LANGIT7.ID-Jakarta; Khutbah Salat Idulfitri yang berlangsung di Masjid Istiqlal pagi ini, menghadirkan pesan mendalam tentang makna puasa mabrur bagi kemajuan bangsa. Guru Besar UIN Jakarta, Prof. Ahmad Tholabi Kharlie, menegaskan bahwa nilai-nilai Ramadan yang tertanam dalam diri umat Muslim bukan sekadar pencapaian individual, melainkan modal sosial untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
Menurut Tholabi, puasa yang mabrur melahirkan insan yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga kontributif dalam membangun tatanan masyarakat. "Inilah esensi dari baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negeri yang diberkahi dan diridhai Allah," ujarnya di hadapan ribuan jamaah yang memadati masjid kebanggaan bangsa ini.
Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta ini menjelaskan bahwa berbagai ritual Ramadan seperti puasa, zakat, dan tadarus memiliki dimensi ganda. Puasa melatih ketahanan mental dan empati, sementara zakat dan sedekah memperkuat solidaritas ekonomi. Ia menekankan bahwa zakat dan infak bukan sekadar kewajiban agama, melainkan instrumen keadilan sosial yang sejalan dengan cita-cita Pancasila, khususnya sila 'Kemanusiaan yang Adil dan Beradab'.
Tholabi juga menyoroti pentingnya kebersamaan dalam tradisi Ramadan seperti buka bersama dan tarawih berjamaah. Menurut pengurus PBNU ini, nilai-nilai kebersamaan tersebut harus diimplementasikan dalam konteks berbangsa. "Kohesivitas bukan retorika, melainkan aksi nyata. Indonesia maju hanya bisa terwujud jika seluruh elemen bangsa bersatu dalam dialog dan kolaborasi," tegasnya.
Di penghujung khutbah, Tholabi mengajak masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai momentum refleksi untuk memperkuat komitmen kebangsaan. "Pribadi yang fitri adalah pribadi yang membawa kebaikan bagi sekitarnya. Mari jadikan spirit Ramadan sebagai kompas dalam membangun Indonesia yang lebih adil dan sejahtera," pesannya.
Salat Idulfitri di Istiqlal dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, serta perwakilan negara sahabat. Kehadiran mereka menegaskan pentingnya nilai-nilai keagamaan dalam membingkai kebijakan nasional. "Kemabruran Ramadan bukan akhir, melainkan awal bagi Indonesia untuk melangkah maju dengan semangat persatuan dan keadilan," pungkas Tholabi menutup khutbahnya(*/saf/kemenag)
(lam)