Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 31 Mei 2026
home wirausaha syariah detail berita

Muhammad Iksan, Preman Pensiun yang Kini Raup Keuntungan Puluhan Miliar Tiap Tahun

mahmuda attar hussein Selasa, 13 Juli 2021 - 09:55 WIB
Muhammad Iksan, Preman Pensiun yang Kini Raup Keuntungan Puluhan Miliar Tiap Tahun
Ilustrasi tambak udang milik Muhammad Ihsan. Foto: Langit7/Istock
LANGIT7.ID, Bekasi - Tidak ada pemandangan lain sejauh mata memandang kecuali tambak udang di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi Jawa Barat. Lahan seluas 700 hektare ini merupakan usaha tambak udang milik Muhammad Iksan.

Seseorang yang pernah masuk ke dalam dunia hitam dengan pengalaman kelam. Iya, Iksan dulu merupakan orang yang identik dengan hidup anarki. Perkelahian, juga barang haram sempat ia cicipi saat hidupnya masih belum menentu arah.

Kini, bisnis tambak udang menjadi usaha yang ia jalankan. Melalui bisnisnya, ia juga menyebarkan kebaikan kepada orang-orang di sekitarnya yang kini berubah 180 derajat.

Berikut kisah Iksan yang dulunya hanya seorang pengamen dan beberapa kali kehidupan keras membawanya hampir kepada kematian. Kini menjadi pengusaha sukses tambak udang.

Investasi di sektor perikanan merupakan salah satu keunggulan dari Indonesia, di mana sudah banyak ekspor dilakukan di sektor ini. Manfaat feeding dual yang artinya bisa memberikan makanan kepada penduduk Indonesia dan dunia dalam hal ini juga bisa dirasakan.

Iksan mengatakan di lahan 700 hektare usahanya berdiri ini, terdiri dari lahan tambak udang yang sudah produksi. Selain itu, rumput laut, dan bandeng.

Menurutnya, tambak udang memiliki permintaan dan profit penghasilan yang luar biasa. Bahkan orang-orang budidaya mengistilahkannya sebagai “tidak ada yang menghalahkan bisnis tambak udang kecuali bandar narkoba.”

“Jadi saya positif saja itu luar biasa, karena yang minta banyak banget dan Alhamdulillah tidak ada kendala. Justru kita ketika panen, satu minggu sebelum panen, buyer dari beberapa perusahaan sudah menghubungi,” ujar Iksan di Youtube Helmy Yahya Bicara.

Pria yang dijuluki sebagai Bang Mandor ini, mengaku agak kesulitan saat proses pembebasan lahannya. Bermodalkan keberanian, ia yang merupakan mantan jawara mulai masuk dan mendalami seluk beluk usahanya dari kesulitan pembebasan lahan hingga meraih kesuksesan.

Dunia Hitam

Terjun ke dunia premanisme, Iksan sempat menjadi samsak hidup ketika hidup di Terminal Senen. Ia mengisahkan dulu sempat kabur dari kampungnya, bahkan berduel pada siang hari dengan menggunakan senjata tajam di Muara Gembong.

Saking seringnya berurusan dengan pihak kepolisan, ia juga pernah dipukul dengan gagang pistol oleh petugas. Akibat ulahnya, ia sering membawa masalah lalu memutuskan pergi ke terminal.

“Bikin malu, bikin susah keluarga, emak juga nangis terus, akhirnya saya putuskan pindah,” ujarnya.

Lari ke Senen tepatnya Pasar Inpres, yang kala itu keamanan dipegang oleh orang Palembang, Surabaya dan Medan. Ketika masuk pun masih menjadi bawahan. Bermodalkan satu gitar dan uang seribu perak tahun 1998/1999. Uang seribu itu pun habis digunakannya untuk ongkos angkutan.

“Belum ngerti cari uang, sampai di Senen pun dua hari saya tidak makan. Bawa gitar bisa nyanyi dan mengamen juga saya belum berani turun, karena takut,” kenangnya.

Ketika perutnya sudah tidak lagi sanggup dibungkam, ia mulai memberanikan diri dengan dibantu oleh pengemis sekitar pasar Senen. Menurutnya, pengemis pada saat itu membeli nasi tiga bungkus dan ia mulai ikut makan bersama dengan lima orang lainnya.

Tidak berhenti di situ, Iksan bahkan sempat memungut sayuran yang jatuh dari kuli panggul pasar. Hasil pungutannya itu ia tukarkan dengan nasi uduk untuk mengganjal perutnya.

“Kurang lebih dua tahun saya mengalami itu semua. Tidur di emperan toko, tidak pernah pulang ke kampung karena di blacklist. Bahkan di terminal saya malah lebih bader lagi,” katanya.

Hidup yang makin sulit, akhirnya memutuskan Iksan untuk mencari penghasilan di jalanan dengan mengamen. Namun, bukan uang yang menghampirinya, malah sekerumunan orang terminal yang datang menghajarnya.

Tidak berhenti mereka memukuli Iksan, gitar yang dibawanya hancur karena digunakannya sebagai tameng saat orang-orang menghajarnya dengan menggunakan botol dan batu. Kejadian ini terhenti saat polisi datang dan melepaskan tembakan ke udara.

Usai kejadian itu pun, Iksan juga sempat akan diadu dengan orang yang mengeroyoknya, karena orang yang membawahinya tidak terima Iksan dikeroyok saat itu. Namun, kejadian itu tidak sempat terjadi karena ternyata orang yang memukulinya tidak berani ketika harus diadu satu lawan satu.

“Ya sampai diadu sampai mati lah. Biasanya begitu di terminal terutama. Saya malah sempat mengatatakan saat itu, bahwa lawan dua orang pun saya berani. Ternyata anak terminal itu lebih memilih untuk damai,” ujarnya.

Semenjak kejadian itu, nama Iksan mulai disegani. Bahkan selang beberapa minggu, ia dapat diterima di lingkungan keras yang sempat menjadi bagian kehidupannya.

“Saya tidak pernah mencopet Alhamdulillah, malak juga tidak. Saya murni mencari uang dengan mengamen saat itu. Tapi mental kita ya lebih tinggi daripada yang lain,” katanya.

Terpaksa dan terdesak, dua hal yang membuat Iksan harus mengeluarkan nyalinya untuk bisa hidup dalam kekerasan jalanan setiap harinya. Sementara lorong pasar yang tutup menjadi tempatnya bernaung di malam hari.

Iksan juga mengisahkan masa lalunya, yang dulu pernah berkelahi dengan gembong copet di sana. Ketidaktahuannya membawa Iksan kepada masalah baru.

“Jadi saya saat itu ngamen di bus, seketika gembong copet yang saya tidak tahu ini sudah masuk tangannya ke dalam tas seorang ibu-ibu. Saya tidak bisa melihat hal yang seperti ini, saat itu juga saya benturkan kepalanya di bus sampai saya tendang keluar. ‘Gua gak masalah urusan lu mau nyopet, tapi tolong jangan pas gua cari makan,” tegas Iksan.

Usai dari kejadian itu, teman-teman di lingkungannya heboh karena Iksan berkelahi dengan gembong copet. Rasa ketakutan Iksan pun menyelimutinya, dan memutuskan untuk kabur ke Bogor selama satu minggu.

Titik Balik

Titik balik hidup Iksan bermula dari ketika hidup di jalanan dulu ia merasa tidak ada yang hadir kecuali Allah. Walaupun putus sekolah dan hidup ingar bingar jalanan, Iksan tidak pernah meninggalkan hobi membacanya bahkan saat hidup di Terminal Senen.

“Saya yakini ini karunia dari Allah. Dulu tempat barang bekas dan loakan itu tempat saya numpang baca. Bahkan tempat orang jual minum yang selalu langganan koran pun saya sempatkan juga untuk membaca berita,” tuturnya.

Dari membaca ini, secara tidak langsung Tuhan datang untuk mengubah hidupnya. Ia mengisahkan dalam beberapa bacaannya terkadang terselip beberapa kolom agama, yang dari situ Iksan membuat Iksan berpikir bahwa ada kehidupan lain yang lebih baik daripada kekerasan yang selama ini berada di sekelilingnya.

Dari bacaan itu pula Iksan merenung mengenai jalan hidup jati dirinya. Ia terkenang teman-temannya dulu yang bahkan meninggal karena hidup dalam kekerasan bahkan berurusan dengan pihak kepolisan.

“Saya iri dengan orang yang berpakaian rapi naik-turun bus. Melihat wanita berhijab yang kala itu sangat sejuk dilihat, saya menginginkan suasana itu. Tanpa saya sadari itu membawa saya pada puncak kebuntuan saya,” katanya.

Kala itu, lanjut Iksan, dirinya sedang dalam keadaan mabuk tidak sadarkan diri dalam kesenangan dunianya. Paranoid Iksan yang tadinya takut akan polisi dan musuhnya, saat itu berubah menjadi ketakutannya kepada Allah.

Terbersit dalam pikirannya, bagaimana ketika ia meninggal dalam keadaan buruk, yang ia sebut mati sebagai sampah. Pergejolakan dalam batinnya membuat Iksan meyakini bahwa ada kehidupan yang lebih baik.

Dalam keadaan yang masih sempoyongan, Iksan beranjak dari tempatnya mengonsumsi barang haram ke Musholla dan segera mengambil wudhu. Ia mengaku saat itu salat dalam keadaan tidak sadar.

“Bayangkan saat itu celana saya masih sobek, ada aksesoris rantai dari telinga ke hidung, saya salat. Alhamdulillah pengurus Musholla tidak melarang atau memarahi saya. Mungkin kalau saat itu dibentak saya tidak datang lagi,” katanya.

Dari situ, Iksan mengaku mulai mendekatkan diri kepada Tuhan, membiasakan dirinya untuk beribadah. Tidak berjalan baik, lingkungannya membuat keimanan Iksan rapuh yang sesekali ia kembali ke dunianya yang identik dengan kekerasan bahkan dilarang oleh agama.

“Sampai saat saya dititk sedang mabuk, teman saya yang sudah hijrah duluan datang dengan membawa Al-Quran terjemahan. Ia beristighfar di depan saya, di situ saya murka, saya tunjuk mukanya sambil berkata ‘Lu liat, gua bakal terakhir ngelakuin kayak gini,” kenangnya.

Sejak malam itu, Iksan menjual semua barang miliknya, termasuk seperangkat alat musik beserta sound system yang ia punya dan hanya menyisakan gitar akustik. Setelah kembali tidak memiliki apa-apa, Iksan yang sempat naik-turun gunung di Jawa Barat kala itu, menemukan pengalaman spiritualnya.

Di sana ia bercerita semuanya kepada Tuhan. Bahkan Iksan berjanji, jika nyawanya tidak diambil saat itu, ia tidak akan lagi memasuki dunia hitam yang mengisi sebagian besar warna kehidupannya.

Sejak saat itu, keseriusannya untuk taubat kembali diuji oleh Allah. Sepulang dari Jawa Barat dan kembali ke terminal, ia mengaku ditawarkan barang haram, tapi Iksan menolaknya. Hal ini membuatnya dijauhi oleh lingkungannya saat itu, bahkan beberapa temannya juga memaksanya.

“Saya nangis sejadi-jadinya. Saya katakan ke mereka ‘Apakah kalau gua udah ga minum, lu udah ga anggap gua ini temen,” kenang Iksan.

Saat itu, salah satu teman memeluknya dengan keras dan menerima Iksan yang memiliki untuk menjalani hidup lebih baik. Iksan mengatakan, perubahan hidupnya terus mengalami kebaikan hingga saat ini.

Sukses Tambak Udang

Beberapa kali sempat hampir kehilangan nyawanya. Bahkan Iksan menyebut dirinya seorang yang brengsek dulu. Tapi kini, hidupnya berubah total.

Melalui usaha tambak udangnya, kini Iksan bahkan bisa hidup lebih cukup dan membantu orang bahkan dulu sempat ribut dengannya untuk berubah dan bekerja lebih baik dengan menjauhi dunia kekerasan seperti yang dialaminya dulu.

Saat ini, dari 700 hektare, sekitar 130 hektare tambak udangnya sudah produksi. Dengan satu hektarenya menghasilkan sebanyak 35 ton dalam satu kali panen.

Satu kilo nilai udang yang sebesar Rp80 ribu, maka jika dikalikan dari satu hektare dan satu kali panen, tambak udang milik Iksan ini bisa menghasilkan sekitar Rp2,4 miliar lebih.

Iksan mengaku, dalam satu tahun tambak udangnya bisa dipanen sebanyak tiga kali. Sehingga pertahunnya ia mampu mengumpulkan Rp6 miliar lebih.

“Dari 700 hektare belum semuanya berproduksi, dan masih melakukan penambakan udang secara tradisional. Satu klaster ini 10 hektare, kurang lebih 150 ton per siklus, jadi kurang lebih Rp13 miliaran sekali angkat. Jadi satu tahun kita dapatkan sekitar Rp45 miliar,” katanya.

Saat ini, tambak udangnya baru terdiri satu klaster yang siap panen. Iksan berencana akan membuat kembali 5 klaster ke depannya. Selain itu, ia juga menargetkan akan memperluas lahan usahanya hingga 1000 hektare yang diperkirakan dalam satu kali panen bisa menghasilkan Rp1,5 triliun.

Bahkan Iksan akan menjamah semua yang berkaitan dengan usaha tambak udangnya ini dari hulu hingga ke hilir. Seperti, memproduksi pakan, pengolahan, produksi, yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pasar udang.

Indonesia saat ini baru memenuhi sekita tujuh persen pasar udang dunia. Bahkan Indonesia menduduki peringkat ke-4 dalam pasar udang, di bawah Ekuador, India dan Vietnam. Padahal garis pantai Indonesia lebih luar dibandingkan negara lain, sekitara 86.000 km.

Iksan mengaku belajar bisnis dari mentornya, yang diawalinya dengan mengasong saat pertama kali berhijrah dan meninggalkan hiruk pikuk dunianya yang keras. Iksan familiar dengan tambak dimulai sejak ia duduk di bangku sekolah dasar (SD) yang saat itu sepulang sekolah tempatnya bermain adalah lingkungan tambak.

Sejak putus Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas satu, Iksan ‘dibuang’ dalam artiannya dititipkan kepada kerabatnya. Di saat itu Iksan bekerja membantu membuat terasi, yang menuruntya hal paling menyenangkan saat itu ketika subuh ia selalu diajak untuk mencari udang.

“Alhamdulillah tempat saya melamun itu dulu ketika dibuang, sekarang lokasinya sudah saya eksekusi. Sudah saya beli sekitar 300 hektare, sebagina digunakan sebagai tempat wisata mengrove oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dan lokasinya atas nama saya sendiri,” jelasnya.

Iksan mengenang saat ia melamuni nasibnya dulu. Dari tempatnya yang berada di perbatasan Bekasi-Jakarta, ia sering berharap tempatnya saat tinggal dulu bisa penuh dengan cahaya penerangan seperti Jakarta.

“Saya betul-betul melamun tentang kemakmuran, indahnya hidup di kota dan saya sampai saat itu menangis menginginkan itu,” kenangnya.

Iksan bercita-cita, akan membeli beberapa tempat yang pernah menjadi saksi pelamunannya. Termasuk gubuk reyot yang dalam kisahnya sempat ia tinggali itu, kini sudah menjadi gedung lima lantai.

Rumah orangtuanya yang dulu kecil dan menjadi cemoohan tetanggnya, kini sudah menjadi yayasan dengan enam rumah guru dan pengurus. Selain itu, juga ia mendirikan sarana pendidikan seperti TK, TPQ dan SD, semuanya gratis.

“InsyaAllah di akta notarisnya ini nanti akan sampai ke perguruan tinggi. Lahannya juga sudah siap dan sudah saya bebaskan semua,” terangnya.

Iksan saat ini menampung sebanyak 60 orang dalam satu klaster tambak udang. Ia berharap karyawannya ini akan terus bertambah seiring bertambah pula lahan tambak udangnya.

Menurutnya, jumlah karyawan ini baru terhitung mereka yang membantu di proses produksi. Ia bahkan belum menghitung berapa banyak karyawan nantinya ketika mulai masuk ke dalam industri hulu-hilir usahanya yang diperkirakan akan mencapai ribuan karyawan.

Kini Iksan menjalani hidupnya dengan lebih baik. Bahkan kebaikannya ini juga dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya dengan ikut membantunya mengurus usaha tambang udang. Ia meyakini setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing ketika ada niat dan usaha untuk berubah.

Menurutnya peran dan doa orang tua sangat dibutuhkan bagi setiap orang. Sejauh apa pun kenakalan dosa seorang anak, orang tua memiliki peran yang penting karena melalui doanya maka turunlah ridho Allah untuk memberikan jalan ke arah yang lebih baik.

“Walaupun saya dulu terlibat dalam banyak sekali masalah, cacian dan hinaan juga saya dapatkan dari orang sekitar, tapi ibu saya tidak pernah mengatakan saya anak yang brengsek. Ibu saya tidak pernah mengecilkan mental saya, bahkan sambil menyisirkan rambut saya dulu saat masih kecil, dia selalu bilang ‘Raja ini anak emak nanti,” kenangnya.

Saat ini semua doa orang tua dan usaha Iksan terbukti. Ia berhasil menunjukkan perubahan hidupnya menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk orang banyak.

(zul)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 31 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)