LANGIT7.ID-Jakarta; Lebih dari 30 warga Palestina dilaporkan tewas dan puluhan lainnya luka-luka pada Minggu (1/6) di Gaza bagian selatan, tepatnya dekat lokasi distribusi bantuan kemanusiaan yang dikelola oleh perusahaan asal Amerika Serikat, menurut keterangan dari pejabat kesehatan setempat.
Para saksi mata menyebut tentara Israel melepaskan tembakan saat warga berkumpul untuk mengambil makanan. Namun militer Israel membantah telah menembak warga sipil, dan perusahaan AS yang mengelola lokasi itu juga mengklaim bahwa distribusi bantuan berjalan tanpa masalah.
Mengutip Reuters, pihaknya belum bisa memverifikasi secara independen apa yang sebenarnya terjadi.
Kepala badan pengungsi PBB untuk Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, lewat unggahan di X menyebut bahwa tim medis internasional di Gaza melaporkan adanya “korban massal termasuk puluhan yang luka dan tewas di antara warga sipil yang kelaparan akibat tembakan senjata.”
Insiden ini menjadi yang terbaru dari serangkaian kejadian yang menunjukkan betapa tidak amannya distribusi bantuan di Gaza, meskipun Israel sempat melonggarkan blokade yang berlangsung hampir tiga bulan.
“Banyak yang jadi korban, situasinya tragis di sini. Saya sarankan siapa pun agar tidak mendekati titik distribusi bantuan. Cukup sudah,” kata paramedis bernama Abu Tareq di Rumah Sakit Al-Nasser, Khan Younis.
Badan Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan bahwa tim mereka telah mengevakuasi 23 jenazah dan 23 korban luka dari lokasi distribusi bantuan di Rafah.
Otoritas kesehatan setempat menyatakan setidaknya 31 jenazah sudah tiba di RS Al-Nasser.
Sementara itu, Gaza Humanitarian Foundation (GHF)—lembaga berbasis di AS yang mengoperasikan lokasi bantuan di Rafah—menyatakan tak ada korban jiwa maupun luka di sekitar lokasi mereka, dan mengklaim semua distribusi bantuan berjalan aman. Mereka bahkan menuduh kelompok Hamas menyebarkan “laporan palsu.”
GHF merilis rekaman video tanpa tanggal yang disebut menunjukkan proses distribusi bantuan berlangsung tertib. Namun Reuters belum bisa memastikan keaslian video tersebut, meski memang terlihat warga berkumpul mengambil kotak-kotak bantuan.
Investigasi Awal MiliterIsrael mengatakan hasil investigasi awal menunjukkan bahwa pasukan mereka tidak menembak warga sipil yang berada di dekat atau di dalam lokasi distribusi bantuan.
GHF sendiri didukung pemerintah AS dan Israel, dan baru mulai menyalurkan bantuan ke Gaza bulan lalu dengan cara yang memotong jalur distribusi lembaga-lembaga kemanusiaan tradisional.
Namun organisasi ini menuai banyak kritik dari komunitas internasional. Pejabat PBB menyebut kehadiran GHF justru bisa memicu pemindahan paksa warga Palestina dan memperburuk konflik.
Menurut warga dan tenaga medis, tentara Israel melepaskan tembakan dari arah darat ke arah crane yang ada di dekat lokasi, dan sebuah tank juga disebut menembak ke arah kerumunan ribuan orang yang sedang menuju titik distribusi bantuan. Rekaman video Reuters memperlihatkan sejumlah ambulans membawa korban luka ke RS Al-Nasser.
Pemerintah Gaza yang dikendalikan Hamas menuduh Israel menggunakan bantuan sebagai senjata, dengan cara "memancing warga yang kelaparan ke lokasi terbuka yang sudah diawasi militer untuk kemudian dijadikan sasaran."
Israel membantah tuduhan bahwa mereka membuat warga Gaza kelaparan. Mereka justru menyebut sedang memfasilitasi pengiriman bantuan, termasuk lewat GHF dan sejumlah truk bantuan lain yang diizinkan masuk ke Gaza.
Presiden AS Donald Trump bulan lalu pernah mengatakan bahwa banyak warga Gaza yang "kelaparan."
Di sisi lain, Israel menuding Hamas mencuri bantuan dan menggunakannya untuk memperkuat kendali mereka di Gaza. Hamas membantah tudingan ini dan bahkan mengaku telah mengeksekusi sejumlah pelaku penjarahan bantuan.
Seorang perempuan bernama Reda Abu Jazar mengaku kakaknya tewas saat sedang menunggu bantuan makanan di Rafah. “Tolong hentikan pembantaian ini, hentikan genosida ini. Mereka sedang membunuh kami,” katanya saat menghadiri pemakaman kakaknya bersama para pria Palestina lainnya.
Lazzarini dari UNRWA juga mengecam peristiwa ini, dan menulis bahwa “distribusi bantuan kini telah menjadi jebakan maut.” Ia menegaskan bahwa distribusi bantuan seharusnya hanya dilakukan oleh PBB, termasuk lewat UNRWA.
Bulan Sabit Merah juga melaporkan 14 warga Palestina terluka di lokasi distribusi bantuan lain di Gaza tengah, yang juga dikelola GHF.
Perundingan Gencatan Senjata MandekSementara itu, Israel dan Hamas saling menyalahkan atas mandeknya upaya baru dari negara-negara Arab dan AS untuk menengahi gencatan senjata sementara dan pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina.
Hamas menyebut pada Sabtu bahwa mereka sedang meminta revisi atas proposal gencatan senjata yang diajukan AS, tapi utusan Trump, Steve Witkoff, menyebut tanggapan Hamas itu “sangat tidak bisa diterima.”
Mesir dan Qatar mengklaim masih berusaha mempertemukan pandangan kedua pihak agar bisa mencapai kesepakatan.
Puluhan warga Gaza pada Minggu mengantar pemakaman seorang dokter, Hamdi al-Najjar, yang sebelumnya terluka parah dalam serangan udara pada akhir Mei lalu. Serangan itu juga menewaskan sembilan dari sepuluh anaknya. Al-Najjar meninggal dunia pada Sabtu malam.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka melakukan serangan udara di Khan Younis pada hari itu, namun mereka menyebut targetnya adalah kelompok bersenjata yang berada di bangunan dekat posisi tentara Israel.
Mereka mengklaim sudah lebih dulu mengevakuasi warga sipil dari area tersebut sebelum operasi dilakukan, tapi kini sedang menyelidiki kemungkinan ada korban sipil yang tidak terlibat.
Israel memulai serangan besar-besaran ke Gaza setelah serangan Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan membuat 251 orang diculik ke Gaza, berdasarkan catatan Israel.
Sejak saat itu, serangan balasan Israel telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza, menewaskan lebih dari 54.000 warga Palestina, dan memaksa jutaan orang tinggal di tenda pengungsian seadanya.
(lam)