyarakat Tegalrejo atas didirikannya Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo pada waktu itu cukup memprihatinkan.

Mengingat masyarakat masih kental dengan aliran kejawen. Tidak jarang mereka melakukan hal-hal yang negatif yang mengakibatkan berhentinya kegiatan belajar-mengajar.

Namun, KH Chudlori teguh dengan prinsip dan pendirian. Berkat keteguhannya, santri yang pada awal berdiri hanya berjumlah delapan orang, tiga tahun kemudian sudah mencapai sekitar 100-an.

Seiring berjalan waktu, warga yang awalnya menentang dan antipati malah menjadi simpati dan ikhlas. Bahkan menjadi pendukung setia dengan mengorbankan segala dana dan daya yang ada demi suksesnya perjuangan KH Chudlori.

Tapi, perjuangan pesantren tetap tak mudah. Pada awal tahun 1948 secara mendadak API diserbu Belanda. Gedung atau fisik API yang sudah ada pada waktu itu porak poranda.

Sejumlah 36 kitab, termasuk kitab milik K.H Chudlori dibakar hangus, sementara santri-santri termasuk Chudlori mengungsi kesuatu desa yang bernama Tejo, Kecamatan Candimulyo.

Setahun setelahnya, pada 1949,di mana situasi nampak aman Chudlori kembali mengadakan kegiatan pengajaran agam kepada masyarakat sekitar. Santri pun mulai berdatangan, terutama yang telah mendengar informasi bahwa situasi di Tegalrejo sudah normal kembali.

Alhasil, KH Chudlori mulai mendirikan kembali pesantren di tempat semula. Semenjak itulah API berkembang pesat, bahkan pada 70an, tepatnya mulai tahun 1977 jumlah santri sudah mencapai sekitar 1500-an.

Sampai saat ini API Tegalrejo menjadi salah satu rujukan orangtua mengirim anak-anaknya belajar agama. Pondok sekarang diasuh oleh salah satu putranya, KH. Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf.(*)

(hbd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 10 Juni 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:17
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)