LANGIT7.ID-Arab Saudi; Pemerintah Arab Saudi dan Mesir telah mengumumkan proyek jembatan senilai miliaran dolar yang akan menghubungkan Afrika dan Asia di seberang Laut Merah.
Meski pertama kali diumumkan oleh Raja Salman dari Arab Saudi pada 2016, jembatan ini diperkirakan menelan biaya sekitar Rp60 triliun sepenuhnya didanai oleh Kerajaan Arab Saudi. Jembatan ini akan menghubungkan Ras Hamid di Arab Saudi dengan Sharm El-Sheikh di Mesir, melintasi Selat Tiran.
Menurut The Sun UK, proyek ambisius yang dijuluki
"Jembatan Musa" ini telah mencapai kemajuan signifikan setelah Mesir mengonfirmasi penyelesaian fase perencanaannya.
Menteri Transportasi Mesir, Kamel al-Wazir, mengungkapkan pekan lalu bahwa seluruh pekerjaan perencanaan telah selesai.
"Kami telah menyelesaikan perencanaan jembatan antara Mesir dan Arab Saudi dan siap melaksanakannya kapan saja—baik sebagai jembatan atau terowongan," kata al-Wazir.
Saat ini, transportasi laut antara kedua negara dikelola oleh Arab Bridge Maritime Company, yang mengoperasikan 13 kapal kargo dan penumpang.
Jembatan untuk Memperlancar Ibadah Haji Masa DepanJembatan baru ini diharapkan dapat meningkatkan logistik, pariwisata, dan perdagangan di kawasan tersebut.
Proyek ini juga akan melengkapi pengembangan NEOM oleh Arab Saudi—sebuah proyek kota futuristik yang terletak di dekat perbatasan barat laut Kerajaan.
Jembatan ini akan menjadi rute alternatif untuk menuju Mekah, berpotensi melayani lebih dari satu juta peziarah setiap tahun.
Proyek ini disebut sebagai pencapaian bersejarah dalam bidang teknik dan diplomasi.
Pada 2016, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi mengusulkan agar struktur ini dinamai "Jembatan Raja Salman bin Abdulaziz" sebagai penghormatan kepada penguasa Saudi.
Namun, publik lebih akrab menyebutnya
"Jembatan Musa" karena lokasi simbolis dan makna budayanya.
Sebelumnya, rencana pembangunan jembatan di Laut Merah telah dibahas sejak 1988, tetapi tertunda karena berbagai pertimbangan politik.
Sementara itu, proyek
NEOM Arab Saudi, yang diperkirakan menelan biaya
Rp7.500 triliun, terus menghadapi pengawasan ketat dari dunia internasional.
Dikonsep sebagai kota futuristik berbasis teknologi, proyek ini telah mengalami penundaan, kontroversi internal, dan kritik terkait isu hak asasi manusia. Di balik kemegahannya, para kritikus memperingatkan praktik-praktik yang meresahkan.
Namun, **Jembatan Musa** mungkin menawarkan visi yang lebih mempersatukan—menggabungkan simbolisme, strategi, dan pembangunan regional dalam satu struktur yang membentang di antara dua benua.(*/saf/businessinsiderafrica)
(lam)