LANGIT7.ID-Umni Afifah mungkin tak menyangka, kehidupannya bisa seperti saat ini. Dari anak pedagang keliling, ia kini menyandang predikat lulusan terbaik Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
Umni berkisah, kalau ia lahir dan tumbuh dalam keluarga pedagang keliling skala kecil. Selain itu, pendidikan kedua orangtuanya juga tidaklah tinggi.
Ayahnya, Mistoro dan ibunya, Niswati, hanya menempuh pendidikan hingga tingkat menengah pertama.
"Meski begitu, mereka sangat mendukung pendidikan anak-anaknya. Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, saya adalah salah satu yang pertama berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana dan kemudian magister," ujarnya menceritakan kehidupannya.
Tinggal di desa di wilayah Purbalingga, Umni merantau ke Kota Purbalingga sejak usia 12 tahun demi cita-cita menempuh pendidikan tinggi.
"Saya lolos seleksi dan diterima di SMP Negeri 1 Purbalingga, sebuah sekolah bertaraf internasional pada masa itu berkat prestasi dan hasil tes seleksi yang cemerlang," ungkapnya.
Setelah lulus dari SMP, ia melanjutkan ke SMA Negeri 1 Purbalingga.
Selesai menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Purbalingga, ia melanjutkan pendidikan di S1 Pendidikan Agama Islam UMP. "Saya bertekad untuk mencapai prestasi sehingga bisa mendapatkan beasiswa," katanya.
Di UMP catatan prestasi Umni membanggakan. Ia terlibat dalam berbagai lomba mewakili kampus dari tingkat nasional hingga internasional.
"Kuliah di UMP membuat saya sangat bersyukur, terutama ketika saya menjadi mentor dalam kegiatan mentoring. Kata-kata motivasi dari seorang dosen, "kita tidak berjuang sendirian, tetapi ada orang tua yang senantiasa ikut berjuang", sungguh membekas dalam pikiran saya," ujarnya.
Ujian saat Covid-19 Pada tahun 2019, saat pandemi COVID-19 melanda, ekonomi keluarga berada di titik terendah. Ayahnya yang berjualan di Riau, yang biasanya hanya berangkat selama satu atau dua bulan di sana, kali ini terpaksa harus tinggal lebih dari dua bulan.
Kondisi paling menyedihkan adalah ketika ayah menceritakan bahwa ia menerima uang dari pembeli melalui jendela, di tengah hujan, dan harus mengambilnya di teras rumah. Bahkan, saat kondisi jalan rusak parah dan kabut asap tebal menyelimuti, ayah saya sering jatuh, penglihatannya tidak jelas dan kesulitan bernapas.
"Kondisi tersebut menjadi pemicu bagi saya untuk lebih semangat belajar, agar orangtua saya tidak lagi merasakan kesulitan," katanya.
Melalui perjuangan keras dan prestasi sehingga bisa mendapatkan beasiswa, Umni menjadi lulusan terbaik.
"Saat yudisium tingkat fakultas, saya tidak menyangka bahwa nama saya dipanggil sebagai lulusan terbaik. Saya menangis tersedu-sedu saat itu. Saya mengirim foto kepada orang tua saya saat menerima penghargaan tersebut, dan ayah saya yang sedang di Riau," ungkapnya.
Saat ini, Umni menjalani profesi sebagai guru, pekerjaan yang bahkan sudah didapatkannya sebelum wisuda.
"Di balik keterbatasan dan penuh perjuangan untuk menempuh pendidikan hingga berpretasi menjadikan saya memiliki kalimat motivasi untuk diri sendiri bahwa saya tidak dapat memilih dilahirkan dari keluarga yang seperti apa, namun saya dapat memilih akan dibawa kemana arah keluarga saya. Saya yakin melalui pendidikan inilah yang dapat mengubah arah keluarga saya." (*)
(hbd)