LANGIT7.ID-Jakarta; Pemerintah Indonesia baru saja meresmikan Daya Anagata Nusantara (Danantara), sebuah Sovereign Wealth Fund (SWF) yang akan menggantikan Indonesia Investment Authority (INA). Dengan potensi dana kelolaan mencapai US$900 miliar atau sekitar Rp14.600 triliun, Danantara akan menjadi SWF terbesar ketujuh di dunia, sejajar dengan negara-negara seperti Norwegia, China, dan Uni Emirat Arab.
Danantara hadir sebagai "celengan raksasa" negara yang bertujuan mengelola aset negara untuk membiayai proyek-proyek strategis dan memperkuat posisi keuangan Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pinjaman luar negeri dan menjadikan Indonesia destinasi investasi yang lebih menarik bagi investor global.
Baca juga: Pengelolaan Dana Rp14.680 Triliun Danantara: Ujian Berat Komitmen Anti-Korupsi PrabowoDana yang akan dikelola Danantara berasal dari berbagai sumber, termasuk aset dan dividen BUMN, penyertaan modal negara, serta efisiensi anggaran sekitar Rp325 triliun. Uang ini akan diinvestasikan di berbagai instrumen seperti saham, properti, obligasi, dan bisnis strategis lainnya, baik di dalam maupun luar negeri.
"Jika dikelola dengan baik, transparan, dan dengan pengawasan yang profesional mengikuti jejak Temasek, Danantara dapat meningkatkan kekayaan negara, menjadi game changer dan mendanai banyak proyek," jelas Ellen May, Founder dan CEO Emtrade, dikutip Dari Instagram pribadinya (@ellenmay_official), Selasa (25/2/2025).
Dampak Terhadap Saham BUMN dan Pasar Modal IndonesiaTujuh BUMN besar akan menjadi pilar utama Danantara pada tahap awal. Ketiga bank BUMN terbesar yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan total aset lebih dari Rp5.200 triliun akan berada di bawah pengelolaan Danantara. Selain itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), dan MIND ID (yang mencakup ANTM, PTBA, INCO, dan TINS) juga akan menjadi bagian dari Danantara.
Baca juga: BPI Danantara Resmi Diluncurkan, Fokus Kelola Kekayaan NasionalPembentukan Danantara telah memberikan dampak signifikan pada pasar saham Indonesia, khususnya saham-saham BUMN. Beberapa waktu belakangan, saham-saham BUMN, terutama di sektor perbankan, mengalami penurunan harga.
Ellen May mengamati bahwa situasi ini justru bisa menjadi peluang, "Jika Danantara berhasil, maka momen saat ini di mana harga saham BUMN terutama banking, yang sempat turun beberapa saat, memberikan momen valuasi murah buat long term investor, mengingat valuasi saham Indonesia di MSCI terendah sejak 2008 yaitu di angka 11 kali dan hal ini merupakan peluang menurut analis UBS."
Tantangan Tata Kelola dan Prospek Masa DepanMeski menjanjikan prospek cerah, keberhasilan Danantara dalam mempengaruhi pasar saham Indonesia akan sangat bergantung pada tata kelola dan transparansinya. Banyak pengamat membandingkan Danantara dengan Temasek, SWF Singapura yang telah terbukti sukses menarik investor berkat regulasi yang jelas dan operasional yang transparan.
Baca juga: Momen Langka: Presiden Prabowo Bersama Dua Mantan Presiden di Peluncuran Danantara"Temasek, SWF di Singapore menarik perhatian investor asing karena aturannya jelas dan transparan. Secara teknis, meskipun pemegang saham utamanya adalah Menteri Keuangan, operasinya dijalankan kayak perusahaan swasta biasa. Dewan direksinya mayoritas profesional independen, bukan pejabat pemerintah," kata Ellen May.
Sementara itu, Danantara masih perlu menunjukkan kejelasan peraturan pengawasan dan independensi kepengurusan dari pengaruh politik. Meskipun telah dibentuk struktur kepemimpinan dengan Presiden RI Prabowo Subianto sebagai penggerak utama, Erick Thohir sebagai Ketua Dewan Pengawas, dan Rosan Perkasa Roeslani sebagai CEO, banyak pihak masih menanti kepastian tentang mekanisme pengawasan yang efektif.
Jika Danantara mampu mengatasi tantangan-tantangan ini dan mengadopsi prinsip transparansi dan akuntabilitas, dampaknya terhadap pasar saham Indonesia bisa sangat positif. SWF ini berpotensi mendorong likuiditas pasar, meningkatkan kepercayaan investor asing, dan memberikan nilai tambah pada saham-saham BUMN yang menjadi bagian dari portofolionya.
"Namun, jika gagal, Danantara justru menimbulkan risiko bagi keuangan negara. Jika gagal, bisa menimbulkan kerugian sangat besar, di mana negara bisa mengalami defisit anggaran lebih besar dan harus efisiensi lebih ketat lagi pada sektor infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan, bahkan bisa ngutang lagi makin banyak. Makin bikin kepercayaan investor turun," tegas Ellen May.
Dengan potensi dan tantangan yang ada, keberhasilan Danantara akan menjadi salah satu faktor penentu arah pasar saham Indonesia di masa depan. Jika berhasil, SWF terbesar ketujuh dunia ini bisa menjadi kekuatan ekonomi baru yang mengubah lanskap investasi dan pembangunan di Indonesia, serta memberikan dorongan signifikan bagi pasar modal nasional.
(lam)