LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami penguatan signifikan pada perdagangan Senin (03/03/2025). Mata uang Garuda ditutup menguat 115 poin ke level Rp16.480 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.595. Sebelumnya, rupiah bahkan sempat menguat hingga 125 poin pada sesi perdagangan hari ini.
Menurut pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat dalam rentang Rp16.430 hingga Rp16.490 per dolar AS.
Dalam laporan nya, penguatan rupiah terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS pada Senin (3/3/2025). Investor global dengan hati-hati menunggu keputusan tarif perdagangan yang akan diumumkan Presiden AS Donald Trump minggu ini. Meski ketidakpastian masih menyelimuti, beberapa sinyal mengisyaratkan kemungkinan tindakan yang lebih lunak dari yang dikhawatirkan sebelumnya.
Kebijakan Tarif Trump dan Sentimen GlobalSebelumnya, suasana hati investor sempat suram setelah Donald Trump mengumumkan tarif tambahan 10% untuk Tiongkok dan menegaskan kembali jadwal tarifnya untuk pungutan 25% terhadap produk-produk dari Meksiko dan Kanada.
Namun, pada hari Minggu (2/3), Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick memberikan sinyal positif dengan menyatakan bahwa Trump akan menentukan tingkat tarif yang tepat pada hari Selasa. Pernyataan ini mengindikasikan adanya kelonggaran untuk pungutan yang kurang agresif dari yang diperkirakan sebelumnya.
Di kawasan Asia, aktivitas manufaktur Tiongkok melaporkan pertumbuhan yang lebih baik dari yang diharapkan pada bulan Februari. Bisnis lokal di negara tersebut masih menikmati keuntungan dari langkah-langkah stimulus yang diterapkan pemerintah sepanjang tahun lalu. Survei swasta juga menunjukkan hal serupa, dengan PMI manufaktur Caixin mencapai titik tertinggi dalam 3 bulan pada Februari 2025.
Investor global juga tengah memperhatikan Pertemuan Dua Sesi tahunan Tiongkok yang akan dimulai minggu ini. Pertemuan yang meliputi Kongres Rakyat Nasional (NPC) dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) merupakan salah satu peristiwa politik terpenting tahun ini. Forum ini akan memberikan sinyal tentang arah ekonomi Tiongkok ke depan dan kemungkinan implementasi stimulus baru.
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang lambat, kepercayaan konsumen yang lemah, dan penurunan berkelanjutan di sektor properti, pasar mengharapkan otoritas Tiongkok untuk mengumumkan langkah-langkah konkret yang bertujuan menstabilkan ekonomi.
Faktor Domestik Pendukung Penguatan RupiahDari dalam negeri, beberapa faktor ikut mendorong penguatan rupiah. Pemerintah Indonesia baru saja menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2025 sebagai perubahan atas PP 36 Tahun 2023 tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE) dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam. Aturan baru ini mulai berlaku pada 1 Maret 2025.
Melalui regulasi tersebut, para eksportir diwajibkan menyimpan 100% DHE SDA di dalam negeri selama satu tahun. Ketentuan ini dimaksudkan agar DHE SDA yang masuk dapat memperkuat cadangan devisa Indonesia di tengah gejolak pasar global saat ini.
Penguatan rupiah juga didukung oleh kinerja positif sektor manufaktur Indonesia yang mencatat pertumbuhan signifikan pada Februari 2025. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia mencapai 53,6, naik dari 51,9 pada Januari 2025.
Kenaikan ini mencerminkan perbaikan yang jelas dalam kesehatan sektor produksi barang. Peningkatan permintaan baru yang mencapai level tertinggi dalam hampir satu tahun menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan. Selain itu, aktivitas pembelian dan ketenagakerjaan juga mencatat pertumbuhan yang signifikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadinya deflasi 0,48% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Februari 2025. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 105,48 pada Februari 2025.
Kombinasi antara penerapan kebijakan DHE SDA yang lebih ketat, pertumbuhan sektor manufaktur, dan terjadinya deflasi pada Februari 2025 telah menciptakan sentimen positif yang mendukung penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini.
Para analis memperkirakan bahwa peningkatan kinerja rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Namun, perkembangan kebijakan perdagangan AS dan dinamika ekonomi global tetap menjadi faktor eksternal yang perlu diwaspadai dalam pergerakan nilai tukar rupiah ke depan.
(lam)